drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menertawakan Chaidir | Bagian : 0

Sekapur Sirih Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

SUATU siang di Melaka, Malaysia, saya membeli buku "David Beckham Jokes Book", sebuah kumpulan humor tentang David Beckham. Buku itu memuat anekdot - anekdot David Beckham bersama istrinya yang baru hijrah dari Inggris ke Madrid, Spanyol.

Buku itu dibaca anak saya, kemudian dipinjam temannya, kemudian dipinjam. lagi oleh temannya teman anak saya, lalu teman - temannya tersebut meminjamkan lagi kepada teman - temannya, sampai buku tersebut tak terlacak lagi. Raiblah.

Saya masih ingat salah satu anekdot dalam buku itu. Suatu hari, ketika baru pindah ke Madrid, David Beckham bersama istrinya masuk ke restoran Spanyol, ingin mencoba masakan khas setempat. David memesan satu menu yang agak aneh, satu porsi untuk berdua. Tak lama kemudian makanan yang dipesan datang, dua bulatan masing - masing sebesar telur bebek.

"Apa ini?"tanya David.
"Itu torpedo banteng yang kalah dalam pertandingan melawan Matador," kata pelayan. Mereka pun bersantap.
"Ternyata enak," komentar David Beckham.
Beberapa hari kemudian David bersama istrinya kembali ke restoran yang sama dan memesan menu yang sama. Mereka berdua kembali menyantapnya. Setelah makanannya habis,
David Beckham memanggil pelayan dan bertanya, "Kenapa torpedo kali ini ukurannya lebih kecil?"
Dengan tenang pelayan menjawab, "Kadang - kadang yang kalah bukan bantengnya, tapi matadornya,Tuan!"
Terinspirasi oleh "kekalahan" David Beckham tersebut, saya berfikir bukankah saya juga memiliki banyak kekalahan sejenis, kisah - kisah singkat yang agaknya menarik untuk diceritakan, atau ditertawakan?

Seorang dokter hewan yang terdampar di belantara politik tentulah menarik untuk ditertawakan, atau menertawakan diri. Karena jtulah, agaknya, suatu kali Prof. DR Muchtar Ahmad, Rektor Universitas Riau, suatu kali mengatakan, " Dokter Hewan Chaidir ini bisa menjadi apa saja kecuali menjadi Dokter Hewan!"

Ketika pada 1999 PDIP, partai politik yang berlambang banteng gemuk itu, memenangkan pemilu, saya (yang dari Golkar) menemukan sebuah anekdot tentang keberadaan saya di panggung politik: banteng - banteng itu memerlukan seorang dokter hewan agar tetap sehat.

Ketika hal ini saya sampaikan dalam beberapa sambutan tidak resmi, responsnya positif sebagai ice breaking, hadirin tertawa dan saya pun lega karena kawan - kawan dari PDIP tidak tersinggung.

"Untung Papa dokter hewan, bukan dokter orang," kata anak saya suatu malarn ketika pulang dari praktek dokter untuk berobat.
"Kenana?" tanya saya: heran, "Karena. kalau Papa dokter orang, kasihan, prakteknya sampai jauh malam," jawabnya tanpa dosa.
Anak saya tentu benar, dia tidak tahu kalau praktek dokter itu ibarat mesin uang. Papanya tidak praktek, tapi kan tidak punya mesin uang.

Tidak seluruh anekdot dalam buku ini merupakan kisah nyata. Beberapa di antaranya dielaborasi dari keadaan sehari - hari karena terdorong ingin menertawakan diri sendiri. Interaksi dengan para wartawan dan mahasiswa cukup banyak memberikan inspirasi karena, dalam kapasitas sebagai Ketua DPRD Riau, saya harus selalu berhubungan dengan kelompok tersebut. Interaksi dengan kelompok wartawan dan mahasiswa bolehlah disebut "ngeri - ngeri sedap".

Betapa tidak. Sedikit saja pernyataan saya melengkung, besoknya langsung dimuat sudah dalam keadaan terpelintir habis. Biasanya wartawan dengan enteng akan bilang, bahwa itu diubah oleh redaksi. "Maaf, Bang," kata mereka. Dalam hati saya berkata, entah buaya entah katak, entah iya entah tidak. Tapi ya sudah lantaklah. Wartawan mau dilawan?

Lain wartawan lain mahasiswa. Mahasiswa sering kali minta waktu untuk mendiskusikan sesuatu dengan serius, dan diskusi panjang lebar itu biasanya ditutup dengan menu khas: sehuah proposal ringan.

