drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Suara Air Mata


Oleh : drh.chaidir, MM

SULAIMAN, anak berusia 15 bulan itu tidak mau lepas dari gendongan saya, padahal anak itu sa-ma sekali tidak pernah kenal dengan saya sebelumnya. Neneknya dan Dahlia Hasibuan (30) ibu bayi itu, yang duduk bersimpuh di lantai yang dingin, tak kuasa mena-han tangis haru. "Mungkin dia rindu sama bapaknya", kata sang nenek parau. Anggota rombongan lainnya dan para wartawan yang memenuhi gubuk sempit itu, kelu dalam kebisuan yang menggetarkan.

Sulaiman adalah anak bungsu dari tiga orang bersaudara, anak almarhum Amrin Lubis (37) warga Dusun Tobat, Desa Tambusai Timur yang terbunuh dalam bentrokan warga setempat dengan PAM Swakarsa FT PSA. Ketika dalam kapasitas selaku Ketua DPRD Riau saya berkunjung ke rumah duka, anak itu dan ibunya telah sepuluh hari ditinggalkan bapaknya yang telah pergi dan tak akan pernah kembali selamanya. Barangkali benar kata sang nenek. Secara naluriah Sulaiman merindukan sosok bapaknya yang telah sepuluh hari tidak lagi pernah menggendongnya. Sulaiman terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi dan skenario suratan nasib yang telah digariskan untuknya.

Nasib yang sama juga menimpa Linar (35), isteri Irpan Rangkuti (42), dan empat orang anaknya di Dusun Setia Baru yang jaraknya hanya satu kilometer dari Dusun Tobat. Tangis janda Irpan Rangkuti yang terharu ketika kami datang, adalah sebuah raungan kemiskinan yang pedih tak terperikan. Irpan juga terbunuh dalam bentrokan yang sama. Irpan bahkan tak mewariskan apa-apa, jangankan sebuah gubuk reyot, apalagi sebatang sawit, gubuk yang ditempatinya sekarang adalah bekas kantor kepala dusun yang telah lama ditinggalkan. Bangunan itu bahkan terlalu bagus untuk dikatakan reyot. Malam itu kami hanya diterangi lampu togok yang asapnya hitam menyesakkan paru-paru, laksana kemiskinan yang mendera keluarga itu.

"Nasib adalah rekan yang tak terlihat", tulis sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz dalam novelnya "Harafisy". Dan nasib tragis itulah memang yang telah menemani Amrin dan Irpan, keduanya tewas terbunuh di tanah mereka sendiri, tempat yang seharusnya menjanjikan kesejahteraan bagi mereka dan keluarganya. Andaikan tidak ada perkebunan besar swasta yang menelan hutan di bibir dusun itu dan kemudian memuntahkannya dalam bentuk perkebunan sawit, barangkali ceritanya akan lain. Tapi itulah, dusun mereka tidak lagi memiliki hutan dan lahan tempat mencari hidup, semuanya sudah tertutup kebun sawit yang diplot di atas peta demikian saja oleh pemerintah, yang sayangnya, kebun sawit itu bukan milik mereka. Tapi itulah (sekali lagi) sebuah realitas kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi, tidak hanya oleh Amrin dan Irpan beserta keluarganya, tetapi juga oleh masyarakat umumnya di dusun-dusun lain di Desa Tambusai Timur dan Desa Kepenuhan Hulu, dan bahkan juga di banyak desa di seluruh pelosok negeri ini. Ada banyak harapan yang ditaburkan di sana, tapi sayangnya harapan itu bukan untuk mereka.

