drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Buruan Ciurn Gue


Oleh : drh.chaidir, MM

JANGAN main-main dengan "bupati" dan "terano", urusan bisa jadi runyam. Dan itulah agak-nya yang dituai oleh film remaja layar lebar "Buruan Cium Gue" (BCG) yang diproduksi oleh Multivision Plus yang bikin heboh itu. Bahkan da'i kondang Aa Gym berteriak, "ciuman itu pangkal zina", katanya gundah. Lalu apa hubungannya dengan "bupati" dan "terano"? Adakah bupati berciuman dalam terano, atau terano yang "mencium" bupati saat jalan pagi? Ternyata tidak ada ada hubungannya sama sekali. Itu hanya ulah "Portugal" (Persatuan Orang Tua Gatal). Salah seorang anggota "Portugal" berbisik kepada saya, sampai telinga saya pun agak basah, "bupati" yang dimaksud adalah akronim dari "buka paha tinggi-tinggi" (maaf, sekali lagi maaf) dan "terano" adalah akronim dari "te ... rada no-ngol" (maaf yang ini disensor).

Dalam satu pekan terakhir ini, dua orang Menteri yang saya temui, keduanya berbicara tentang film BCG. Menteri yang pertama adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, I Gde Ardika. Menteri yang kedua adalah Menteri Pendidikan Nasional yang sekaligus juga Menteri Koordinator Kesra Ad Interim, Prof. Malik Fajar. Keduanya memang memiliki kapasitas untuk mengomentari film tersebut, baik dari sudut jabatan, maupun dari sudut pribadi, keduanya adalah intelektual. Saya sungguh merasa seperti ketinggalan angkot (angkutan kota), sebab sebelum saya bertemu dua Menteri tersebut, film BCG itu sebetulnya sudah menjadi wacana di rumah, tapi saya tidak begitu ambil perhatian. Maka, sore itu, sembari menyantap rebus pisang, saya pun 'menginterogasi' sang isteri yang pernah nonton BCG bersama teman-temannya dalam suatu kunjungan ke Jakarta.

"Sebetulnya film ini biasa-biasa saja, judulnya memang provokatif", kata sang isteri layaknya seorang pengamat. Adakah bagian-bagian dari film itu yang terlarang atau berbahaya ditonton remaja? "Sepertinya ada beberapa bagian", kata isteri saya sambil mengingat-ingat cerita film BCG tersebut. Adegan itu mestinya dipotong oleh lembaga sensor, sebab sudah termasuk adegan yang dilarang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1994.

Belum puas dengan cerita sang istri, sayapun menuhi rasa ingin tahu saya dengan membeli majalah Gatra dan Forum yang menempatkan kontroversi film BCG sebagai covernya. "Buruan Sensor Gue", tulis Gatra. Sementara Forum menulis: "Hentikan 'Buruan Cium Gue' ". Menariknya, beberapa pelajar yang ditanyai oleh Gatra, mengatakan bahwa film ini sebetulnya biasa saja. Saras misalnya, seorang siswi Sekolah Menengah Industri Pariwisata Angkasa, sebagaimana ditulis Gatra, mengatakan, "Pemutaran 'Buruan' di bioskop menurut gue pantas saja. Masih banyak film yang lebih hot dari ini, tapi enggak diprotes. Cuma film kayak gitu aja koq diprotes." Seorang ibu, Kemala Dewi, 42 tahun, karyawati bagian humas sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Utara, sebagaimana dimuat Gatra, mengatakan, "Menurut saya, enggak apa-apa. Film ini lebih mendingan daripada adegan kekerasan dan pemerkosaan yang setiap hari ada di layar televisi. Daripada meributkan film ini, lebih baik menghilangkan adegan kekerasan dan mistik di televisi."

Terlepas dari pro-kontra terhadap film BCG tersebut, sikap produser yang segera menarik film ini dari peredaran patut dihargai. Sebab dalam sepekan saja, misalnya, sudah ribuan surat yang masuk ke alamat Aa Gym, sebagaimana diberitakan, yang sifatnya mendukung sikap keberatan Aa Gym terhadap pemutaran film BCG.

Masyarakat kita agaknya memang sedang berubah. Namun demikian, katakanlah secara realitas dunia re-maja di ibukota dewasa ini seperti yang terlihat dalam film BCG itu, tidaklah selayaknya realitas itu diangkat sebagai bahan tontotan dan dieksploitir menjadi sebuah obyek bisnis, apapun alasannya. Sebab, perkembangan itu sesungguhnya perkembangan yang merisaukan. Mengangkatnya menjadi sebuah tontonan sama saja menjadikan model kehidupan seperti itu sebagai icon kehidupan remaja modern. Padahal Indonesia tidak hanya Jakarta, Bandung, Medan atau Surabaya.

Heboh film BCG harus memberikan iktibar bagi masyarakat kita, bahwa ternyata banyak hal yang mesti dibenahi. Kebebasan tetap memerlukan disiplin, agar kreatifitas tidak memasuki wilayah yang aneh. Siapapun menyadari betapa besarnya peran media dalam pencerdasan dan pencerahan suatu bangsa, baik itu media cetak maupun media elektronik. Namun membiarkannya berada dalam suatu kebebasan tak bertepi, acapkali kontra produktif bagi pemanusiaan itu sendiri. "Film dan tontonan televisi memiliki peran penting dalam menangkal (pengaruh negatif) era globalisasi, asalkan mengimbanginya dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat", demikian dikatakan oleh Dr Din Syamsudin, Sekjen MUI. Idealnya memang demikian, tapi sertngkali dimensi dagang lebih mengedepan.

Saya sangat sering mendengar keluhan orang tua dewasa ini betapa siaran televisi dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan mental anak-anak dan remaja karena seringkali vulgar menyiarkan aksi-aksi kekerasan, perkosaan, porno-aksi, pornografi dan juga mistik. Hal ini sudah sering diangkat ke permukaan, tapi anehnya entah instansi mana yang memiliki kewenangan untuk mengaturnya. Logika sederhana sebetulnya, adalah pemerintah, sebab pemerintah itu memiliki fungsi pengaturan. Tetapi dalam banyak hal, beberapa fungsi pengaturan tersebut dikembalikan kepada masyarakat untuk meneatur diri sendiri, mana yang layak dan mana yang tidak layak untuk disiarkan atau diberitakan. Sebagai salah satu contoh misalnya, kita seringkali mengatakan bahwa masyarakat yang maju itu adalah masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, dan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan selalu mengedepankan rasionalitas. Tetapi coba lihat, setiap hari televisi kita menghidangkan hal-hal yang irrasional melalui berbagai macam paket program. "Banyak film kita yang mengajarkan orang tidak bermoral", kata Aa Gym gundah.

Kebebasan media cetak pun nampaknya kebablasan. Tabloid-tabloid porno pun marak. Disitanya ratusan tabloid porno oleh aparat kepolisian di Duri, Kab Bengkalis, Riau, adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan ini memang haras ditindak tegas. Kita agaknya harus belajar banyak dari negara maju, bagaimana mereka membangun media massanya secara bebas, tetapi tetap dalam semangat membangkitkan dan mendorong bangsanya ke arah kemajuan, seperti misalnya yang diperlihatkan Jepang dan Malaysia.

Pornoaksi, pornografi, aksi kekerasan, serta hal-hal yang berbau mistik, yang kian marak di media kita, harus dihentikan bila kita ingin menyelamatkan remaja kita dari kehancuran yang sia-sia.

(No. 160/Th III/31 Agustus - 5 September 2004)


Tulisan ini sudah di baca 108 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/384-Buruan-Ciurn-Gue.html