drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Ijazah Palsu


Oleh : drh.chaidir, MM

DUNIA ini memang penuh dengan fenomena. Segalanya seakan diciptakan berpasangan. Ada laki-laki ada perempuan, ada siang ada malam, ada Bush ada Saddam, ada bumi ada langit, ada api ada air, ada timur ada barat, ada hulu ada hilir, ada kiri ada kanan, ada baik ada buruk, dst, dst. Rangkaiannya bisa panjang berjela-jela laksana rangkaian protein DNA dalam sel tubuh manusia. Senjata rudal misalnya, tidak perlu diri-saukan betul sebab ada penangkisnya. Antigen (kuman atau virus penyakit) yang masuk ke tubuh manusia, pasti dilawan oleh antibodi.

Maka, jangan disesalkan dan tangisi bila cinta sejati juga ada pasangannya: cinta palsu. Cinta palsu diciptakan agar manusia bisa memaknai dan menikmati indahnya cinta sejati. Ijazah asli juga sudah ditakdirkan berpasangan dengan ijazah palsu, laksana matahari yang tak terpisahkan dari mendung. Semua itu agaknya sudah given, sudah dari sononya. Kenapa ada yang palsu, karena ada yang asli. Kenapa disebut asli, karena ada yang palsu. Keaslian semakin eksis bilamana ada kepalsuan. Tanpa kepalsuan, keaslian akan kehilangan makna. Kata orang bijak anda tidak akan pernah menikmati matahari bila tidak ada mendung. Keaslian atau kesejatian dipalsukan karena ianya tak tergapai, atau barangkali telah terlalaikan. Cinta dipalsukan karena orang gagal membangun cinta sejati. Ijazah dipalsukan karena gagal mendapat ijazah asli.

Cinta palsu atau ijazah palsu sebetulnya serupa tapi tidak sama. Serupanya, keduanya sama-sama tidak asli alias imitasi, keduanya sama-sama memakai pakaian kepalsuan, dan keduanya adalah penipuan, yang apabila merugikan pihak lain, endingnya bisa berakhir di pengadilan. Yang tidak sama adalah korbannya. Cinta palsu korbannya satu pihak atau kedua belah pihak, bisa laki-laki atau perempuan, bisa keduanya, tapi bisa juga yang menyerupai laki-laki dan perempuan sekaligus. Sedangkan ijazah palsu korbannya adalah masyarakat. Masalahnya, ijazah palsu itu - agaknya karena direncanakan secara licik dan licin - seringkali merugikan ijazah asli. Betapa tidak, ongkosnya jelas bersaing. Untuk mendapatkan ijazah asli, seseorang harus berkorban materi, waktu, tenaga dan pikiran. Dan sebagian harus menyeberang samudra. Seseorang juga harus bertungkus lumus tiga, lima atau enam tahun, atau sepuluh ta-hun pada satu penjenjangan, untuk mendapatkan ijazah asli, dan tidak sedikit pula yang harus menjual kebun atau kerbau, bahkan adakalanya diperoleh dengan pengorbanan yang berurai air mata.

Sedangkan yang bernama ijazah palsu, pengorbanan bertahun-tahun itu tidak perlu dilalui. Ianya instan, kilat, jalur bebas hambatan, mudah dan relatif murah, simsalabim, dalam satu kali tepuk saja jadilah ijazah, laksana disulap. Persoalan halal atau tidak, atau harus nyerempet-nyerempet bahaya, itu urusan lain.

Ada demand ada supply, ada yang memerlukan, maka ada yang menjual jasa. Kasus ijazah palsu sesungguhnya telah mencuat dalam beberapa tahun terakhir ini, semenjak beberapa calon kepala daerah, baik bupati atau walikota maupun gubernur tersandung persyaratan akademis. Kini, ketika musim caleg (calon legislatif) tiba, agaknya semakin banyak yang tersandung kasus serupa karena persyaratan untuk menjadi seorang caleg minimal harus memiliki ijazah Sekolah Lanjutan Atas. Sesungguhnya itu adalah persyaratan minimal bagi seseorang yang ingin mencalonkan diri, atau dicalonkan oleh partainya. Sebab na-manya saja sudah besar : calon anggota legislatif. Artinya, bila yang bersangkutan terpilih, maka dia akan menjadi anggota legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota)

