drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Riau Hitam-Putih


Oleh : drh.chaidir, MM

RIAU Hitam-Putih tidak ada hubungannya dengan "byarrr-pet" atau nyala-padamnya listrik di Riau beberapa pekan terakhir ini. Walau asosiasi ke arah itu adalah sesuatu yang niscaya karena Riau keli-hatan putih cemerlang ketika lampu menyala dan kemu-dian hitam kelam seakan punah ketika terjadi giliran pemadaman.

Riau Hitam-Putih bukan itu, bukan pula sebuah Sarkasme. Riau Hitam Putih adalah sebuah pagelaran musik dengan ambisi tiga "lang" (meminjam motto Per-dana Menteri Malaysia, Abdullah Badawi), cemerlang, gemilang, dan terbilang. Aransemen musik Melayu tradisional dikolaborasikan dengan aransemen musik modern oleh komposer terbilang, sehingga menjadi sebuah komposisi alternatif yang diharapkan enak didengar dan diminati secara universal di seluruh dunia. Pergelaran itulah yang berlangsung selama tiga hari, tanggal 23 - 25 Juli 2004 di Bandar Serai Pekanbaru dan konon akan menjadi agenda tetap.

Agaknya kita tidak bisa lari dari sebuah kenyataan, kalaulah musik Melayu tradisional itu berhadapan, vis a vis, dengan musik modern, maka jarak antara keduanya tidak lagi hanya sejauh-jauh mata memandang, tapi bertahun cahaya. Dewasa ini, kendati musik Melayu tradisional atau yang bernuansa asli sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan, tapi kelihatannya peminatnya sudah jauh menurun. Alunan musik yang mendayu-dayu itu, atau rentak joged atau rentak zapin, umumnya hanya diminati oleh kalangan tua yang hanyut dalam getaran-getaran romantika masa muda. Aliran musik itu mampu membangkitkan kenangan masa lalu. Tapi kalangan generasi muda, yang tertarik dengan musik Melayu tradisional itu, boleh dihitung dengan jari. Musik Melayu tertimpa oleh gegap gempitanya musik-musik modern kontemporer yang dibawakan oleh kelompok-kelompok band anak muda seperti Dewa, Slank, Sheila On-7, Zamrud, Peterpan, Coklat dan lain-lain. Bahkan tidak kuasa membendung wabah musik dangdut dan "bollywood...". Kita tidak usah segan-segan untuk mengatakan bahwa bagi anak-anak kita, remaja-remaja kita, musik Melayu tradisional itu justru menjadi aneh.

Hitam-Purih adaiah gagasan dan sekelompok musisi-musisi muda yang yang tergabung dalam Malay Music Institute, yang masih mencintai musik tradisional itu, namun mereka juga bukan orang-orang yang buta terhadap perkembangan musik modern. Mereka adalah orang-orang yang beruntung masih memiliki akar musik tradisi Melayu yang kuat dalam dirinya tetapi sekaligus akomodatif terhadap intervensi musik modern kontemporer. Mereka terobsesi, Riau Hitam-Putih ini akan menjadi wadah pertemuan antara musisi mahzab tradisi dan modern, dan diharapkan akan terjadi interaksi dalam pengembangan kreatifitas seni musik, sehingga akan memperkaya wawasan musik satu dan lainnya.

Musik yang berjarak seratus tahun cahaya itu dipertemukan untuk saling menyapa, berdialog dan bergandengan tangan. Musik tradisi Melayu membuka ruang dan wawasan terhadap musik kekinian dan musik kekinian pula menyadari bunyi-bunyian yang mereka mainkan kini menjadi sebuah aransemen musik yang kompleks tapi harmoni, dulu dimainkan oleh nenek-moyangnya. Dengan adanya dialog antar mahzab musik itu, diharapkan akan tercipta sebuah kolaborasi musik yang mampu melintasi ruang dan waktu.

