drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Menertawakan Chaidir | Bagian : 0

Sebuah Pengantar


Oleh : Fakhrunnas MA Jabbar

ALKISAH, suatu kali, raja Baghdad sedang bermuram durja. Hatinya gundah gulana. Sang Raja memerintahkan para hulubalang untuk menghibur dirinya agar bisa tersenyum dan tertawa. Berdatanganlah sekitar 99 orang pelawak untuk adu kemampuan dengan taruhan hadiah yang sangat besar: dapat memiliki separuh harta kerajaan. Namun, bagi paiawak yang gagal membuat raja tertawa, maka hukum pancunglah imbalannya. Konon, setelah semua pelawak mengeluarkan kemampuannya, hingga kepala pelawak yang ke - 99 pun menggelinding, raja Baghdad tetap tak tergoda untuk tertawa. Tapi, di saat sang Raja menyaksikan 99 penggalan kepala itu berserakan dengan berlumuran darah didepannya, mukjizat terjadi: raja itu tertawa terkekeh - kekeh... ..Betapa mahalnya nilai sebuah tawa.

Analog dengan itu_dalam konteks emosional yang lain_dapat disandingkan saat kaisar Nero membakar kota Roma. Maksudnya hanya sederhana: ingin mendapatkan inspirasi berharga untuk sebuah lukisannyayang amat naturalis.

Logika kontradiktif Itulah kata humoris Indonesia, Jaya Suprana. Suprana selanjutnya menambahkan, "tidak heran apabila suasana logika kontradiktif itu sendiri memang merupakan salah satu elemen hakiki tertawa. Tanpa terlalu jelas, apakah tertawa itulah logika kontradiktif, atau kondisi logika kontradiktif itulah yang menghadirkan tertawa." (lihat Jurnal Kebudayaan Kalam 7I1996).

Tertawa memang bisa terlahir dari suasana yang tidak disengaja. Sesuatu yang muncul secara tiba - tiba setelah peristiwa atau suasana tidak menemukan logika. Oleh karenanya, orang bisa menertawakan sesuatu karena kealpaan, kebodohan, ketidaktahuan, kedunguan, atau sesuatu yang sengaja diplesetkan untuk mendapatkan efek lucu yang menggelikan hati. Bahkan kini, hal - hal yang mengundang kelucuan itu menjadi bumbu penyedap untuk mencairkan suasana (ice breaking) bagi para tokoh dalam menyampaikan sambutan atau pidato.

Dalam suasana seperti itu, buku Chaidir "Menertawakan Chaidir" ini rrrerupakan oto - kritik yang mengusung kejadian - kejadian dan dialog keseharian yang mendedahkan cermin kaca bagi siapa saja untuk menertawakan bahkan menyindir diri Sendiri. Segala suasana terakumulasi Secara terbuka guna menyadarkan siapa saja yang membaca buku ini untuk ditertawakan oleh dirinya Sendiri. Itu bermakna, tertawa itu memang milik Semua orang. Begitu pula, peluang setiap orang untuk menertawakan atau ditertawakan sama saja.

Banyak jargon yang muncul dalam menyikapi soal tertawa ini. Ada yang mengatakan "tertawa itu sehat". Sebab, menurut Jaya Suprana lagi, tertawa merupakan suatu refleks motorik yang diproduksi oleh kontraksi tidak kurang dari 15 otot yang berada di kawasan wajah manusia yang terkoordinir dalam pola - pola streotipikal dan diiringi dengan hambatan pada pernapasan.

Jargon "tertawa itu sehat" tak sepenuhnya benar bila dilakukan di ruang dan waktu yang keliru. Misalnya, saat akad nikah, sumpah jabatan, upacara bendera dan momentum serius lainnya. Sulit dipercaya bila sebuah kejadian di desa Bukobia, Tanzania tahun 1972 silam mengungkapkan soal ini. Segenap gadis remaja di desa kecil itu terserang penyakit tertawa tanpa bisa berhenti selama berhari - hari. Realitas itu justru bukan menyegarkan melainkan menimbulkan keletihan yang dahsyat, dan bahkan dapat mengancam jiwa mereka sendiri. Dalam kasus ini, tentu saja, tertawa bisa bermakna tidak sehat.