Seorang anggota legislatif, karena dipilih melalui pemilihan umum, dia adalah wakil rakyat, dan menjadi anggota sebuah lembaga yang tugasnya adalah membuat legislasi, membuat undang-undang, membuat peraturan-peraturan daerah dan kebijakan-kebijakan penting lainnya. Aturan itu nantinya akan dilaksanakan oleh pemerintah. Jadi sesungguhnya, kedudukan lembaga legislatif itu sangat penting, tidak hanya sekedar formalitas. Bisa dibayangkan, apa jadinya bila lembaga yang demikian terhormat, diisi dengan kepalsuan.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah, gejala penyakit apa ini seseungguhnya. Ariel Heryanto, seorang pengamat sosial-budaya dari Universitas Melbourne, Australia dan Mudji Sutrisno, dosen filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dalam Harian Kompas (19/ 01/04) menyebutkan, ini cermin dari kemunafikan dan kedangkalan moral. Ariel berpendapat: "Gejala itu berpangkal dari lemahnya kepastian hukum. Jika tidak ada upaya-penegakan hukum secara ekstrim, (demi tujuan) masyarakat terbiasa menghalalkan segala cara." Mudji lebih jauh berpendapat: "Inilah rangkaian panjang dari penghambaan terhadap simbol-simbol formal di masyarakat. Untuk menggapai posisi kehormatan di masyarakat, tidak sedikit orang yang terpaksa mendustai diri sendiri. Demi melengkapi persyaratan formal, orang yang tak sungkan memalsukan ijazah."

Kapasitas seseorang itu sesungguhnya tidak diukur dari ijazah atau sederetan panjang gelar kesarjanaanya, tapi diukur dari potensi akademisnya. Dalam hal ini Gubernur Riau, Rusli Zainal benar, ketika suatu kali menyampaikan dalam pidatonya, penulisan namanya tidak usah menggunakan embel-embel titel kesarjanaan. "Cukup tulis Rusli Zainal saja," kata Gubernur. "Untuk apa titel yang berderet sejengkal di depan dan sejengkal di belakang nama bila tidak diikuti dengan kompetensi."

Kemampuan atau kompetensi memang tidak bisa diukur hanya dari gelar kesarjanaan. Di negeri maju yang masyarakatnya telah berbasis ilmu pengetahuan, orang tidak berlomba-lomba memasang gelar. Sebab yang menjadi ukuran bukan panjangnya gemi, yang dikedepankan adalah kompetensi atau kemampuan. Seorang sarjana belum tentu memiliki potensi yang besar dalam dirinya. Dan kapasitas ini bisa diukur melalui suatu test potensi akademis. Manusia itu boleh jadi juga ibarat sebuah perahu, ada yang daya muatnya kecil, ada yang daya muatnya besar. Kalau diisi secupak saja sudah oleng, bagaimana mungkin untuk mengangkut muatan bergantang-gantang. Sulitnya, kapasitas itu tidak bisa dibeli, tidak instan dan tidak bisa dibuat-buat. Seseorang yang memilki kapasitas kecil, tidak akan mampu dibebani tugas untuk menyelesaikan berbagai masalah. Diberi satu permasalahan saja sudah peeening.

Tapi bukan pula berarti orang tidak perlu meraih pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi itu penting, sebab itu menjadi bekal untuk secara terus-menerus meningkat-kan kemampuan secara lebih berkualitas karena seseorang itu dibekali ilmu pengetahuan dan berpikir sistematis.

Ijazah palsu adalah sebuah pelajaran pahit yang syarat dengan muatan moral, muatan politisnya barangkali tidaklah seberapa. Logika masyarakat umum, bila dalam proses caleg saja sudah penuh dengan kepalsuan, apalagi nanti kalau kekuasaan sudah berada di tangan. Semogalah episode kelam ini, hanya sebuah episode pendek dalam proses kita menuju masyarakat madani yang berbasis ilmu pengetahuan itu. Kita hams mampu belajar dari kekeliruan yang kita buat. Cinta palsu, ijazah palsu, barangkali akan selalu ada di muka bumi ini, tapi biarlah tidak merupakan bagian dari masyarakat kita. Negeri ini biarlah penuh dengan kesejatian, bukan dengan kepalsuan.


(No. 129/Th III/25 - 31 lanuari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/376-Ijazah-Palsu.html