drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Gelombang Air Mata


Oleh : drh.chaidir, MM

GELOMBANG Tsunami hanya 10 menit saja menerjang Negeri Serambi Mekkah, Nangroe Aceh Darussalam, tapi gelombang air mata belum jua reda, kendati tahun telah berganti. Barangkali gelombang air mata itu memang tak akan pernah berhenti selamanya. Duka yang ditinggalkannya terlalu dalam untuk dihibur dengan kata-kata pelipur lara. Hati yang hancur berkeping-keping, tak ada penawarnya.

Teramat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata betapa keceriaan hanya dibatasi selaput tipis dengan duka nestapa. Benar kataorang tua-tua, malang tidak berbau. Pagi yang cerah di Pantai Lhok Nga, Banda Aceh, Ahad itu mestinya penuh dengan tawa canda anak-anak muda dan remaja bahkan anak-anak. Tak ada kekhawatiran orang-orang tua melepas anak-anak-nya menikmati udara pagi yang segar di pantai. Tak ada tanda-tanda alam bahwa pagi Ahad itu akan ada malapetaka yang mengubah segala-galanya, mengubah sejarah hidup anak manusia. Ketika kemudian tiba-tiba saja terjadi gempa bumi yang diikuti dengan gelombang tsunami yang maha dahsyat itu. Peristiwa itu bukan mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan yang amat sangat pahit. Itu kiamat kecil.

Kecuali dalam kitab suci Al-Quran, kita memang belum pernah mendengar air laut tumpah ke darat tanpa sebab musabab. Gelombang laut Selat Sunda yang menerjang ujung Pulau Sumatera dan Banten yang terjadi pada tahun 1883, yang menewaskan 36.000 jiwa, jelas akibat meletusnya Gunung Krakatau. Bukankah tidak ada gunung berapi di Aceh? Kita pun belum pernah mendengar gelombang air laut bisa setinggi pohon kelapa bergulung-gulung ke darat akibat gempa bumi, walaupun dalam beberapa literatur disebutkan adanya kejadian seperti itu di Afrika dan Eropa. Tapi itu sudah lama sekali, berabad-abad yang lampau. Air bah zaman Nabi Nuh pun diyakni tidak akan pernah lagi terulang. Tuhan tidak lagi akan mempertontonkan kekuasaannya dengan meluapkan air laut sampai beratus-ratus mil ke darat dan sampai mencapai wilayah di sekitar kota Baghdad sekarang. Manusia diyakini tidak lagi perlu diberi pelajaran seperti di zaman kenabian.

Walaupun dalam imajinasi kita tidak separah air bah di zaman nabi Nuh, namun gelombang Tsunami yang melanda kota-kota pantai di NAD pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, tetap merupakan malapetaka terbesar milenium ini. Bom atom yang dijatuhkan oleh pesawat pembom Amerika pada tanggal 6 Agustus 1945 di kota Hiroshima yang menimbulkan korban 80.000 jiwa, kalah dari gelombang tsunami di Aceh, demikian pula bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki tiga hari kemudian, yang menelan korban 75.000 jiwa. Lagi pun itu jelas ulah manusia. Di Aceh lebih 200 ribu jiwa tewas dan puluhan ribu lainnya hilang ditelan laut.

Musibah itu menjadi amat sangat dramatis karena disajikan oleh jaringan media komunikasi informasi secara dramatis pula. Malapetaka itu pun terjadi dalam logika zaman yang sudah jauh berbeda, ketika berbagai pertanyaan pada masa sekarang tidak lagi tabu diung-kapkan. Kenapa musibah itu terjadi di Negeri Serambi Mekkah? Kenapa anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban, kenapa orang-orang yang tidak ikut-ikutan konflik dengan pemerintah, yang digulung gelombang? Kenapa Sumatera, kenapa Indonesia? Cerita duka itu tak akan pernah habis. Bisakah kita memba-yangkan duka nestapa seorang ibu kehilangan tujuh orang anaknya sekaligus? Atau anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Mereka belum pernah dipersiapkan untuk hidup sendiri apalagi dalam ketiadaan harta benda dan sesuatu untuk dimakan? Belum lagi anak-anak yang beranjak remaja, yang sangat memerlukan bimbingan orang tua dan sudah mengerti bahwa mereka perlu sekolah. Kini tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita. Harapan mereka pupus.

Hari ini, ketika tulisan ini disusun, ketika mayat-mayat masih berserakan, ada saja manusia yang tak memiliki perasaan sama sekali, mulai memperdagang-kan anak-anak korban bencana. Bantuan pun diselewengkan. Kenapa Tuhan tidak menurunkan siksaan terhadap orang-orang yang tidak berperikemanusiaan itu? Orang-oi'ang yang bermental seperti itulah seharusnya yang/digulung oleh tsunami. Tapi sekali lagi, ini adalah logika manusia yang naif.