Situasi ini sangat kontradiktif dengan realitas hari ini. Sebuah berita ringan yang ditayangkan di sebuah TV swasta kita, menampilkan suatu fenomena baru yang terjadi di negara India. Di negara itu justru sedang giatnya dikembangkan "Klub Tertawa" yang bertujuan hanya untuk membiasakan aktifitas tertawa sebagai rutinitas yang menyehatkan. Konon, klub semacam itu sudah terdaftar sekitar 150 buah dan diharapkan para pengurusnya untuk terus berkembang.

Menjelang menyaksikan filem - filem Warkop DK! (Dono, Kasino, Indro_para komedian Indonesia ternama), selalu dipajang sebuah kalimat jargon: "Tertawalah, Sebelum Tertawa itu Dilarang". Ini bermakna bahwa setiap penikmat filem itu harus benar - benar mempersiapkan diri untuk meledakkan tawanya.

Indonesia memang banyak melahirkan folklore (cerita rakyat) yang bermuatan lucu yang bersifat legendaris dari waktu ke waktu. Masih ingat, cerita Si Kabayan di Tanah Pasundan atau Yung Dolah di Bengkalis? Bisa jadi, tradisi folklore semacam itu yang menorehkan guratan riwayat kelucuan di negeri kita. Antorpolog James Dananjaya memang banyak menelaah soal folklore semacam itu, secara tunak menghimpun kisah - kisahnya yang cukup menggelikan hati.

Tradisi melucu ini juga terdedah di belahan duniayang lain dalam rentang waktu yang panjang. Socrates, konon, justru penggemar tertawa. Bahkan Socrates memanfaatkan sense of humor secara sangat menakjubkan bahkan mengharukan karena mengandung makna estetika luar biasa luhur. Sementara muridnya, Plato, bersikap berlawanan dengan Socrates. Plato mengatakan tertawa sebagai sesuatu yang buruk dan destruktif, merendahkan dan merusak seni, budaya, agama dan moral. Pendapat ini didukung Rene Descartes yang melihat di balik tertawa tersembunyi unsur kebencian dan kejahatan yang keji.

Dalam konteks pernyataan Plato ini, di negeri kita, sejumlah orang telah terjerumus pada situasi yang tak dikehendaki ketika terpeleset dalam melucu. Barangkali kita masih ingat bagaimana sebuah grup lawak mahasiswa dari UGM Yogyakarta belasan tahun silam menuai badai protes dari pernuka Islam di Indonesia karena mempelesetkan sepotong ayat Alquran yang berkaitan dengan larangan zina. Mereka kemudian harus berhadapan dengan proses hukum.

Tradisi humor dunia secara kosmopolitan terus puia beriangsung menurut tradisi dan kebiasaan di negara masing - masing. Sebutlah sejumlah tokoh lawak terkemuka seperti Charlie Chaplin dan Mr. Bean. Konon puia, Chaplin melalui filem tersohornya, The Great Dictator benar - benar membuat Adolf Hitler amat benci pada filem itu. Sebab, seluruh tayangan filem itu hanya menertawakan obsesi politis dan penampilan pribadi sang diktator.

Dalam bentangan dunia lucu yang berkembang sejak lama, secara tak disengaja muncul dikotomi yang sangat siginifikan antara "lawak" dan "humor". Lawak lebih identik dengan banyolan dan perbadutan yang lebih menonjolkan penampilan fisik (physical humor). Di kubu itu, dapat ditempatkan para pelawak seperti Charlie Chaplin dan Mr. Bean di pelataran dunia atau pelawak Si Kabayan, Bing Slamet, Benyamin S, S. Bagio, Darto Helm. Miing dkk hingga Mandra.

