drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 5

Pondok Nabi


Oleh : drh.chaidir, MM

MATA kita tiba-tiba terbelalak oleh sebuah kenyataan, ada sekelompok pengikut aliran agama yang tergabung dalam sekte Pondok Nabi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sangat percaya bahwa kiamat itu datang pada tanggal 10 November 2003. Pada saat yang ditentukan itu, demikian khotbah pemimpin sekte berulang-ulang dan berhari-hari, Tuhan akan mengangkat jiwa mereka dan menerbangkan mereka ke surga. Maka, jemaatnya pun khusuk mempersiapkan diri dencan sungguh-sungguh, tak peduli apa kata orang. Dari berbagai berita yang bisa kita ikuti di media massa, tak kurang dari 283 orang jemaat, laki-laki perempuan, besar dan kecil, termasuk Rasul-rasul dan para Nabiyah, telah siap lepas landas menuju surga yang dijanjikan.

Namun ternyata hari kiamat itu belum datang sebagaimana dikalkulasi dan diprediksi oleh pemimpin sekte, Mangapin Sibuea. Dan sekte Pondok Nabi ini pun dibubarkan oleh polisi dan para pemimpinnya ditangkap. Adakah yang salah? Bukankah agama lain juga mempercayai akan datangnya Hari Kiamat? Masalahnya, menurut ulama dan penegak hukum, sekte Pondok Nabi ini telah menyimpang dari ajaran yang benar. Pucuk pimpinan sekte, Mangapin Sibuea, telah ditahan semenjak pertengahan tahun 2002 oleh Kejaksaan karena alasan menyebarkan ajaran sesat.

Rela atau tidak rela, sekte Pondok Nabi merupakan tamparan terhadap rasionalitas kehidupan masyarakat modern dewasa ini yang sangat agresif dan ditandai dengan hasrat kebendaan yang seakan tak terkendalikan. Jemaat sekte ini bukanlah orang-orang yang bodoh dan buta huruf. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sudah mengenyam bangku pendidikan, bahkan ada yang tamatan perguruan tinggi terkenal. Tapi lihatlah, mereka rela menjual semua harta benda dan anak-anak mereka tidak perlu disekolahkan, karena mereka akan segera diangkat ke surga. Irrasionalitas di tengah belantara rasionalitas.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri tercinta yang malang ini? Syndrome apa ini sesungguhnya? Belum lagi sembuh luka di wajah umat Islam dengan stigma ekstrimis, walaupun sudah berulang-ulang ditegaskan bahwa aksi teror vane terjadi tidak ada kaitannya dengan Islam, kini wajah umat Kristen pula yang tercoreng dengan ajaran sesat seperti sekte Pondok Nabi itu. Kita boleh bersungut-sungut dengan adanya aksi teror dan munculnya ajaran yang menyimpang itu, tetapi aksi teroris dan ajaran sesat itu, yang telah mencoreng lembaran kehidupan kita adalah sebuah realitas. Kecelakaan peradabankah namanya?

Adakah ini sebagai sebuah wujud kerapuhan atau kemiskinan spiritual masyarakat modern? Manusia me-mang akan menemukan kehampaan diri manakala ia diterjang oleh badai kehidupan yang tidak menyisakan harapan. Ada banyak harapan di negeri ini, tapi harapan itu tidak terdistribusi secara berkeadilan. Lingkungan tidak lagi bersahabat, solidaritas menipis. Dalam kondisi demikian barulah manusia menyadari otoritas Tuhan, namun Tuhan juga mengajari kita untuk berpikir sehat, berpikir rasional untuk memahami sebuah irrasionalitas.

Agama hadir sesungguhnya tidak untuk menimbulkan masalah bagi peradaban, tetapi justru rahmat bagi umat manusia penghuni alam semesta ini. Agama membuat tingkat kesejahteraan yang kita peroleh bisa tampil dalam wajah yang manusiawi, ada keseimbangan harmonis antara gairah material dan spiritual. Sebab agama sesungguhnya adalah alat untuk menetralisir perilaku masyarakat yang anomi akibat gairah kebendaan yang luar biasa, agresif dan kejam. Agama harusnya mampu mengingatkan kita kapan harus kembali kepangkal jalan.

