drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Guruku Sayang Guruku Malang


Oleh : drh.chaidir, MM

PADA suatu hari, konon,Yung Dolah mengikuti Festival Gajah di Negeri Gajah, Thailand. Satu di antara sekian nomor yang diperlombakan adalah lom-ba membuat gajah menangis. Hadiahnya adalah berte-mu dengan Ratu Sirikit dan akan mendapatkan hadiah istimewa dari sang Ratu. Beberapa pawang gajah dari India, Srilangka, Tanzania, Angola, dan dari beberapa negera Afrika lainnya semua adu kebolehan, dan semua gagal. Gajah bergeming. Dia diam seribu basa.

Peserta terakhir adalah jago kita, Yung Dolah dari Riau. Dengan langkah gontai yang tidak meyakinkan dia maju ke tengah gelanggang. Yung Dolah agak lama berbisik di telinga gajah dan gajah itu pun mengangis sesenggukan. Penonton bersorak, Yung Dolah tampil sebagai juara. Ketika bertemu dengan Ratu Sirikit, sang Ratu yang heran hanya dengan berbisik saja Yung Dolah bisa membuat gajah itu menangis, bertanya apa yang dibisikkan Yung Dolah. Dengan ringan Yung Dolah menjawab: aku menceritakan nasib Umar Bakri, guru di negeriku, begini, begini. Eh,... malah sekarang gantian Ratunya yang menangis. Alamaaaaak. Gerangan apa yang terjadi dengan nasib guru di negerinya Yung Dolah ini ?

Umar Bakri dalam cerita Yung Dolah itu adalah seorang guru, tokoh fiktif, Pegawai Negeri Sipil, tetapi tidak bernasib baik seperti PNS lainnya yang bukan guru, yang umumnya masih bisa ngobjek atau setidak-tidaknya dapat uang lembur. Dia guru sekolah biasa yang juga harus menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah-sekolah umum. Dia tentu harus menghidupi isteri dan anak-anaknya. Pengeluaran setiap bulan lebih besar dari gajinya. Akibatnya dia terperangkap hutang dengan koperasi sekolah. Gajinya dipotong setiap bulan. Potongan gajinya ini lebih besar dari jumlah yang bisa dibawanya pulang untuk hidup selama sebulan, dengan kata lain, gali lubang tutup lubang pun dia tidak bisa. Ketekorannya makin lama makin besar. Dia sudah tidak punya ide lagi bagaimana memperbaiki keadaan keuangannya. Sebagai seorang guru yang baik, dia harus menunjukkan sikap dan perilaku terpuji di depan anak-anak didiknya. Sebab dia adalah pendidik manusia-manusia masa depan yang memiliki karakter, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. Sopan santun dijaga. Senyum di depan anak didik. Tapi di rumah dia pusing rujuh keliling dan menangis bersama isteri.

Cerita itu mungkin terlalu didramatisir. Tetapi cerita karangan Yung Dolah itu pada kenyataannya merupakan realitas kehidupan guru pada umumnya di negeri ini. Realitas itu adalah wajah kita. Suka atau tidak, rela atau tidak. Yang salah tentu bukan gurunya, yang salah adalah sistem kita. Atau yang lebih tepat lagi adalah komitmen kita, political will, nawaitu kita. Tentu ada guru yang bernasib lebih baik, seperti guru-guru yang memegang jabatan Kepala Sekolah, karena mendapat tunjangan khusus, tapi yang bernasib seperti Umar Bakri sungguhan, juga ada bahkan banyak. Dalam kapasitas ketua Dewan saya beberapa kali menerima aspirasi atau pengaduan tentang nasib guru yang kurang beruntung itu. Kejadian faktual yang pernah saya temui, dan sangat membekas dalam hati, bisa merupakan indikasi, ada guru-guru di tempat lain yang agaknya mengalami nasib yang sama, berteman kepahitan. Kepahitan itu, sesungguhnya acapkali tidak terungkap ke permukaan karena guru-guru ini pandai berminyak air. Atau karena mereka tidak mau mengeluh.