Di sisi lain, "humor" lebih cenderung menonjolkan kecerdasan mempermainkan logika pikiran yang menimbulkan efek lucu bila dicerna lebih intens (smart humor). Di belahan dunia, humor jenis ini banyak diperankan para entertainer dan presenter yang mengolah kata secara cerdas yanjg menimbulkan efek lucu di pihak audiens. Di deretan ini, Indonesia punya Warkop OKI, Rudy Badil, dan sederetan pengikutnya di belantara dunia hiburan. "Humor cerdas" kemudian memang banyak dianut oleh sejumlah pengarang, kolomnis dan presenter kita seperti M. Kasim (terkenal dengan kumpulan cerpen "Teman Duduk1), Soeman Hs (terkenal dengan kumpulan cerpen "Kawan Bergeluf), Mahbub Junaidi, Harry Roesli, Mohamad Sobary, Taufik Ismail, Emha Ainun Najib, Gus Dur, dan masih banyak lagi.

Di Riau sendiri, pasca Yung Dolah dan Soeman Hs, kegemaran berhumor - ria dapat ditemukan dalam tulisan dan aktifitas keseharian penyair dan dramawan Idrus Tintin. novelis Edi Ruslan Pe Amanriza, kolomnis dan budayawan Prof. Tabrani Rab, dan Prof. Muchtar Ahmad. Dalam kerangka ini, saya ingin menempatkan Chaidir sebagai pelanjut tradisi "humor cerdas" di negeri kita.

Revolusi "humor cerdas" di Indonesia memang taktercatat pasti, kapan bermula. Namun, apayang dilakukan Batara Sakti, yang menerjemahkan humor - humor politik dari Negeri Rusia yang kemudian terbit dalam bentuk buku "Mati Ketawa Cara Rusia" memang boleh dikatakan menjadi penggairah munculnya "humor cerdas" di tanah air. Buku ini memberikan inspirasi bagi terbitnya buku - buku sejenis yang mengangkat cerita humor dari berbagai negara dan daerah lokal seperti Mati Ketawa Cara Madura atau Batak atau Jawa. Bahkan, seorang Jawa tulen yang bernama Sidik Jatmika_aktifis radio swasta dan dosen di Yogyakarta_yang sempat "jatuh cinta" pada budaya Melayu menerbitkan kumpulan anekdot "Lagak Wong Melayu di Yogya" tahun 2002.

Humor politik memang nyatanya mepjadi pilihan yang tak terelakkan bagi para pemikir yang kritis untuk mengkritisi konstelasi politik yang berlangsung. Seperti sebuah penggalan humor dari Rusia. Seorang pasien yang jelas sakit gigi, saat diperiksa oleh seorang dokter justru bukan bagian mulutnya melainkan anusnya. Alasannya sederhana: di Rusia waktu itu, orang - orang dilarang buka mulut. Cerita senada, dapat dirasakan ketika Indonesia dinyatakan sebagai negara terkorup nomor urut 6 di dunia. Menurut bisik - bisik tetangga, semula Indonesia justru menempati urutan nomor 3, tetapi karena pintar menyogok, maka nomor urutnya dapat digeser ke belakang.

Centa - cerita humor yang disajikan Chaidir dalam buku ini mayoritas terbilang "humor cerdas". Orang harus membacanya dengan intensitas dan imajinasi bilatak ingin kehilangan momentum untuk tergelak - tawa. Semula saya curiga, kaiau kumpulan ceriia humor ini hanya bersifat kolase belaka atau cuplikan - cuplikan folklore moderen yang populer di tengah masyarakat meskipun didedahkan dengan judul yang penuh nilai autokritik: Menertawakan Chaidir. Tapi, setelah menyelaminya, Chaidir justru mengangkat pengalaman empirik diri dan keluarga serta koleganya sesama anggota legislatif meski sering disamarkan dengan menghadirkan "invicible man" seperti wartawan dan mahasiswa atau sosok lain.

