drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

API Spasi Micky


Oleh : drh.chaidir, MM

WARGA Kota Bertuah Pekanbaru boleh bangga karena kini memperoleh seorang calon bintang. Salah seorang putra terbaiknya, Micky, terpilih menjadi salah satu dari 12 Akademia yang akan ditempa menjadi bintang di Akademi Fantasi Indosiar (API) yang terkenal itu. Micky yang nekad mengadu kebolehan dan keberuntungan jauh di Ibukota Jakarta sana, berhasil memenangkan seleksi untuk Rayon Jakarta. Bersama seorang peserta putri dari Jakarta. MirVy mpmHsihkar 8000 peserta seleksi lainnya.

Menjadi terbaik dari 8000 calon setelah melalui ber-bagai macam ujian tentu bukanlah kemenangan yang kebetulan. Apalagi Tim Seleksi Indosiar bebas dari bau KKN. Peserta terbaik dalam API Indosiar pertama, Veri misalnya, adalah seorang yang "nobody" (seorang yang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya). Veri sebagaimana diberitakan oleh banyak media, hanya putra seorang tukang beca di Langkat, Sumatera Utara. Tapi dia terpilih oleh Tim Seleksi Indosiar dan kemudian setelah ditempa menjadi seorang entertainer - seorang profesional di dunia hiburan musik - selama tiga bulan di API dia terpilih pula menjadi yang terbaik. Hebatnya lagi, juri selama proses kontes yang panjang itu, tidak ada. Para artis senior di bidang musik dan entertainment hanya diminta jadi pengamat dan memberikan komentar terhadap penampilan para akademia di panggung. Jurinya adalah penonton. Penontonlah yang setiap minggu memberikan penilaian dan dukungan terhadap akademia yang disenangi, melalui sms setelah melihat penampilan mereka baik langsung di panggung studio Indosiar, maupun melalui siaran televisi.

Micky pun status sosial ekonominya tidak lebih baik dari Veri sebelum menjadi bintang. Dari obrolan dan informasi sana-sini, Micky nampaknya juga seorang yang nobody. Dalam kunjungan 'kampanye'nya ke kediaman saya beberapa hari lalu, dia terlihat sederhana. Dengan sabar dia melayani seluruh anggota keluarga saya untuk berfoto satu demi satu. "Jangan lupa tulis API spasi Micky", katanya lembut sambil senyum-senyum. "API" kemudian diberi spasi, selanjutnya ditulis "Micky" adalah dua kata yang harus ditulis oleh penonton pentas para akademia itu, melalui sms untuk memberikan dukungan kepada Micky. API spasi Micky adalah mantra baru bagi Micky. Kata-kata itulah nanti yang akan mengantarkannya menjadi bintang top atau biasa-biasa saja. Semakin banyak dukungan, dia semakin menjadi.

Micky sendiri sesungguhnya sudah terbiasa dengan dunia panggung. Kualitas suaranya sudah oke, dan ini diakui oleh artis sekaligus pengamat musik Trie Utami yang diminta oleh API untuk memberikan komentar terhadap penampilan Micky pada nomor babak penyisihan API minggu lalu. Selain sudah terbiasa menyanyi di Pekanbaru, Micky juga adalah pemenang kontes bujang dan dara Riau yang diadakan bersempena Tahun Baru 2003.

Akademi Fantasi Indosiar (API) sungguh-sungguh menjadi sebuah fantasy. Hanya dalam tempo tiga bulan API berhasil mencetak bintang-bintang baru yang langsung populer dan memiliki fans yang jumlahnya ribuan. Anak-anak muda yang mendadak sontak menjadi bintang itu, agaknya tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan menjadi bintang top seperti sekarang. Seperti dalam dongeng 1001 malam saja. Veri, Kia, Ma-war, Hera, Smile, Ve, Dicky, Yenny, Rini, Romi, Lasmi, Icha adalah anak-anak muda yang laksana disulap oleh API menjadi bintang-bintang baru. Mereka orang-orang yang beruntung. Mimpi-mimpi anak-anak muda itu menjadi kenyataan. Veri, akademia terbaik pada API Pertama, jujur mengatakan bahwa dirinya seperti ter-bang di atas langit. Bayangkan saja, dari seorang yang tidak memiliki apa-apa dan hampir dilupakan, bahkan oleh lingkungannya sendiri di Pangkalan Brandan, Langkat sana, karena status sosial ekonominya yang lemah, kini Veri menjadi seorang anak muda yang top dengan ribuan pemuja. Kemana pun dia pergi sekarang selalu diserbu oleh penggemar dan pendukungnya. Tidak hanva hadiah dari Syamsul Arifin, Bupati Langkat yang baik hati itu, yang telah menunggu, hadiah mobil dari API pun sudah di tangan, demikian pula kontrak re-kaman dan kontrak iklan. Dia akan segera menjadi jutawan.

