drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Teman Seperjalanan


Oleh : drh.chaidir, MM

BUKU adalah seorang teman seperjalanan, begitu kata Henry Ward Beecher (1813-1887), seorang penulis Amerika yang sekaligus juga seorang orator. Beecher lebih jauh mengatakan, "buku adalah sebuah taman, sebuah kebun buah, sebuah gudang penuh barang, sebuah pesta, seorang penasihat, bahkan sejumlah besar penasihat". Itu menurut barat. Menurut kearifan timur, dalam bahasa yang mengqolbu, buku adalah pelita hati.

Maka antara lain, dorongan pencerahan itulah yang telah membawa saya ke Riau Book Fair 2004 di Mal Pekanbaru, pada suatu malam yang basah kedinginan diguyur hujan. Pameran buku ini terlihat sangat bersahaja, baik dari sisi 'space' yang terbatas, mau pun di sisi peserta dan keanekaragaman buku yang dipamerkan. Saya yakin 'sepinya' buku-buku yang dipamerkan bukan karena telah diborong oleh sebuah perusahaan penerbit lain sebagaimana diisukan. Mungkin hanya masalah sosialisasi dan promosi saja. Atau barangkali karena malam itu hujan turun sangat deras, sehingga pengunjungnya terlihat sepi. Atau ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni tingkat apresiasi masyarakat terhadap buku.

Namun tanpa diduga, di pameran buku ini saya 'bertemu' dengan Vaclav Havel, budayawan Cekoslovakia. Perjumpaan itu tentu saja tidak "physically" tapi melalui buku karangannya yang telah diterjemahkan berjudul "Menata Negeri dari Kehancuran, Pemikiran tentang Demokrasi, Kekuasaan dan Kebudayaan". Buku itu tersuruk di stand Penerbit Dian Rakyat, dan hanya satu-satunya. Vaclav Havel adalah seorang penulis, seorang seniman, dan seorang budayawan bangsa Ceko. Hebatnya, pada tahun 1989, Vaclav Havel terpilih sebagai Presiden Republik Ceko-Slovakia yang pertama dan terakhir. Di sebut pertama, karena dia adalah presiden pertama setelah runtuhnya rezim komunis di negeri itu; dan disebut terakhir, karena kemudian Republik Ceko-Slovakia itu bubar menjadi Republik Ceko dan Republik Slovakia akibat semangat primordial yang amat berlebihan.

Begitulah fenomena sebuah buku. Buku bisa menjadi media perkenalan imajiner. Dia bisa melintasi be-nua, dia bisa mengharungi samudra, bahkan melintasi zaman sekali pun. Buku tidak mengenal batas-batas teritorial dan batas-batas kultural. Dia sahabat bagi se-mua, baik bagi kawan maupun lawan. Raja Ali Haji, menuliskan secara filosofis dalam buku Bustan al Katibin, bagaimana serangkaian kalam (kalimat) dapat mengubah perang menjadi damai. "Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam, adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat pedang. Maka itulah nyatanya. Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung".

Peristiwa-peristiwa besar dunia bermula dari sebuah buku atau dari kalam. Atau dapat dikatakan bahwa bukulah yang mengubah dan menggerakkan dunia. Kapitalisme menjadi anutan disebabkan oleh sebuah buku yang ditulis oleh Adam Smith (1723-1790) yaitu "An Inquiry Into the Nature and Cause of the Wealth of Nations" yang terbit tahun 1776. Adam Smith menjadikan pasar bebas sebagai ide sentral. Komunisme juga sama, menyebar dari buku Karl Marx (1818-1883), "Communist Manifesto" (1848) dan "Das Kapital" (1867). Jauh sebelumnya, gerakan Renaisssance dan Hu-manisme juga dibangun melalui pemikiran-pemikiran yang ditulis dalam berbagai buku. Dan tidakkah juga buku (kitab) yang membuat dunia ini diisi oleh hampir dua milyar Nasrani, 1 milyar lebih Islam dan seterusnya?

