drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Membaca Ombak


Oleh : drh.chaidir, MM

ADA siklus alam yang tidak berubah, bernama ombak. la tak pernah letih bergulung-gulung me-nuju dan menepuk pantai, terurai demikian saja, tapi kemudian datang lagi dan datang lagi. Waktu juga, detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun, bahkan abad demi abad berlalu, tapi kemudian muncul lagi, tak pernah ada yang sama. Hidup dan kehidupan manusia adalah fenomena lain yang tak kalah menariknya. Laksana ombak, laksana waktu, ia datang dan berlalu, dan kemudian datang lagi bcrsama berpikul-pikul permasalahan yang menjadi saudara-saudara kembarnya, tak pernah ada yang sama.

Ombak adalah tanda-tanda kehidupan, kawan bermain anak nelayan. Tapi ombak sekali sekala bisa ganas memangsa siapa saja yang alpa membaca tanda-tanda. Demikian pula hidup dan kehidupan. Permasalahan adalah tanda-tanda kehidupan yang membuat manusia berakal budi dan berkarya. Permasalahan demi permasalahan tak akan pernah berhenti menerpa dan sekaligus menempa manusia unruk senantiasa menggunakan akal budinya membaca dan mencari solusi terbaik.
Ribuan bahkan jutaan solusi telah ditemukan melalui pengalaman empiris dan perdebatan di ruang-ruang symposium dan seminar. Tetapi solusi terbaik hari ini segera menjadi basi esok hari, atau dalam tenggang waktu yang tidak terlalu lama, bahkan adakalanya akan menjadi masalah lain yang lebih serius dan harus dicarikan solusi baru, demikian seterusnya.

Permasalahan hidup dan kehidupan adalah ombak dalam realitas sosial yang tidak boleh tidak, sebisa-bisanya harus dibaca dengan segenap kecerdasan dan kearifan, dan kita tak pernah bisa lari darinya. Ibarat ombak, permasalahan itu hanya masalah besar-kecil, bergelora atau tidak bergelora, dan juga angin yang menyertainya. Angin yang sepoi-sepoi cenderung memanjakan, tapi angin topan membuat ombak bergolak dan berbahaya.

Akhir-akhir ini masyarakat kita akrab dengan ombak-ombak kehidupan. Pasang naik pasang surut, adakalanya tenang menghanyutkan, adakalanya bergelombang dahsyat dan menggulung semuanya. Kita menjadi bersahabat dengan terma-terma buram dan muram wabah penyakit, banjir, gempa bumi, topan badai, tanah longsor dan bahkan Anyir darah. Kita juga diingatkan dengan banyaknya kecelekaan-kecelakaan musibah kehidupan, sebagian diantaranya akibat kesalahan manusia (human error), tapi sebagian lain di antaranya karena manusia tidak mampu menundukkan fenomena alam dan harus menyerah tanpa mampu memberikan "pemberontakan" yang berarti.

Tragedi kehidupan tidak hanya itu, pada segmen lain kita menghadapi berbagai macam "wajah" yang sangat merisaukan. Kita bersikukuh mengatakan bahwa kita adalah homo sapiens (manusia pemikir), tetapi kenyataannya yang lahir adalah generasi homo homini lupus (manusia-manusia serigala yang memangsa sesama). Masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dengan ciri rasionalitas yang kita idam-idamkan, masih jauh panggang dari api, karena yang populer justru barisan panjang "uka-uka". Padahal kita sudah bersusah payah menyekolahkan anak-anak supaya mereka mampu berpikir rasional. Masyarakat kita menjadi masyarakat yang mudah panik. Takut diterkam harimau, kita lari ke kandang buaya. Takut hantu, mereka lari ke kuburan. Takut preman kita berkawan dengan mafia.

Para peramal boleh meramal bahwa tahun 2005 Indonesia akan mencapai masa keemasan (semogalah demikian), tapi sinyal ke arah itu nampaknya masih sangat kabur. Terlalu banyak pekerjaan rumah dan saudara-saudara dari pekerjaan rumah. Perahu kita pun terlalu sarat dengan penumpang yang tak jelas identitas, integritas, dan kemauannya. Mereka tidak pernah mau mendayung serentak. Para petinggi kita pun terlalu banyak agenda tersembunyi, yang hanya diketahui oleh inner circle. Di depan publik mereka selalu berteriak transparansi padahal semua mahfum bahwa memelihara agenda-agenda tersembunyi sama saja dengan sebuah perselingkuhan integritas. Dan itu virus yang menyebarkan hipokritisasi. Lebih dari itu agenda-agenda tersembunyi akan berputik sak wasangka dan buahnya yang ranum adalah fitnah.