Keberanian Chaidir untuk mengkritisi diri dan kolega yang dikemas dalam bancuhan aroma politik patut dipuiikan. Apalagi sifat dasar manusia Indonesia yang sudah terkenal di seluruh dunia, amat berat bila untuk disalahkan atau mengakui kekurangan sendiri. Konon, dulunya, dalam suatu rehat acara konferensi internasional di Amerika, tiga orang delegasi masing - masing dari Amerika sendiri, Perancis, dan Indonesia, berbinang informal. Tahu - tahu, entah siapa yang memulai. ketiga serentak mencium bau busuk (bersumber dari buang anginlah, kira - kira). Si Amerika langsung buka mulut: "Excuse me. I don"t know..what happenl". Disusul pula oleh Si Perancis - "Pardon me...sorry for bad smelt. Giliran Si Indonesia bilang begini : "Oh..not me..not me! Really, not me"

Sikap apologistik semacam itu jelas tak tarkesan di dalam cerita - cerita humor Chaidir. Bahkan, ia tak segan - segan mengungkapkan aspek keluguan ("keculunan" semasa mahasiswa), salah ucap—slip of the tounge - para koleganya sesama legislatif biik dalam suasana formal maupun informal atau pengalaman empirik di rumah tangganya yang cukup menghibur bila dicerna sebagai informasi yang berisi pengakuan yang menggelikan. Tapi, itulah Chaidir yang banyak membaca, bergaul, dan menimba pengalaman empirik dari berbagai belahan mancanegara dan daerah yang kaya dengan muatan lokal.

Humor - humor yang direkam Ghaidir baik yang terlahir dari mulut dan pikiran sendiri atau suasana sekitarnya memang sangat didominasi oleh peristiwa - peristiwa lucu semasa memerankan diri menjadi anggota legislatif. Sebutlah, soal pertanyaan pada dirinya yang "dokter hewari" tapi justru berkarir sebagai Ketua DPRD. Chaidir secara cerdas berkilah: "Jangankan memirnpin orang, memimpin hewan yang tidak bisa diajak berdialog saja saya bisa. Waktu kuliah dulu, saya belajar ilmu tingkah laku hewan."

Cerita Chaidir soal salah kamar dalam suatu kunjungan kerja ke Yogyakarta, patut dibaca dengan perasaan berdebar. Pasalnya, rombongan jadi heboh saat Chaidir disatukamarkan dengan Ellydar Chaidir (anggota legislatif yang lain) sesama Komisi D. Padahal, panitia hanya menafsir - nafsir sendiri kalau Ellydar Chaidir itu punya hubungan suami - isteri dengan dirinya yang bernama keluarga (family name) Chaidir. Begitu pula soal namanya yang singkat saat ditanya delegasi dari negara lain. Lagi - lagi Chaidir secara piawai menjawab : "Di Indonesia, justru nama - nama yang singkat itu yang jadi Presiden...sebutlah Soekarno dan Soeharto.."

Chaidir memang kaya ide yang terlahir dari peristiwa keseharian yang tak mustahil bisa diblow up sedemikian rupa agar punya nilai humor yang patut dibaca dan dicerna. Tapi, sesuogguhnya, tak semua orang punya kemampuan setunak itu. Apalagi, dalam perbincangan formal atau dialog, justru Chaidir tak terlalu dominan mewarisi akal - akalan "Yung Dolah" yang sangat populer di Riau ini. Sekadar menyanding, bagaimana suatu kali Yung Dollah saat sampai di puncak pokok kelapa, kesulitan untukturun. Yung memang tak kehabisan akal. "Untunglah, Yung tengok di bawah sana "tu, ada tangga. Lalu Yung ambil dan turunlah Yung baik - baik...". Sekali lagi: logika kontradiktif begitu lancar bermain dalam humor cerdas ini.

