drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Negeri Orang Halus


Oleh : drh.chaidir, MM

ADA-ADA saja Riau. Selalu riuh, konon dalam satu versi sejarah Melayu, nama Riau itu berasal dari kata riuh. Setelah heboh soal guru berani berunjuk rasa di Kampar, kini heboh soal makhluk halus di Pekanbaru. Maka paranormal pun berkumpul di kota bertuah ini, tapi mereka bukan untuk berunjuk rasa. Mereka bermaksud menolong SMU Handayani yang tertimpa musibah aneh tapi nyata. Stasiun televise saluran Nasional pun kembali mengarahkan lensanya ke Riau.

Bila paranormal ini memang solusi di SMU Handayani, maka ini boleh jadi memperkuat asumsi bahwa negeri ini tidak hanya dihuni orang-orang yang halus budi pekertinya, tetapi juga banyak dihuni "orang-orang halus", yang fisiknya tidak kelihatan, atau antara kelihatan dan tidak, atau kadang-kadang kelihatan kadang-kadang tidak. Orang-orang halus ini oleh nenek moyang kita diyakini tersebar dimana-mana, di hutan belantara yang tidak terjamah manusia, mereka bernama orang bunian. Di pohon-pohon besar yang angker dia bernama jin penunggu pohon. Di kuburan dia bernama hantu kuburan. Di Laut Selatan Pulau Jawa dia bernama Nyi Roro Kidul. Di puncak Gunung Bintan, Kepulauan Riau, konon juga ada orang-orang halus yang adakalanya berwujud bidadari cantik.

Nama orang halus ini pun bermacam-macam dan akrab di telinga masyarakat. Ada orang bunian, ada tuyul, kuntilanak, sundal belong, arwah gentayangan, anggau, hantu pocong, roh jahat, dan sebagainya. wujudnya ada 1001. Kita percaya makhluk halus itu ada, karena dalam kitab suci Al Qur'an pun makhluk itu disebutkan ada. Secara logika pun ada benda-benda yang tak terlihat secara kasat mata seperti cahaya misalnya, ada sinar ultra violet, ada sinar laser, dan sebagainya. Bahkan ada benda yang tak tembus pandang menjadi tembus pandang bila dia bergerak sangat cepat, misalnya seperti baling-baling pesawat terbang.

Agaknya karena terinspirasi oleh kehidupan gaib, alam yang tidak nyata tersebut, yang membuat sesuatu menjadi serba mungkin, maka dewasa ini kita disuguhi amat banyak cerita-cerita dari dunia yang tidak nyata tersebut. Hampir setiap hari berbaeai saluran televisi menyiarkan berbagai bentuk dan berbagai versi kehidupan gaib ini. Cerita kehidupan supranatural ini dieksploitasi secara besar-besaran menjadi obyek bisnis, ada yang berupa paket program, seperti Gentayangan, Kismis (Kisah Misteri), Dunia Lain, Percaya Ngga Per-caya, dan sebagainya. namun ada pula yang dikemas dalam paket sinetron seperti Jin dan Jun, Tuyul Millenium, Pengantin di Lembah Hantu, Ular Siluman, Dukun Santet, Di sini Ada Setan, Jinny Oh Jinny dan masih banyak lagi judul-judul lainnya, ganti berganti.

Film-film itu menyuguhkan kehidupan yang serba aneh, mudah, instan, dan tidak perlu menggunakan akal sehat atau logika. Tontonannya ringan, lucu dan menghibur. Seseorang yang dalam kesulitan tiba-tiba saja ditolong oleh seorang gadis cantik yang kemudian berubah menjadi asap putih dan menghilang entah kemana. Bepergian tidak perlu menggunakan "angkot" (angkutan umum) yang seringkali tidak aman, gunakan saja permadani terbang. Bila mau kaya mendadak utus saja tuyul untuk mengumpulkan uang, atau pelihara jin dalam botol. Seorang gadis kecil yang dicopet tiba-tiba saja ditolong oleh bidadari cantik. Dengan satu kerdipan mata semua yang diinginkan terwujud. Tapi ada pula yang serem-serem, seperti orang tiba-tiba berubah menjadi ular, hantu yang tiba-tiba nyelonong ke kamar tidur, arwah yang gentayangan membalas dendam, makhluk penghisap darah manusia, pasangan tidurnya yang kemudian berubah menjadi kuntilanak, jailangkung yang mengerikan, dsb, dsb.