Pemahaman kita, memang, setiap agama mempunyai pengikut yang beraneka ragam suku bangsa, bahasa dan adat istiadat. Kemajemukan ini agaknya telah menimbulkan aliran-aliran tertentu dalam sebuah ajaran agama. Namun demikian, kemajemukan barangkali bukan satu-satunya alasan untuk menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap sebuah ajaran. Intensitas tingkat pencarian dan pendalaman dari pemeluk terhadap makna sebuah ajaran agama itu sendiri, ikut pula bermain. Ada pemeluk agama yang hanya memerlukan status agama dalam KTP, ada yang sudah cukup puas dengan pengetahuan tentang agama seadanya dan turun-temurun. Orang pergi ke masjid atau ke gereja atau ke kuil, dia berangkat, orang tiba dia sampai. Ada pemeluk agama yang mengikuti ajaran-ajaran agama dalam kaidah umum, tapi ada pula yang tidak puas dengan hanya hal hal yang bersifat umum. Seseorang atau sekelompok orang, dengan berbagai macam latar belakang, sangat serius melakukan kajian-kajian dan pendalaman terhadap ajaran agama yang dianutnya, namun kelompok lain acuh tak acuh. Tidak dapat dipungkiri, latar belakang suku bangsa, pendidikan, adat istiadat, lingkungan keluarga dan pengalaman hidup, cukup berpengaruh bagi seseorang dalam memberikan apresiasi dan pemahaman terhadap ajaran agamanya.

Perbedaan pemahaman, interpretasi, intensitas pendalaman dari pemeluk suatu agama memberi peluang munculnya aliran-aliran atau sekte. Namun aliran itu pun masih bervariasi, ada aliran dalam kanal yang lebar yang memberi ruang toleransi luas. Tetapi ada pula yang bergerak dalam aliran sempit dengan aturan yang sangat ketat dan tidak memberikan ruang toleransi. Sedikit saja keluar dari demarkasi, pengikutnya sudah dianggap murtad.

Ajaran agama pada jalur yang sempit itu memer-lukan tingkat pemahaman yang tinggi dari pemeluknya, sebab bila tidak, maka yang akan terjadi adalah perilaku yang menyimpang atau bahkan membuat orang menjadi gila atau setengah gila. Dengan penguasaan ilmu agama sebagai seorang pemula, seyogianya tidak memasuki wilayah yang sempit, sebab misinterpretasi akan mudah terjadi. Kalau masih kelas "orang pergi kita berangkat atau orang tiba kita sampai", sebaiknya jangan memasuki jalur khusus, gunakan sajalah jalur umum. Jalur sempit yang rumit itu biarlah untuk yang berkelas "profesor" saja dalam ilmu agamanya, begitu suatu kali Alwi Shihab pernah saya dengar dalam ceramahnya. Sehingga nilai-nilai agama sebagai penetralisir hasrat-hasrat yang liar, dapat masuk secara lembut. Namun demikian bukan pula berarti kita memudah-mudahkan agama dan membiarkan pemahaman agama selamanya menipis, pencarian makna harus terus menerus dilakukan sehinggar agama sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi umat dan mencerahkan.

Kita harus mampu menarik pelajaran dari peristiwa Pondok Nabi dan sejumlah peristiwa lainnya yang me-nerpa wilayah spiritual masyarakat kita, dan menangkap "pesan" dari permasalahan ini secara positif. Semogalah ini nanya sebuah episode pendek dan bukan sebuah pertanda kerapuhan spiritual masyarakat kita yang terkenal agamis.

(No. 119 Th III/16 - 22 Nopember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 185 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/375-Pondok-Nabi.html