drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menertawakan Chaidir | Bagian : 1

Bertekuk Lutut


Oleh : drh.chaidir, MM

Bertekuk Lutut

MERASA sebagai seorang pemeluk agama yang baik, rajin salat, bisa mengaji, anak seorang imam pula, Chaidir menganggap tidaklah perlu terlalu repot mempersiapkan diri menghadapi ujian agama semester I. Hasilnya mencengangkan: nilainya D, alias tidak lulus!



Chaidir penasaran, karena pelajaran agama bukan hal asing baginya. Dengan gagah berani Chaidir menemui dosen agamanya untuk memprotes kenapa dia tak lulus.

"Bapak silahkan uji saya. Mengaji Al Quran saya bisa, salat lima waktu, puasa, tidak pernah tinggal sejak di bangku SD," gugat Chaidir dengan nada agak tinggi.
"Nak, kamu pemain sepakbola?" tanya sang dosen lembut.
"Ya, saya pemain utama di fakultas."
"Nah, sekarang saya tanya, berapa ukuran lapangan sepakbola?"

Chaidir ragu menjawab,

"Kok itu yang Bapak tanyakan?"
"Berapa lebar dan berapa tingginya gawang?"

Chaidir terdesak.

"Nah yang ditanyakan dalam ujian agama bukan kamu pintar baca Al Quran atau tidak, rajin saiat atau tidak, tapi ilmu agama. Sudah, sana pulang, belajar, besok ikut ujian ulangan. Al Quran saja kamu khatam, masak mata kuliah agama kamu tidak bisa, ringan itu," kata sang dosen memberi semangat.
Chaidir bertekuk lutut.


Tulisan ini sudah di baca 147 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Menertawakan Chaidir

  
  


http://drh.chaidir.net/buku/Menertawakan-Chaidir/238-Bertekuk-Lutut.html