Pemberantasan kemiskinan dan kebodohan misalnya, adalah program yang mulia, yang tidak terbantahkan. Tapi dengan analogi sederhana dari orang-orang sederhana, sangat layak kita renungkan, program itu kini menjadi ibarat gula. Semut-semut datang berebutan bersama teman-temannya memakan semuanya dan kemudian mereka rela mati di sana.

Maka, bukanlah sesuatu yang aneh bila ditemukan bangunan sekolah seperti kandang ayam, guru-guru yang terabaikan, buku-buku yang sangat minim (walau-pun anggaran pengadaan buku sangat besar) dan murid-murid cacingan karena kurang gizi dan lingkungan yang kotor. Pendidikan berkualitas hanya lips service. Bukan karena ketiadaan anggaran, tapi pada dasarnya salah urus. Senjua menjadi semut.

Wabah malaria yang merenggut beberapa nyawa di Indragiri Hilir adalah kejadian yang berulang. Malaria ini pada dasarnya adalah juga malaria salah urus. Beberapa wilayah di Indragiri Hilir merupakan daerah endemis malaria dan untuk itu mestinya sudah ada rumus jurus yang mangkus. Bahwa malaria di sana disebut erat kaitannya^ dengan kemiskinan dan ketidakmampuan, barangkali ada benarnya tetapi eksploitasi yang berlebihan terhadap asumsi itu sama saja dengan membenamkan penduduk miskin makin dalam ke dalam lumpur di kuala Sungai Indragiri itu.

Banjir, kini juga hadir setiap tahun, semakin lama semakin parah. Tngin rasanva kita menyalahkan Fenomena El Nino atau mencairnya es di kutub utara akibat naiknya suhu bumi, tapi agaknya terlalu mengada-ada. Kambing hitam yang paling ampuh^adalah karena fungsi hutan yang berbeda di hulu sungai. Riau menganggap kawasan hutan di hulu merupakan hutan lindung, sementara saudara kita di Sumbar dan Tapanuli Selatan mencadangkannya sebagai hutan produksi yang boleh digarap atau diambil Kayunya dan lahannya dibuat kebun sawit. Betulkah demikian? Wallahualam....

Agaknya perlu ada kajian yang mendalam tentang pola hidup sehat dan manusiawi masyarakat yang menghuni kawasan pesisir dan di tepi sungai, sehingga mereka bisa hidup layak, bebas dari wabah dan tidak menuding banjir sebagai musibah. Riau bagaiamana pun sudah ditakdirkan memiliki empat sungai besar, Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri, mengabaikan pendekatan empat sungai ini sama saja dengan menantang matahari.

Kemiskinan juga terlalu banyak kita bicarakan, lebih banyak dari kegiatan yang sepatutnya dan semestinya kita lakukan. Kita sudah sering mengatakan bahwa kemiskinan yang sekarang dihadapi sesungguhnya adalah kemiskinan salah urus. Tapi kita tidak akan rela terperosok pada lubang yang sama karena tidak melakukan apa-apa.

Retorika dan agenda-agenda tersembunyi tidak akan mampu membangun sebuah sinergi untuk menyelesaikan tugas yang diamanahkan oleh rakyat untuk mensejahterakan negeri. Justru sebaliknya yang akan terjadi disorientasi dan disharmonisasi, dan munculnya perasaan berdosa bila terlalu banyak tugas-tugas yang seharusnya dilaksanakan tapi tidak bisa dilaksanakan, dan terlalu banyak dusta diantara kita.

Perahu ini tidak mungkm kita layarkan tanpa kekuatan penuh sementara kita tidak mampu membaca ombak, apalagi membaca karang di bawah laut dan membaca bintang di langit.

(No. 176/Th III/3 - 9 Januari 2005)


Tulisan ini sudah di baca 120 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/373-Membaca-Ombak.html