Perihal popularitas yang datang laksana air bah ini, memang dipandang dengan nuansa kekhawatiran oleh ahli ilmu jiwa. Psikolog Rosemini, adalah psikolog per-tama yang khawatir. Rosemini (Mbak Rommy) adalah psikolog yang mendampingi para akademia sejak proses karantina API. Rosemini sudah mencium ketidaksiapan mental anak-anak didiknya dalam menghadapi gelom-bang popularitas yang luar biasa cepatnya. "Artis lain harus berjuang selama bertahun-tahun untuk mencapai sukses. Sementara anak-anak ini hanya dalam waktu tiga bulan sudah begitu terkenal", ujar Rosemini sebagai-mana dimuat Tabloid Bintang Indonesia.

Indosiar dengan program AFI-nya membuktikan betapa kuatnya peran media massa dalam membangun sebuah imej. Seorang pakar politik dan pers berkebangsaan Jerman, Karl Klaus (1923), mengatakan bahwa keberadaan pers atau media massa lebih dulu daripada keberadaan dunia. "In the beginning was the press and then the world appeared", tulis Karl Klaus. Klaus tentu saja berlebihan, dia terlalu mengagungkan keberadaan dan peran pers atau media massa. Namun sesung-guhnya dia hanya ingin menegaskan tanpa pers dan media massa, dunia ini tidak dikenal. Gegap gempitanya proses demokratisasi di seluruh penjuru dunia misalnya, atau Perang Teluk tahun lalu, tidak terlepas dari peran media cetak dan elektronik. Tragedi 11 September di New York pun tidak akan diketahui oleh bagian dunia lain. Demikian pula tragedi gempa bumi di Iran yang menelan 40.000 jiwa lebih.

Itu pulalah yang terjadi dengan API dan dengan anak-anak muda yang mendadak menjadi terkenal itu. Tanpa peran media seperti yang dimainkan oleh televisi, siapa yang akan mengenal Veri, Kia, Mawar dan seterusnya. Mereka boleh saja memiliki bakat yang hebat dan memiliki potensi yang bagus dalam diri masing-masing, tapi kalau mereka harus memulai menapak karir dari festival antar kampung, kemudian meningkat ke festival antar kabupaten, meningkat lagi ke festival antar provinsi, kemudian ke festival tingkat nasional, mereka akan keburu tua untuk sampai di puncak. Lagi pun belum tentu ada produser yang mau berjudi menginvestasikan modal untuk membuat album finalis festival ini, karena belum tentu layak jual.

Indosiar dengan AFI-nya telah memberikan sesuatu yang amat berbeda. Dengan API mereka terlebih dahulu menciptakan pasar, setelah pasar ternanti-nanti baru kemudian mereka sodorkan produknya. Bisa dipastikan album anak-anak muda itu akan laris manis.

Kini Micky mengadu peruntungan, mampukah dia menyusul Veri? Selama tiga bulan dia akan diasah dan diasuh oleh musisi dan koreografer terkenal di API seperti Tamam (direktur API itu sendiri), Bertha, Ari Tulang, dan setiap minggu akan manggung untuk dinilai oleh penonton. Semoga saja Micky tidak tereliminasi. Kuncinya ada pada anda semua. Pegang HP anda, tulis mantra API spasi Micky.

(No. 137/Th III/21 - 27 Maret 2004)


Tulisan ini sudah di baca 106 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/381-API-Spasi-Micky.html