drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Malaria Kemiskinan


Oleh : drh.chaidir, MM

TERUS terang saya terkejut mendengar komentar Kadis Kesehatan Riau Dr Ekmal Rusdi melalui Radio Elshinta Jakarta beberapa hari lalu tentang wabah malaria di Kabupaten Indragiri Hilir. "Jangankan digigit nyamuk, ditabrak nyamuk saja rakyat di Inhil itu mati", katanya. Dokter Ekmal yang saya kenal suka bercanda tentulah sedang berkelakar. Tapi setelah saya renung-renung ungkapan itu, walaupun itu sebuah hiperbolis, bisa bermakna dalam: betapa tidak berdayanya rakyat di sana, bahkan melawan seekor nyamuk pun.

Pertanyaannya tentu, mengapa sampai demikian rapuh? Tidakkah ada pertahanan sama sekali? Dimana sistem pertahanan berlapis kita? Biasanya dalam sebuah pertempuran, bila satu pasukan terdesak oleh pasukan musuh, pastilah segera dikirim bala bantuan. Bagaimana dengan rakyat Inhil yang sudah terdesak bertahun-tahun oleh malaria? Mereka seperti bertempur sendiri tanpa bedil, walaupun sekali sekala malaria itu mengendorkan serangannya, itu hanya masalah jeda saja. Sungguh rakyat di sana hanya mengharapkan keajaiban bagi sebuah kemenangan. Dan keajaiban itu tidak pernah datang seperti di zaman nabi-nabi ketika tongkat Nabi Musa menjadi ular naga atau Ismail yang sudah siap untuk disembelih tiba-tiba diganti dengan seekor domba misalnya. Sampai kemudian setelah korban di pihak rakyat kembali berjatuhan diserang nyamuk Anopheles, bala bantuan itu baru menampakkan diri.

Dokter Ekmal berulangkali saya dengar tak bosan-bosannya di mana saja kapan saja meyakinkan lawan bicaranya, bahwa malaria di Inhil itu adalah masalah kemiskinan, bukan hanya masalah kesehatan. Dokter Ekmal agaknya ingin mengatakan bahwa itu adalah masalah kemiskinan yang paripurna. Miskin harta benda dan miskin ilmu pengetahuan. Miskin harta benda berarti tidak memiliki kemampuan ekonomi. Jangankan untuk berobat ke Puskesmas yang jaraknya memang jauh berselat-selat, untuk makan saja mereka susah. Oleh karena itu lebih sering, demam malaria yang menggigil itu hanya mereka lawan dengan selimut kusam yang dingin dan tentu dengan doa. Miskin ilmu pengetahuan menyebabkan pula masyarakat tidak memiliki kesadaran untuk hidup sehat, hidup bersih dengan makanan dan gizi yang cukup. Mereka tidak memiliki apresiasi sama sekali terhadap lingkungannya. Apalagi berbicara mengenai seluk beluk penyakit malaria, bagaimana makhluk yang bernama parasit plasmodium yang super halus - sehingga tidak tampak secara kasat mata - bisa berkembang biak dalam darah, dalam hati dan dalam limpa manusia. Parasit ini menghancurkan sel-sel darah merah manusia sehingga menyebabkan penderita kekurangan sel darah merah, yang apalabila terlambat ditolong bisa membawa kematian. Mereka tidak tahu bahwa parasit ini bahkan bisa sampai ke otak.

Tidak sulit memang untuk mendiskripsikan potret buram seperti yang dilukiskan Dr Ekmal itu. Wabah penyakit malaria yang menikam beberapa desa di Indragiri Hilir adalah sebuah produk dari kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. Nyamuk Anopheles yang menyebarkan plasmodium itu memang bermukim dan berkembang biak di daerah-daerah kotor dengan genangan-genangan air yang tidak pernah dibersihkan. Oleh karena itulah di negara-negara yang telah maju, yang menempatkan kebersihan sebagai sebuah tuntutan hidup (yang memang sudah demikianlah seharusnya), malaria tidak lagi dijumpai.