Jurus paling ampuh keJompok mahasiswa yang membuat saya sering bertekuk lutut dan tersenyum dalam hati adalah, "Kami tidak minta solusi kepada lembaga, Bang, kami minta solusi kepada abang pribadi." Kalau sudah begini, saya pun menyerah, tak penuh ke atas, tak penuh ke bawah. Kepada siapa lagi mereka bermanja - manja minta "solusi"?

Terus terang, keluarga di rumah sangat mendukung, sehingga suasan selalu ceria penuh humor. Suatu ketika handphone saya mengalami gangguan, secara kebetulan masalahnya sama dengan handphone istri saya.

Tanpa fikir panjang kami membawanya ke tukang reparasi handphone, dan hanya satu menit permasalahannya teridentifikasi. Gangguan ternyata bukan pada pesawat handphone Anda, tapi pada rekening yang belum dibayar. "Kasihaaaan deh lu," kata isteri saya sambil menggoyang jari telunjuknya.

Saya kemudian digiring makan pecal lele di warung, saya tak dapat menolak karena sang istri mengancam, kalau tidak mau makan pecal lele, dia akan beberkan kepada wartawan bahwa ketua tidak punya uang untuk membayar rekening handphone. Jurus yang sama kemudian digunakan pula oleh mertua untuk menertawakan sang Ketua yaag suatu ketika ketinggalan pesawat sehingga gagal terbang.

"Lain kali kita beli pesawat terbang," kata saya.
Secepat kilat sang mertua mengeluarkan jurus pamungkas, "Jangan banyak omong, diberi jeep Volvo saja tidak berani, apalagi beli pesawat terbang."
"Kalau diberi mentahannya, saya mau," kilah saya tak kalah cepatnya. Kami pun tertawa berderai - derai.

Judul kumpulan anekdot ini sengaja saya pilih "Menertawakan Chaidir", saya fikir itu lebih sesuai daripada "Menertawakan Wartawan", apalagi "Menertawakan Mahasiswa". Takuuut. Yang bisa menertawakan mahasiswa itu hanya dosen.

Bukankah ada pemeo, mahasiswa takut sama dosen, dosen takut sama rektor, rektor takut sama menteri, menteri takut sama presiden, dan presiden takut sama mahasiswa? Karena itu, saya kira, lebih baiklah saya menertawakan diri sendiri sebelum ditertawakan orang. Tapi, kalau dengan membaca buku ini orang lain ikut tertawa, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang oleh pemerintah karena dicurigai sebagai menertawakan.

Dengan selesainya buku ini, saya harus ucapan terima kasih kepada Tuan Fakhrunnas MA Jabbar, budayawan dan komedian Riau yang telah memberikan kata pengantar cantik sekali, bahkan kata pengantarnya lebih penuh humor daripada isi bukunya sendiri. Saya jadi ragu, apakah Tuan Fakhrunnas ini budayawan yang pelawak atau pelawak yang budayawan. Tapi tak apalah. Gus Dur pun pernah mengatakan dalam suatu bincang - bihcang televisi dengan Jaya Suprana, bahwa karena dia pelawak maka dia dipilih oleh MPR menjadi Presiden RI.

Ucapan terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada Hang Kafrawi, yang telah bertungkus lumus mengedit dan memberikan polesan di sana - sini, dan tentu saja ucapan terima kasih saya peruntukkan pula bagi Yayasan Pusaka Riau yang telah lama berada dalam penantian dengan penuh kesabaran untuk menerbitkan buku ini.

Dan, last but not least, kepada rekan - rekan wartawan dan mahasiswa, saya harus menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan kritis yang telah diberikan, dukungan yang telah memberikan kehati - hatian bagi saya dalam bersikap. Saya merasakan kita selama Ini saling menghargai posisi masing - masing yang sebdnarnya hanya beda - beda tipis. Dalam fungsi kontrol kita sama. Bedanya, selaku Ketua DPRD Riau, saya dibelikan jeep Volvo tapi saya tolak, sementara wartawan dan mahasiswa saya yakin menolak juga, tapi tidak ada yang membelikannya.

Wassalam..



Pekanbaru, Agustus 2005


Tulisan ini sudah di baca 165 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Menertawakan Chaidir

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Menertawakan-Chaidir/196-Sekapur-Sirih-Penulis.html