drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Pesan Bangsa Binatang


Oleh : drh.chaidir, MM

PERSETERUAN bangsa burung dan bangsa serigala di negeri bangsa binatang, telah membuka kedok pengkhianatan bangsa kelelawar. Hukumannya tidak bisa diintervensi: bangsa kelelawar dilarang mencari makan di siang hari! Maka selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, bangsa kelelawar selalu mencari makan di malam hari. Di siang hari, ketika bangsa yang lain menikmati sinar matahari, mereka terpaksa bersembunyi di balik-balik dahan dan daun kayu. Konon, begitulah ceritanya. Itu dosa keturunan yang harus mereka tanggung. Tidak pula sebatas tujuh keturunan, tapi bertujuh-tujuh keturunan selama dunia terkembang.

Alkisah, bangsa serigala menyerang negeri bangsa burung. Pertempuran sengit tentu tak terelakkan. Bangsa kelelawar tidak bisa menahan diri untuk mengambil posisi non-blok. Mereka ikut bertempur membantu bangsa burung, namun ketika mereka membaca tanda-tanda bangsa burung akan kalah, mereka pun bersembunyi di dahan-dahan dan di balik daun kayu. Bangsa burung akhirnya kalah. Maka pulanglah bangsa serigala dengan sorak-sorai kemenangan sambil membawa pampasan perang. Bangsa kelelawar membaca peluang dan berga-bung dengan bangsa serigala, ikut berpesta-pora. Bangsa serigala protes: "Hei bangsa kelelawar, bukankah kalian bangsa burung dan tadi berperang melawan kami?" Bangsa kelelawar dengan tangkas menjawab, "kami memang memiliki sayap dan bisa terbang, tetapi tidakkah kalian lihat mulut kami? Mulut kami sama seperti mulut kalian hai bangsa serigala. Kami tidak memiliki paruh seperti bangsa burung, kita bersaudara". Bangsa serigala setuju dengan argumentasi bangsa kelelawar, dan mereka kemudian merayakan kemenangan bersama.

Suatu hari kemudian, bangsa burung yang rupanya telah belajar dari kekalahan, gantian menjadi agresor dan menyerang negeri bangsa serigala. Pertempuran sengit jilid dua tak terhindarkan. Bangsa kelelawar sudah barangtentu berperang membela bangsa serigala. Namun roda berputar, bangsa serigala mulai keteteran. Melihat situasi ini, bangsa kelelawar mulai mengundurkan diri, bersembunyi di balik dahan-dahan dan daun kayu. Bangsa serigala akhirnya kalah. Maka bangsa burungpun berpesta-pora merayakan kemenangannya. Bangsa kelelawar kembali memanfaatkan momentum dan ikut berpesta-pora bersama bangsa burung. Bangsa burung tentu saja protes: "Hei bangsa kelelawar, bukankah kalian termasuk bangsa serigala dan tadi berperang melawan kami?" Bangsa kelelawar dengan tangkas menjawab, "hei sahabat kami bangsa burung, mana ada serigala yang bisa terbang? Coba tunjukkan kepada kami! Ini menandakan bahwa kami adalah bangsa burung, sama seperti kalian." Bangsa burung pun mengiyakan. Namun satu-dua warga bangsa serigala dan bangsa burung menjadi saksi hidup pengkhianatan yang dilakukan bangsa kelelawar ini. Maka, mereka pun mengadakan rapat-rapat lintas bangsa, dan membuktikan dengan meyakinkan, bangsa kelelawar telah berlaku curang bin culas. Vonis pun dijatuhkan, bangsa kelelawar harus dihukum berat: tidak boleh mencari makan di siang hari! Tidak ada lembaga banding atau kasasi, itu hanya ada di dunia manusia dan mereka tidak percaya.

Dunia binatang adalah dunia yang memiliki nilai-nilai tersendiri, bangsa manusia menyebutnya sebagai nilai-nilai kebinatangan, lawan dari nilai-nilai kemanusiaan yang hanya dimiliki oleh bangsa manusia. Di dunia binatang memang tidak ada istilah malu-malu, walaupun mereka memiliki kemaluan. Mereka menganut sistem pergaulan bebas. Mereka boleh dan bisa kawin dimana saja dengan siapa saja. Tidak ada istilah isteri teman atau isteri orang lain. Tidak ada perselingkuhan. Ketentuannya jelas bin tegas: isteriku isterimu, isterimu isteriku. Semuanya boleh dan sah. Pengecualian hanya ada pada burung merpati. Burung merpati setia pada pasangannya, kemana pun mereka selalu terbang berdua, berdua selalu berdua. Oleh karena itulah bangsa manusia menyebut dua insan berlainan jenis yang mesra berkasih-kasihan, sebagai sepasang merpati. Atau barangkali merpati ini yang meniru manusia.

