drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Main Kayu


Oleh : drh.chaidir, MM

Tak ada cerita yang lebih seru minggu-minggu terakhir ini, kecuali cerita tentang Pansus Kepri. Pansus Kepri adalah Panitia Khusus DPR-RI yang membahas usul pembentukan Propinsi Kepulauan Riau. Cerita ten-tang persidangan Pansus Kepri di media lokal, telah me-ngalahkan cerita tentang tewasnya Panglima Gerakan Aceh Merdeka, Tgk Abdullah Syafii. Luar biasa elaborasinya.

Rapat Pansus Kepri tanggal 24 Januari yang baru lain, memang seru ibarat pertandingan sepak bela, mereka sudah "main sore" alias "main kayu", dan diiringi pula sorak-sorai penonton yang membakar emosi. Maka saling tebas pun tak terhindarkan. Tidak jelas lagi, yang mana kaki yang mana bola, bahkan yang mana kepala. Wasit pun ikut-ikutan "hanyut".

Menyaksikan arena yang hiruk pikuk itu, budayawan kita, Al Azhar, yang memberikan "siaran pandangan mata" kepada saya. la menulis gundah gulana dalam SMS-nya: "Bang, berikan aku lampu siang Socrates itu, pinjamkan aku, agar kucari lagi manusia di tengah kerumunan itu," ratapnya. Lama saya termenung mencari makna ungkapan yang puitis itu. Mata saya memandang ke layar kaca, menatap Hanjoyo Putro, Panda Nababan, dan kawan-kawan dari Pansus Kepri, tetapi pikiran saya menerawang dalam pengembaraan olah verbal, mencari deskripsi yang paling tepat untuk menggambarkan suasana. Banyakbahan renungan yang layak dijelajahi apabila kita menonton rapat Pansus Kepri tersebut. Pengungkap-an rasa senang dan tidak senang demikian vulgarnya, se-hingga agak berdenging telinga mendengarnya, apalagi bagi telinga yang sudah terbiasa dengan pantun-memantun ini. Adakah itu manifestasi atau hanya sebuah indikasi dari demokrasi. Bukankah kata yang bernama "hak" itu tidak hanya menjadi milik kita sendiri, dan hal yang sama juga berlaku untuk kata "kewajiban". Pasangan kata hak dan kewajiban adalah pasangan sehidup semati. Bila hak saja yang mengedepan, moyang kita bilang itu bernama otoriter, dan kalau kewajiban saja yang ada itu na-manya budak belian. Dalam demokrasi, bukankah cantik jika kita tidak emosi jiwa manakala orang lain mengatakan "tidak" terhadap gagasan kita?

Sederetan panjang pertanyaan bisa kita susun menyaksikan jalannya rapat dan hal-hal yang inheren. Betapa kejujuran sudah semakin langka dap akal budi semakin menjauh. Demokrasi kita demokrasi kepentingan, politik kita politiking. Permainan kuda-kudaan semakin menjadi-jadi, namun tidak jelas siapa menunggangi siapa. Siapa yang menjadi kuda Troya dan siapa yang menjadi Menelausnya. Merespon sewajarnya sebuah kehendak yang berlebihan adalah sebuah sikap yang arif. Menarik, jika kita mengelaborasi pemikiran penyair Rendra berikut, "Kewajaran bukanlah sekadar apa yang boleh dilakukan, tetapi apa yang harus dilakukan." Misalnya, kewajaran orang hidup untuk menghargai kerukunan. Hal ini menurut Rendra, tidak hanya berarti bahwa orang hidup boleh menghargai kerukunan, tetapi orang hidup harus menghargai kerukunan. Dan jika ia tidak menghargai kerukunan, ia dianggap tidak wajar. Analog dengan tesis itu, pemain sepak bola boleh "main kayu", tapi apakah ia harus "main kayu". Kalau "main kayu" menjadi sebuah keharusan, maka itu menjadi tidak wajar.