Ironisnya, masalah kesejahteraan guru ini sudah lama menjadi topik pembicaraan. Semua menyadari betapa besarnya peranan guru dalam mendidik anak-anak. Dan semua menyadari, adalah wajar sekali bila guru memperoleh kesejahteraan yang memadai. Mereka tidak perlu dibiarkan mengeluh terlebih dahulu, atau dibiarkan terjerat hutang, baru dibantu. Mereka tidak memerlukan bantuan, sebab mereka memang berhak menerima kesejahteraan yang layak. Bila perlu bahkan harusnya lebih baik dari peeawai negeri sipil biasa. Sebab, guru-guru inilah yang bertanggungjawab dalam menanamkan karakter bangsa dan nilai-nilai etika moral yang baik kepada anak-anak didik yang kelak menjadi bekal yang berharga bagi anak-anak didik tersebut bila nanti tumbuh menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Semua menyadari betapa berat dan mulianya tugas seorang guru. Dan ini terekspresi dari link Hymne Guru yang sering dinyanyikan:

"Terpujilah wahai Engkau Ibu Bapak guru
Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S'bagai prasasti trima kasihku 'ntuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa".


Semua kita menyebut guru itu adalah pahlawan karena jasanya yang besar dalam mendidik kita dan anak-anak kita. Tapi mereka tidak pernah diberi tanda jasa dan memang tidak ada tanda jasa untuk guru. Oleh karena itu guru sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Di sisi lain, guru sendiri juga tidak pernah mengharapkan tanda jasa.

Tahun demi tahun berlalu, zaman berganti zaman, namun penghargaan terhadap guru tak pernah luntur. Bila kita menengok bilik sejarah, kita akan terkesima betapa dari dulu guru ini mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi. Pada masa dinasti Abbasyiah, khususnya pada masa Harun al Rasyid, posisi guru sangat dihormati. Pada suatu ketika Harun al Rasyid bermaksud memanggil seorang ulama besar untuk mengajar ilmu agama padanya. Tapi apa jawaban yang ia terima? Cahaya tak datang kepada siapapun, tapi kepada cahaya seseorang harus datang. Setiap manusia dihadapan ilmu adalah seorang fakir, maka si fakirlah yang harus datang kepada ilmu. Pada masa itulah muncul para guru/ulama yang tak bisa dipaggil oleh penguasa. Guru bersama ilmunya adalah cahaya. Dia adalah sumber kefasihan, tempat orang-orang hijrah dari rumah kegagapan. Dalam Gurindam 12, Raja Ali Haji mengatakan: hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai, kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.

Nasib para guru, atau ulama, atau filsuf yang bertempur melawan kekuasaan bukan barang baru. Socrates karena dianggap meracuni pikiran anak muda Athena, dihukum minum racun. Plato pun pernah dihujat. Setelah itu Aristoteles. Semula ia adalah guru dari anak Raja Philipus dari Macedonia, Alexander The Great, tapi kemudian ia dibuang tatkala memprotes nafsu penaklukan Alexander. Hal yang sama terjadi juga pada Kong Fu Tse, dimana ajarannya berusaha dibasmi oleh dinasti Chin.

Secara fisik, dalam sejarah, para guru kalah berhadapan dengan kekuasaan, tapi tidak secara spiritual. Keberanian Socrates minum racun menunjukkan bahwa ia lebih kuat dari kekuasaan yang memaksanya. Dalam kasus Kampar, Riau, ketika guru dilecehkan dan kemudian mereka bangkit, unujuk rasa, yang terjadi pada hakekatnya adalah pertarungan kekuasaan lawan cahaya. Pertanyaan penguasa yang adil semestinya bukan mengapa engkau sehingga semua begini, tapi bertanyalah seperti yang disarankan oleh Emmanuel Levinas: apa salahku padamu, Sahabat?


(No. 133/Th III/22 - 28 Februari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 110 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/378-Guruku-Sayang-Guruku-Malang.html