Di beberapa wilayah di negera yang sedang berkembang, terutama di daerah pesisir, malaria merupakan penyakit endemis, yakni suatu penyakit yang memang sudah terdapat di wilayah tersebut dan diidap oleh orang-orang tertentu. Termasuklah dalam kelompok ini beberapa desa di Indragiri Hilir seperti di Desa Belaras, Kecamatan Mandah dan Kuala Selat, Kecamatan Kateman. Beberapa dusun yang letaknya terpencar-pencar dan relatif terisolir memang berada dalam kondisi sosial ekonomi yang menyedihkan. Fasilitas umum sangat minim. Kebersihan sangat merisaukan dan air bersih jangan tanya. Bahkan istilah air bersih pun tidak dikenal oleh masyarakat. Bagi mereka air sungai yang mengalir atau air payau itu adalah air bersih.

Nyamuk Anopheles yang menebarkan penyakit malaria itu, tidak mengenai dan tidak dapat membedakan mana orang yang patut mereka "suntik" mana yang tidak. Dengan gaya menungging mereka mencucuk siapa saja, biasanya pada malam hari, menghisap darah laksana drakula dan saat proses pemompaan darah korbannya, mereka memasukkan air liur yang mengandung plasmodium ke dalam darah korban. Maka, kalau orang yang dihisap drakula akan menjadi drakula, orang yang dihisap nyamuk malaria akan menderita demam malaria dengan demam menggigil yang berselang-seling. Di daerah krisis di Mandah dan Kateman, Inhil, malaria tidak hanya menyerang rakyat yang miskin tapi juga menyerang guru di Dusun Batang Sari sehingga sekolah terpaksa diliburkan, menyerang petugas kesehatan, sehingga sebuah puskemas pembantu di Desa Belaras terpaksa tutup dalam waktu yang cukup lama karena petugas yang lain ketakutan. Dan di Kuala Selat, dukun yang biasanya menjadi tumpuan penderita demam malaria untuk dimintai pertolongannya, pun terjangkit malaria. Kesadaran baru tumbuh bahwa ternyata dukun tidak kebal terhadap malaria.

Sebenarnya secara teoritis, status endemis suatu wilayah tidaklah menjadi masalah bagi masyarakat. Tapi ketika terjadi korban jiwa, walaupun hanya satu orang misalnya, maka endemis atau wabah, tidak lagi perlu diperdebatkan. Dan itu memang telah terjadi di Inhil, korban telah berjatuhan. Dan ketika itu pula mata kita terbelalak betapa menyedihkannya nasib saudara-saudara kita. Gubuk reyot, lingkungan kotor, pendidikan tertinggal, pelayanan masyarakat yang sangat minim, kondisi fisik yang jelek akibat gizi buruk, ketiadaan airbersih dan seterusnva dan sepertinya berbagai atribut marjinal yang melekat, termasuk pemberdayaan ekonomi yang amat sangat rendah. Rakyat tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk menolong diri mereka sendiri.

Dari gambaran itu, Dokter Ekmal agaknya benar. Penyakit malaria apabila cepat diketahui sebenarnya mudah diobati. Beri Chloroquin atau turunannya, malaria pun bisa dituntaskan. Tetapi bila pola hidup tidak ada kemajuan dan dusun yang kumuh tidak dibangun serta ekonomi rakyat tidak diberdayakan, maka akar permasalahannya tidak akan selesai dan siklus itu akan kembali berulang dan terulang. Melalui crash program dengan memberikan bantuan obat-obatan, kelambu dan makanan yang cukup dan bergizi, kepada penderita dan masyarakat desa, untuk jangka pendek memang populis dan memperoleh tepuk tangan, tapi itu saja tidak cukup. Upaya konsepsional jangka menengah dan jangka panjang tetap harus dilakukan.

Menurut hemat saya ada beberapa langkah jangka menengah dan jangka panjang yang harus dilakukan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten. Yang pertama adalah upaya untuk merubah perilaku masyarakat me-lalui penyuluhan-penyuluhan bagaimana pola hidup sehat, membangun kebersamaan melalui gotong-royong untuk menciptakan lingkungan yang bersih serta meng-gerakkan lembaga-lembaga kemasyarakatan non pemerintah, seperti organisasi-organisasi pemuda, perempuan, ulama dan sebagainya.
Untuk jangka panjang agaknya perlu suatu studi yang komprehensif kerjasama dengan lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi untuk membuat design pola kehidupan yang sehat dan layak bagi masyarakat pesisir. Laut, pantai. Tepi sungai. adalah budava kehidupan masyarakat kita turun-temurun. Resetlement tanpa kajian yang mendalam agaknya hanya akan memindahkan masalah.


(No. 174/Th III/20 - 26 Desember 2004)


Tulisan ini sudah di baca 141 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/372-Malaria-Kemiskinan.html