drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Masyarakat Aneh


Oleh : drh.chaidir, MM

WAJAH masyarakat kita dewasa ini agak sulit dilukis. Rautnya sedang berubah cepat, tapi kita - so pasti - tidak akan mau disebut masyarakat yang berubah-ubah. Sebab kalau wajah kita berubah-ubah dengan cepat, apalah bedanya kita dengan bunglon, sejenis hewan yang wajahnya bisa berubah-ubah tergan-tung lingkungannya. Sekejap hijau, sekejap merah, sekejap kuning, sekejap abu-abu. Atau sekejap ade, sekejap tak ade (meminjam istilah Prof Tabrani Rab). Atau barangkali berdasa-muka seperti Rahwana dalam cerita wayang itu? Tentu tidak.

Agak aneh saja. Itu barangkali lebih sesuai, kalau tidak mau disebut mengidap paranoid, sejenis penyakit kejiwaan yang menyebabkan pengidapnya suka berperilaku aneh-aneh. Agaknya ini yang disebut the odd society kata orang barat itu.

Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, agaknya itulah potret wajah kita dewasa ini. Kita mengaku sebagai sebuah bangsa yang beradab, tapi kita tidak bisa menyembunyikan perilaku biadab, pembunuhan-pembunuhan sadis, perkosaan-perkosaan anak-anak, yang beritanya setiap hari bisa kita baca atau kita tonton. Kita bersikukuh mengaku sebagai sebuah bangsa yang ramah-tamah, murah senyum, tapi lihatlah perilaku aparatur kita di tempat-tempat pelayanan publik, di pelabuhan-pelabuhan, di pos-pos, di kantor-kantor, di rumah sakit dan sebagainya: kaku, tidak ramah, pemarah, bahkan kasar dan sangar. Dia 'tuan', orang lain yang memerlukan jasa pelayanan, semuanya 'hamba'. Hubungan selalu dipandang sebagai ordinate dan subordinate, atasan-bawahan. Pola pikir struktural.

Kita selalu mengajarkan melalui pidato-pidato, ceramah-ceramah, pengajaran-pengajaran, bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang terdidik, masyarakat sekolahan, masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based society). Masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan itu, adalah mereka yang selalu berpikir rasional, menggunakan akal sehat, tidak emosional, dan selalu menghindari hal-hal yang tidak masuk akal (irrasional). Tapi malangnya, coba lihat tayangan televisi kita, penuh dengan cerita misteri, cerita-cerita hantu, kuntilanak, sundal belong, jailangkung, atau hiburan-hiburan vulgar yang tidak mendidik seperti film-film jin, orang yang tiba-tiba berubah menjadi makhluk halus. Persis seperti dalam cerita dongeng "1001 Malam". Atau, arwah orang yang sudah meninggal dunia dengan mudahnya bisa dipanggil untuk diminta pertolongannya. Kita mendidik masyarakat dan anak-anak kita supaya rasional tapi pada saat yang bersamaan kita memanjakan mereka dengan hal-hal yang irrasional. Tidak hanya itu, pemilihan kepala daerah pun konon sarat dengan intervensi para normal dan bahkan perdukunan. Apakah keberhasilan seseorang calon memenangkan pemilihan adalah akibat intervensi itu? Wallahualam...

Daftar keanehan itupun masih bisa diperpanjang. Berpuluh-puluh tahun masyarakat kita diberi harapan oleh para elit politik dan para pengamat bahwa pemilihan presiden itu harus langsung. Rakyatlah yang harus mernilih presidennya, bukan MPR, karena lembaga perwakilan rakyat itu seringkali memilih presiden dengan mengabaikan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Sekarang, rakyat telah diberikan hak oleh UUD 1945 untuk memilih presidennya secara langsung. Negara-negara yang sudah maju dalam kehidupan berdemokrasi banyak yang tidak percaya Indonesia akan mampu melaksanakan pemilihan presiden secara langsung. Mereka mengatakan, pemilihan presiden itu pasti rusuh dan berdarah-darah. Tapi kenyataannya pemilihan putaran pertama sudah berlangsung dengan aman, damai dan tertib. Tidak ada darah yang menetes ke bumi persada. Para pengamat dalam dan luar negeri banyak yang kecele, tapi mereka mengakui rakyat Indonesia sudah cerdas. Namun demikian pada saat yang bersamaan, ketika rakyat memperoleh hak untuk memilih presidennya secara langsung, elit politik justru ramai-ramai mengkampanvekan agar golput saja. Dengan kata lain, tidak usah ikut memilih presiden. Ini tentu saja aneh.