Sahdan pada masa lampau, buku dibuat orang dengan menggunakan daun Papyrus atau lontar, sehingga tidak berkembang secara baik. Penulisan buku di atas kertas dilakukan mulai abad ke-2, yaitu setelah kertas ditemukan oleh Tsai Lun pada tahun 105 masehi. Pener-bitan buku secara besar-besaran kemudian dilakukan setelah Johann Guthenberg (1400-1468) menemukan mesin cetak pada awal abad ke-15.

Dalam tradisi Melayu, buku mendapat tempat yang sangat terhormat. Ketika sebuah buku selesai ditulis, maka buku tersebut diarak ke istana dalam sebuah prosesi, seperti buku "Dzur al Manzum". Meski Raja Ali Haji (seperti juga Raja Aisyah Sulairnan, Abu Muhammad Adnan, Raja Ali Kelana, dan yang lain) adalah seorang bangsawan, tapi ia justru dihormati oleh rakyat dan bahkan orang Belanda pada rnasanya, karena ia seorang penulis buku. Ada sejumlah karya Raja Ali Haji yang membuat narnanya harum, antara lain Gurindam Duabelas, Bustan al Katibin, Mukaddima ft Intizam, Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat al Nafts, Silsilah Melayu Bugis, Syair Hukum Nikah, Syair Sinar Gemala, Mestika Alam, Syair Awal, Syair Hukum Faraid dan Suluh Pegawai. Dalam tradisi Eropa pra pencerahan, buku dianggap sebagai barang sihir sehingga sebelum dibaca terlebih dahulu dilakukan upacara suci. Tapi setelah era pencerahan, Bangsa Eropa kemudian menjadikan buku sebagai sumber perubahan.

Dalam contoh lain, kita dapat melihat bagaimana buku "Two Treatise of Government" karangan John Locke, "The Social Contract"-nya Jean Jacques Rousseau atau "Trias Politica" Montesqueiu memberikan sum-bangan bagi demokrasi liberal. Mungkin buku Mahathir "The Malay Dilemma" dapat dimasukkan dalam konteks perubahan paradigma Melayu Malaysia. Dalam hal pengaturan negara yang ideal, buku "Republik"-nya Plato sangat berperan, begitu juga dengan risalah Niccolo Machiavelli "The Prince" terhadap kemunculan pemimpin diktator.

Seorang filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1626) menyampaikan pandangannya, "manusia boleh saja mati", kata Bacon, "tetapi ia bisa memperpanjang umurnya, jika ia meninggalkan sesuatu yang abadi. Sesuatu yang abadi itu adalah karya. Sebuah karya yang lahir dari proses pemikiran, pemahaman, dan sekaligus kearifan. Karya itu bisa bernama buku dengan disiplin apa saja, bisa sebuah novel, dan sah pula sebuah puisi. Karya inilah yang bisa membuat seorang anak manusia dapat lebih bertahan dalam melawan waktu. Karya intelektual ini pulalah yang membuat seseorang yang mati tidak sekedar 'meninggalkan nama', tapi juga pencerahan, yang lebih tinggi dari sekedar kenangan.

Dengan segala keterbatasan, Riau Book Fair 2004 yang diselenggarakan di Mal Pekanbaru, patut diacungi jempol. Buku dengan fungsi pencerahan dan pencerdasannya sudah seharusnya secara terus menerus dimasyarakatkan. Secara jujur kita harus mengakui, kita belum mampu mengapresiasi buku sebagaimana mestinya. Hal ini terlihat, pemerintah kita belum sungguh-sungguh menjadikan buku sebagai barang yang berharga. Anggaran yang disediakan untuk pengadaan buku cukup besar, tetapi kuantitas dan kualitas buku-buku yang dibeli terkesan hanya untuk sekedar memenuhi target proyek. Sekolah-sekolah kita memerlukan buku-buku yang baik, karena buku-buku yang baik adalah juga guru yang baik.

Masyarakat modern sejahtera yang kita cita-citakan adalah masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, dan masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan memerlukan buku sebagai teman seperjalanan.


(No. 134/Th III/29 Februari - 06 Maret 2004)


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/379-Teman-Seperjalanan.html