Di dunia bangsa binatang, hukumnya juga tegas, tidak terbantahkan: tidak ada hukum! Hukum mereka adalah hukum rimba, siapa yang kuat siapa yang menang. Mereka boleh zalim, boleh kejam, boleh tidak adil, boleh sewenang-wenang, boleh berkuasa sendiri, boleh menang sendiri, boleh makan sendiri. Tidak ada demokrasi, tidak ada reformasi, tidak ada kesetiakawanan sosial, tidak ada tenggang rasa, tidak ada rasa senasib sepenanggungan. Pengecualian barangkali hanya pada bangsa semut yang mampu menunjukkan semangat bergotongroyong. Semut mampu secara bersama-sama mengangkat dan mengusung beban yang besar dan berat jauh melebihi berat dan ukuran badan mereka.

Tapi satu hal menarik, pada dunia bangsa binatang: tidak ada dusta di antara mereka. Mereka apa adanya, makanan yang sudah ada di mulut pun tanpa basa-basi sah direbut oleh yang lain. Dan itu dilakukan secara terang-terangan dan tidak melanggar hukum. Tidak ada istilah berbohong, tidak ada istilah menohok kawan seiring. Prinsip satu kata (atau satu lolongan?) dan perbuatan sudah menjadi way of life. Tidak ada istilah lain di depan lain di belakang. Pengecualian barangkali pada bangsa kucing, yang suka malu-malu kucing. Di depan tuannya (tentu bangsa manusia), dia diam. Tetapi ketika tuannya meleng, ikan panggang itu pun dilarikannya. Padahal bila di antara sesamanya, kucing tidak pernah malu-malu kucing, mereka berebut makanan atau juga pasangan secara terbuka. Agaknya malu-malu kucing itu dipelajari oleh kucing dari manusia.

Di dunia bangsa binatang tidak ada istilah perkosaan atau pelecehan seksual, apalagi pencabulan bocah, juga sodomi. Tidak ada rumusnya seekor anjing jantan dewasa melakukan pelecehan seksual terhadap anak anjing betina yang belum dewasa. Rumus ini juga berlaku untuk bangsa-bangsa hewan lainnya, seperti harimau, singa, beruang, gajah, sapi, kerbau, dan lain-lain, bahkan juga bagi seekor monyet jantan yang nafsu seksnya dikenal tinggi sekalipun. Hewan-hewan jantan tidak akan pernah melakukan pelecehan seksual terha-dap anak-anak hewan betina yang belum dewasa, apalagi melakukan sodomi terhadap anak-anak hewan jantan. Jangankan terhadap anak-anak binatang, terhadap binatang betina yang dewasa saja, binatang jantan dewasa tidak akan melakukannya sembarangan.

Binatang-binatang itu memang bisa melakukannya di mana saja, di tempat terbuka atau tertutup tidak jadi soal, tetapi binatang jantan dewasa tidak akan pernah tertarik pada binatang betina yang tidak sedang birahi. Binatang betina yang sedang birahilah yang dikawini oleh sijantan. Binatang betina yang sedang birahi mengeluarkan suara-suara dan orama khas akibat pengaruh hormonnya. Aroma itu bahkan sampai berkilo-kilo meter jauhnya dan akan terciumi oleh sang pejantan.

Umumnya nilai-nilai kebinatangan itu memang buruk, karena mereka dicipta oleh Sang Pencipta tidak memiliki akal budi, tapi mereka memiliki naluri dan instink yang umumnya sangat tajam. Adakalanya pesan dari dunia bangsa binatang patut juga direnungkan. Nilai-nilai yang buruk, enyahkan. Sesuatu yang baik, dari binatang sekali pun, apa salahnya kita becermin.

(No. 131/Th III/8 - 14 Februari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 159 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/377-Pesan-Bangsa-Binatang.html