Masih ada yang aneh lainnya? Masih. Kita enggan disebut sebagai bangsa yang belum maju. Oleh karena itu kita ramai-ramai menggunakan teknologi informasi. Kita malu dibilang gagap teknologi, oleh karena itu semua beli komputer, semua menenteng laptop, semua membuat web-site dan semua memiliki alamat e-mail. Pemerintah pun menyediakan anggaran 200 milyar rupiah lebih untuk membangun system IT (Information Technology) KPU, sehingga penghitungan suara bisa menggunakan IT sebagaimana di negara-negara yang telah maju seperti Amerika, Inggeris, Singapura atau Malaysia. Tetapi ketika system IT digunakan oleh KPU dalam penghitungan suara hasil pemilihan umum, maka pada saat yang sama kita tidak mempercayainya dan beramai-ramai menghujatnya. Penghitungan suara dituntut harus kembali menggunakan sistem manual.

Kita bersikukuh mengatakan bahwa kita adalah homo sapiens, makhluk pemikir yang berakal budi, tetap: tidak susah menemukan indikasi, bahwa di tengah belantara gedung-gedung megah dan mentereng praktek-praktek homo homini lupus yang digambarkan oleh Thomas Hobbes, seorang filsuf Inggeris yang hidup 1588-1679, masih banyak ditemukan, sehingga kalau para pemulung berpikir apa yang akan dimakan esok hari, maka para white collar justru berpikir, siapa lag yang akan dimakan esok hari. Homo homini lupus manusia yang satu menjadi srigala bagi manusia yang lainnya sebagaimana digambarkan oleh Thomas Hobbes itu, tidak hanya terjadi pada abad ke-16 atau abad ke 17 saja, sekarang pun masih terjadi, hanya sajc bentuknya tidak dalam wujud perbudakan, tapi dalarr wujud yang lebih canggih dan format yang sistematis.

Dan, agaknya masih panjang paradoksal itu bisa ditulis kalau mau. Dalam suatu masyarakat yang ber ubah dengan cepat, fragmentasi dalam kehidupan ma syarakat nampaknya memang susah untuk dihindari Apalagi kemudian perubahan itu diiringi dengan pem bangunan yang terlalu mengedepankan semangat ke bendaan. Maka bentuk-bentuk anomi dalam kehidupar bermasyarakat pun menjadi sesuatu yang inheren seperti perilaku yang berbau dagang, serba massive mentalitas instan dan seterusnya. Semua ingin cepat menjadi top management, semua ingin cepat menjad kaya raya, semua ingin cepat menjadi doktor atau professor, tidak kira apakah qua-kemampuan memenuhi standar atau tidak. Maka dalam masyarakat yang demikian, standar ganda pun menjadi sesuatu yang biasa walaupun itu adalah dosa.

Dalam kondisi yang demikian, satu-satunya excuse bagi kita adalah bahwa ini adalah sebuah masa transisi yang panjang, yang agaknya memang harus kita lewati. Suka atau tidak suka, kita adalah bagian dari keanehan itu, dan jangan-jangan kita adalah penyebab utama dari keanehan itu. Peringatan dari Peter Druker agaknya layak kita cermati, "The enemy is not out there..." Musuh tidak berada di luar sana, musuh itu ada ada di dalam diri kita sendiri. Kita mestinya tidak boleh terus-terusan menjadi aneh, karena orang aneh susah diajak berunding.


(No.l56/Th III/02 - 08 Agustus 2004)


Tulisan ini sudah di baca 141 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/382-Masyarakat-Aneh.html