Di tengah upaya kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maraknya suguhan yang irrasional atau yang tidak masuk akal di layar televisi akhir-akhir ini terasa sebagai sesuatu yang paradoks. Cerita-cerita misteri itu agaknya boleh-boleh saja, di negeri maju sekali pun ada cerita-cerita seperti itu, seperti adanya film-film horror, drakula dan sebagainya. Tapi masalahnya (atau hebatnya?), di negeri kita dosis cerita-cerita yang irrasional itu amat sangat berlebihan.

Media massa kita baik cetak maupun elektronik, sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai pemberita dan hiburan, mereka mestinya juga sebagai sahabat yang selalu bersama kita, siang dan malam. Kalau yang hadir di depan mata setiap hari adalah kisah-kisah atau kejadian-kejadian yang irrasional, maka yang terbentuk nantinya adalah perilaku irrasional atau bahkan budaya irrasional. Akhirnya semua permasalahan selalu didekati dan diselesaikan secara irrasional. Indikasi ke arah itu kini terlihat dalam masyarakat kita. Ingin menjadi Menteri lari ke paranormal. Ingin menjadi gubernur atau bupati juga minta tolong kepada paranormal. Ingin menjadi laki-laki yang jantan dan perkasa, ada dukun yang siap membantu (maaf) membesarkan dan memper-panjang "senjata", sehingga iklan pengobatan alternatif sejenis ini sekarang menjamur. Pelayanan kesehatan meningkat, tapi apresiasi masyarakat tidak membaik sehingga banyak yang lari ke pengobatan alternatif. Syak wa-sangka pun subur. Ada beberapa contoh kasus yang saya dengar, orang yang semula diduga kena racun, ternyata kena tbc, yang semula diduga kena ilmu hitam, ternyata secara medis kena hepatitis atau radang hati.

Padahal sesungguhnya, kita sering mendapatkan petuah, masyarakat yang maju adalah masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan. Masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan adalah masyarakat yang terdidik secara baik, mengutamakan rasionalitas. Dia berpikir rasional, selalu menggunakan akal sehat.

Saya tidak hendak mempermasaiahkan pimpman SMU Handayani yang akhirnya terpaksa mendatangkan paranormal. Peristiwa di SMU Handayani ini memang aneh tapi nyata. Kesurupan adalah diagnosa yang paling gampang terhadap 25 orang siswi SMU Handayani yang tumbang pada hari pertama, disusul kemudian 15 orang pada hari berikutnya, bahkan beberapa guru perempuan termasuk dalam kelompok 15 ini. Untuk membuat diagnosa itu, tidak perlu seorang ahli penyakit atau tukang dokter seperti Dr Tabrani Rab atau Dr Ekmal Rusydi, atau Dr Andi Zainal. Seorang tukang penjaga sekolah pun bisa membuat diagnosa itu. Betul atau tidak itu urusan lain. Bila tidak ada yang membuat diagnosa lain, atau second opinion, maka diagnosa yang pertama menjadi pegangan.

Kesurupan artinya kemasukan setan atau roh jahat, itu menurut kamus bahasa Indonesia. Pertanyaannya tentu, kenapa roh jahat itu ada di sana, apa kepentingannya, bagaimana caranya dia masuk, kenapa yang dipilih hanya siswi-siswi dan guru perempuan.

Gejala apa ini sebenarnya? Kesurupan tidak mungkin dibuat-buat atau akal-akalan, menghindari PR misalnya. Tidak mungkin. Lantas kenapa? Kenapa kejadian itu tiba-tiba saja menimpa anak-anak didik dan guru-guru itu. Mungkin ada setan yang sedang lewat dan tergoda untuk menggangu, atau mungkin sekolah itu ada penunggunya, atau ada orang yang sedang mencoba ilmu sihirnya. Kita tidak tahu dan memang susah dicerna dengan akal sehat. Membaca Yassin dan mendatangkan paranormal adalah pilihan pertama dan itu sudah dilakukan. Agaknya perlu pula penanganan alternatif dengan mendatangkan ahli kimia untuk mendeteksi kemungkinan adanya gas-gas yang memabukkan yang mucul dari perut bumi di sekitar sekolah tersebut. Bukankah perut bumi Riau kaya akan bahan tambang dan gas?

Kita memang tidak boleh takabur, tapi manusia adalah makhluk yang paling mulia di sisi Tuhan. Lebih mulia dari jin, setan, bunian, dsb. Insya Allah dengan akal budi dan keyakinan manusia akan bisa mencari solusi terbaik.


(No. 135/Th III/ 07 - 13 Maret 2004)


Tulisan ini sudah di baca 235 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/380-Negeri-Orang-Halus.html