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa kemajuan berpikir manusia dan perubahan-perubahan cepat yang terjadi di sekitar kita telah membuat hidup semakin kompleks. Jalan hidup tidak lagi linear, tetapi berliku-liku. Setiap individu memberikan respon yang berbeda-beda terhadap perubahan lingkungannya. Ada yang apatis, ada yang wajar, ada yang reaktif, ada pula yang amat sangat reaktif; pantang kesenggol dia sudah meninju.

Merespon perilaku Pansus Kepri, kita tidak perlu berkecil hati, apalagi merajuk dan membawa diri. Tak ada gunanya. Petuah orang tua-tua agaknya layak kita renungkan, "Sebanyak-banyaknya rumput jelatang, lebih banyak lagi rumput hijau yang lembut. Kebiruan langit tetap lebih luas daripada awan gelap." Kalau orang-orang baik tidak lebih banyak daripada orang yang tidak baik, maka kita tak akan pernah merdeka. Analog dengan itu kita tetap percaya, insan-insan yang memiliki kecerdasan emosional tetap lebih banyak jumlahnya di DPR-RI kita.

Hal yang perlu kita lakukan adalah memperkuat rasa persatuan, memperkuat rasa keterikatan dalam kebersamaan (societal cohesiveness), sehingga kekuatan kita menjadi solid. Laksana sapu lidi kan? Kesatuan pemikiran dan pandangan akan dapat dicapai, jika kita membina secara mandiri apa yang selalu disebut para budayawan kita sebagai "Semangat Ke-Riau-an" atau "Riauness" da-lam diri kita masing-masing. Jika semangat Ke-Riau-an itu dapat kita tumbuhkan, maka semua kita akan serentak maju demi Riau, tak peduli latar belakang ras atau etnis kita masing-masing. Bukankah semua etnis di Riau ini sudah berikrar, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung? Mari kita bangkit sebagai orang Riau, berjuang sebagai orang Riau, dan menang sebagai orang Riau.

Secara gamblang kita dapat belajar bagaimana Aceh dan Papua berhasil mendapatkan secara maksimal apa yang menjadi tuntutan mereka. Semua itu mereka da-patkan, karena mereka berhasil menyatukan misi dan visi dalam sebuah perjuangan yang solid. Kita akan mendapatkan hal yang sama, jika kita juga menyatukan visi, misi, serta memiliki semangat yang sama, baik secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya, di atas panggung Indonesia. Kehendak bersama, inilah kunci dan ini juga yang hams kita lakukan untuk Riau. Jakarta tidak usah khawatir, asal elemen konflik di Riau ini tidak dikompor-kompori, daerah ini akan aman tenteram. Dan orang Jakarta pun bisa leluasa datang, berbisnis, dan tidur nyenyak di Riau. Syaratnya tentu, jangan seperti "Belanda minta tanah".

Kita harus sama-sama menolak hasil kompetisi yang tidak adil sebagai bagian, dan menyatakan tidak sepakat untuk menjadikan kekuasaan dan kesewenang-wenang-an sebagai langit tempat berharap. "Raja adil raja disem-bah, Raja zalim raja disanggah".

Ungkapan filsuf Thomas Carlyle agaknya layak dielaborasi; tugas besar kita bukanlah melihat yang samar-samar di kejauhan, tetapi mengerjakan yang sudah berada di depan mata. Mari kita bergandeng tangan memperjuangkan Riau, karena sebuah keberhasilan hanya akan tercapai melalui dukungan semua unsur. Belasan abad yang lampau, pada masa keemasan Islam Spanyol, di pintu gerbang masuk Universitas Andalusia tertulis kata-kata mutiara sebagai berikut, "Sebuah negara yang baik ditunjang empat hal: keadilan para pemimpin, kebijaksanaan kaum cendekiawan, keperkasaan orang-orang yang berani, dan doa orang-orang yang jujur". Jika kita semua di Riau menggabungkan empat hal di atas maka sesungguhnya kitalah pemilik kemenangan itu.


(3 - 9 Februari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 162 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/100-Main-Kayu.html