Humor politik memang lebih dominan muncul di negara - negara dengan faham diktator, tertutup. Tirani atau monoiitik kekuasaan. Bahkan, humor politik itu diselundupkan ke luar negeri agar bisa disebarluaskan menjadi wacana dunia. Memang tak ada istilah "menepuk air di dulang" bagi para kelompok reformis. Realitas ini juga tak menutup kemungkinan bermunculannya humor - humor politik sebagai folklore moderen yang sambung - menyambung dari mulut ke mulut.

Apa yang terjadi di Filipina pada masa pasca Marcos berkaitan humor politik yang cerdas ini? Konon, menurut Jaya Suprana, di negara itu, humor tentang neraka pernan begiiu popuier. Diceriiakan, neraka dijadikan sebagai obyek wisata. Di sebuah kawah panas dan menggelegak yang menganga, Iblis yang menjadi pemandu wisata membawa rombongan wisatawan mancanegara sambil menceritakan apa yang terlihat di kawah neraka itu. Satu per satu penghuni neraka itu diperkenalkan. "Itu Menteri Sosial!" kata Iblis yang ternyata terbenam sampai lutut saja. "Kalau yang itu, Menteri Perdagangan," sambil menunjuk pada sosok yang terbenam sampai dada. Selanjutnya, "Kalau yang itu, Menteri Keuangan" yang terlihat terbenam sampai hidung. Dan terakhir, rombongan wisatawan melihat sesosok yang berdiri di tempat yang dangkal dan terbenam sampai tumit saja. "Kalau itu, siapa?" tanya rombongan. Iblis langsung menjawab, "Oh, itu Ferdinand Marcos...". Para rombongan terheran - heran, kenapa Marcos tidak terbenam lebih dalam? Secara spontan, Marcos menjawab :"Sssst...saya berdiri di atas kepala Imelda.."

UU Hamidy, pernah membuat alur perkembangan cerita lucu (tanpa membedakan lawak atau humor_dengan tokoh penggagasnya di Riau yang dimulai dari Yung Dolah - Soeman Hs - Idrus Tintin - Semekot (Fachri dan Udin). Boleh jadi, Chaidir akan memperpanjang barisan pencinta humor di tanah air khususnya di Riau. Bila, indonesia pernah punya tokoh humor ierkencii seperti Arwah Setiawan yang mendirikan Lembaga Humor Indonesia (LHI) yang sekaligus menerbitkan Majalah Humor secara bulanan di era 1980 - an. Maka di Riau sebenarnya, tokoh intelektual dan budayawan, Muchtar Ahmad, Tabrani Rab, dan Tengku Dahril, bersama saya_di deretan angkatan muda waktu itu_ pada tahun 1982 menggelar pertamakali Lomba Lawak se Riau yang menjadi debut munculnya Semekot Grup yang diawaki oleh Fachri dan Udin. Dan Semekot Grup masih saja melanjutkan tradisi ini setelah malang - melintang di kancah nasional dan lokal.

Dalam rentang waktu yang sama, saya bersama budayawan Husnu Abadi pernah menggoda Pak Muchtar Ahmad untuk mendirikan Lembaga Humor Indonesia Cabang Riau. Upaya ini gagal ketika Pak Muchtar merasa jabatannya sudah terlalu banyak waktu itu. Seperti sindirannya pada Pak Tabrani: "Barangkali organisasi yang belum dimasuki Pak Tab tinggal PARFI - PersatuanArtis Filem Indonesia..."Obsesi itu pun diraih Pak Tabrani juga saat menikahi artis filem Indonesia, Alicia Johar.

Pak Chaidir, bersediakah Anda menjadi Ketua Lembaga Humor Indonesia (LHI) Cabang Riau? Jabatan ini mudah diraih tak sesulit menjadi Wakil Gubernur lho. ...!***


* Fakhrunnas MA Jabbar adalah Dr (HC) - Humoris Causa - , peminat masalah humor.


Tulisan ini sudah di baca 227 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Menertawakan Chaidir

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Menertawakan-Chaidir/195-Sebuah-Pengantar.html