Kolaborasi musik Melayu tradisional dan musik modern itu sudah pasti akan memancing dan menantang tumbuhnya kreatifitas para pecinta atau insan seni untuk berkarya. Musik Melayu tradisional yang merupakan bagian dari budaya Melayu, bila hendak kita lestarikan, memang tidak boleh dibiarkan kesunyian tak berteman. Sebab kesunyian yang berabad-abad akan menyebabkan musik ini dilupakan waktu dan tereliminasi dari belantika. Dia harus dipakaikan 'baju' baru dengan segala macam perniknya sehingga tetap modis dan tidak canggung untuk tampil ke depan. Kolaborasi yang tercipta dan sebuah pemanaman yang mendaiam akan meningkatkan apresiasi pendengar, akomodatif terhadap musik tradisi sekaligus tidak apriori terhadap musik modern.

Kolaborasi musik tradisi dan musik modern yang digelar dalam event Riau Hitam-Putih itu adalah upaya untuk menghadirkan musik kelas dunia. Sebab, akan menjadi sulit bila musik tradisi yang diminta bertandang. Kolaborasi ini diharapkan akan dapat dimanfaatkan oleh musisi-musisi muda kita untuk mengembangkan daya-ciptanya sehingga suatu saat kelak mampu memberikan warna etnis sebagai jati diri terhadap karya-karya musik yang berkelas dunia.

Kehidupan tidak pernah bisa lari dari musik, atau lebih tepat barangkali, musik adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Sebagai cabang dari seni-budaya, seperti halnya puisi dan cabang seni lainnya, musik mampu menetralisir perilaku anomi dalam masyarakat akibat gairah kebendaan yang berlebih-an atau kehidupan yang serba materialistik. Mengelaborasi Edward W Said dalam Kekuasaan dan Kebuda-yaan (Culture and Imperialism), pembangunan yang hanya bersifat material akan melahirkan agresifitas, sesuatu yang anomi, dan serba massive. Penetralisirnya adalah bingkai kebudayaan (dan kesenian). Dengan kesenian, sopan-santun, akal-budi akan terjaga.

"Musik adalah sebuah bahasa, sebuah bentuk ko-munikasi. Musik dapat membangkitkan respon-respon emosional dan menggugah pikiran, musik pula dapat memberi pengertian nyata atau gagasan berpikir", begitu kata Prof I Made Bandem, Rektor Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dalam kata pengantarnya pada buku Ensiklopedia Musik Klasik karya Muhammad Syafiq yang diterbitkan oleh AdiCita, Yogyakarta.

Prof Made agaknya benar dalam memposisikan eksistensi musik di tengah kehidupan masyarakat. Musik dapat memberikan indentitas atau petunjuk yang mengkomunikasikan kepada dunia luar pola kehidupan suatu masyarakat. Musik bahkan juga dapat menunjukkan kepedulian atau apresiasi masyarakat terhadap lingkungan hidup misalnya.

Agenda musik internasional Riau Hitam-Putih, patut kita hargai sebagai salah satu upaya untuk melestarikan musik tradisional Melayu melalui cara yang elegan. Menggandeng musik modern dalam suatu kolaborasi dengan musik tradisional adalah sebuah langkah yang taktis. Yang tradisional akan terangkat, sedangkan yang modern memiliki kesempatan untuk membuat sentuhan-sentuhan etnik, sehingga memberikan suatu warna lain yang menggugah kreatifitas berikutnya. Pada sisi lain, musik tradisional Melayu yang akhir-akhir ini kurang diminati anak-anak muda bahkan anak-anak negeri sendiri, agaknya karena aransemen yang terasa stagnan, diharapkan akan mampu menumbuhkan apresiasi yang lebih baik.

Riau memang akrab dengan kebudayaan dan kesenian. Agenda musik "Hitam-Putih" adalah sebuah agenda yang bagus untuk memacu kreativitas anak negeri. Yang penting, sebagaimana komentar penyanyi kondang Trie Utami, jaga "pitch control".


(No. 155/Th III/26 Juli - 01 Agustus 2004)


Tulisan ini sudah di baca 144 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/383-Riau-Hitam-Putih.html