Bencana gelombang tsunami yang melanda Aceh bagaimanapun menyadarkan kita terhadap banyak hal dan membawa banyak pesan. Hari esok ternyata penuh misteri. Tidak ada sesiapa yang bisa memastikan apakah esok hari kehidupan akan berjalan sesuai skenario. Keyakinan kita semakin kokoh, manusia hanya bisa merencanakan. Wilayah gaib memiliki logika tersendiri yang tidak selalu pas dengan logika duniawi.

Alam ternyata juga menyimpan kearifan yang tidak tersimak dengan baik oleh manusia. Pulau Simeuleu yang terletak dekat episentrum gempa, warganya justru selamat. Meninggal lima orang dari sekian puluh ribu korban di kota-kota yang dihajar tsunami, yang jarak-nya justru lebih jauh dari pusat gempa, adalah sebuah keajaiban. Ada kearifan lokal yang menjadi peninggalan nenek moyang mereka. Bila terjadi gempa dan air laut surut secara mendadak, larilah ketempat yang tinggi. Karena gelombang besar akan datang. Dan itulah yang terjadi.

Pelajaran tidak hanya dari tanda-tanda alam yang bisa dibaca. Teknologi juga ikut berbicara. Negara-negara di tepi Samudera Pasifik umumnya telah memiliki sensor tsunami. Gempa bumi sulit diduga, tetapi munculnya monster gelombang tsunami bisa diperkirakan sehingga masyarakat bisa diberi peringatan dini (early warning), yang disebarkan melalui teknologi informasi. Negeri kita yang terletak pada tepi yang berdepan dengan Lautan Hindia, tidak hanya belum memiliki perangkat sensor tsunami, kita pun belum memiliki tradisi dan belum terbiasa dengan pemanfaatan teknologi informasi. Apresiasi kita terhadap teknologi informasi sangat rendah. Jangankan perangkat komunikasi yang memerlukan keterampilan, pesawat TV atau radio saja belum tentu ada.

Malapetaka itu membuat seluruh dunia simpati dan ramai-ramai melakukan operasi kemanusiaan. Ternyata orang-orang baik di dunia ini lebih banyak dari pada orang-orang yang tidak baik. Gelombang bantuan mengalir dari negara-negara kaya, demikian pula para relawan yang rela mengorbankan kesenangan duniawinya dan mengambil resiko jiwa bertungkus lumus di daerah bencana yang sekaligus juga masih berstatus daerah konflik. Ancaman keselamatan jiwa tidak hanya masalah keamanan, tapi juga bahaya penyakit menular, tapi itu semua mereka abaikan dengan niat tunggal: misi kemanusiaan. Ini sebuah pelajaran yang mahal. Agaknya sekaranglah saatnya kita mengendapkan perasaan dan merenungi ulang perbedaan-perbedaan yang menyebabkan kita berperang antar sesama. Kata orang, perang saudara di Aceh telah menyebabkan Negeri Serambi Mekkah itu tertinggal satu generasi, sekarang gelombang tsunami menyebabkan negeri itu hilang satu generasi.

Tiga jam saya berada di Banda Aceh bersama rombongan Gubernur Riau pada tanggal 30 Desember 2004 lalu memberikan kesan yang menyesakkan dada. Indonesia wajar menangis. Dari Bandara Blang Bintang, kami melintas pemakaman massal korban. Tak ada lagi centa penyelanggaran jenazah sesuai kaidah. Mayat-mayat itu terpaksa didorong demikian saja ke dalam lubang besar yang digali dengan ekskavator. Manusia tak mampu lagi melakukannya karena demikian banyaknya korban. Kami terus menelusuri jalan, melewati kediaman Gubernur NAD, berbelok, melintasi hotel Kuala Tripa yang porak poranda, dan kemudian me-lintasi Mesjid Baiturrahman.

Rute pendek di jantung Kota Banda Aceh ini adalah bagian dari perjalanan yang amat mencekam dan memilukan. Air mata pun tak kuasa dibendung melihat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan di pinggir jalan, dewasa dan anak-anak. Sudah banyak yang dimakamkan, tapi masih banyak yang tertinggal belum sempat dievakuasi karena keterbatasan tenaga dan peralatan. Itu sudah hari keempat pasca bencana. Terbayanglah betapa banyaknya mayat-mayat yang berserak-an sejak hari pertama, sesuatu yang tak bisa terjangkau oleh logika manusia. Dunia ini fana


(No. 177/Th III/10 - 16 Januari 2005)


Tulisan ini sudah di baca 147 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/374-Gelombang-Air-Mata.html