Booming sawit yang terjadi di Riau dalam dua dekade ini, tidak dapat dipungkiri, adalah dampak program pemerintah dalam pengembangan perkebunan sawit. Juga tidak dapat dipungkiri program ini telah mengangkat perekonomian daerah secara signifikan dan telah memberikan kontribusi bagi indikator-indikator makro peningkatan kesejahteraan rakyat. Bersamaan dengan pengembangan perkebunan itu, berkembang pula pabrik-pabrik pengolahan minyak sawit mentah, penyediaan jasa angkutan, terbukanya lapangan pekerjaan, dan berbagai bentuk multiplier effect lainnya seperti hidupnya pasar dan perekonomian setempat pada umumnya. Bukankah para tenaga kerja itu memerlukan beras, garam, gula, sayur-mayur, telur ayam, daging ayam dan sebagainya? Orang-orang perkebunan, walaupun untuk level menengah ke atas berbelanja di Jakarta, Medan atau bahkan di Singapura, tapi pada level menengah ke bawah mereka akan berbelanja di pasar-pasar lokal khususnya untuk kebutuhan pokok.

Program pengembangan sawit itu bermula dari ketajaman hidung para pengusaha dan pemerintah yang jeli melihat peluang bisnis di negeri yang kaya-raya ini. Ada hamparan hutan dengan potensi kayunya yang luar biasa bahkan rrrrruar biasa dan bernilai tinggi. Lahannya pun subur terhampar dari kaki bukit barisan sampai ke pesisir timur yang pantai-pantainya memberikan kemudahan untuk pengiriman kayu ke luar negeri legal maupun illegal. Maka konsesi pun diberikan kepada pengusaha atau "penguasaha" (penguasa yang pengusaha) ribuan hektar bahkan puluhan ribu hektar bahkan ratusan ribu hektar. Maka, hutan pun dibabat habis, ada yang berganti dengan hamparan sawit, ada yang dibiarkan demikian saja gundul.

Di sinilah agaknya malapetaka itu bermula. Praktek-praktek illegal merajalela, mafia kayu, mafia sawit berkembang biak. Praktik tipu menipu, tipu lawan tipu kawan menjadi keseharian. Rasa saling percaya menurun ke titik nadir, artinya tidak ada lagi rasa saling per-caya akibat keseringan ditipu. Yang tumbuh justru krisis kepercayaan yang massive, rasa saling curiga, kecemburuan dan kedengkian. Buaya, kadal, kala jengking, lipan, semuanya bersemayam dalam hati. Pokoknya disharmonisasi. Penduduk tempatan menuduh pendatang sebagai penyerobot, para pendatang pula menuding warga tempatan tidak memiliki bukti alas hak.

Hutan kita memang habis dibabat oleh praktek-praktek illegal. Menteri Kehutanan kita yang baru, Ka'ban, mengakui sebagaimana diungkapkan dalam pidatonya ketika membuka lokakarya Illegal Logging di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru belum lama ini. Menurut Menhut setiap tahun tidak kurang 2,8 juta Ha per tahun hutan kita mengalami degradasi. Artinya, bila tidak ada upaya-upaya penyelematan, maka dalam tempo 25 tahun kita tidak lagi akan memiliki hutan.

Tahu berapa penghasilan negara yang diperoleh dari sektor kehutanan? Dalam beberapa tahun terakhir ini, masih kata Menhut, jumlah yang dilaporkan oleh Departemen Kehutanan rata-rata hanya 2,2 triliun rupiah per tahun. Padahal jumlah yang dihitung di lapangan, mencapai 30 triliun rupiah per tahun. Itu baru dari kayu. Bila termasuk satwa yang dilindungi dan satwa langka, negara dirugikan tidak kurang dari 60 triliun rupiah per tahun. Masya Allah....sementara jumlah yang disetor hanya 2,2 triliun rupiah!! Ke mana sisanya? Itulah makanan mereka-mereka yang terlibat dalam pembukaan lahan, illegal logging, mafia kayu dan sebagainya.

Para pengusaha perkebunan besar swasta (HGU) yang sekarang kaya raya, dulu hanya bermodal konsesi dari pemerintah. Kayunya yang ketika itu masih bagus dan mahal, dijual dan sebagian hasilnya dipakai untuk membangun kebun. Sebagian lainnya untuk modal membuka bank swasta agar bisa mendapatkan BLBI dalam jumlah yang maha dahsyat lagi. Praktek-praktek illegal yang berkaitan dengan perkayuan dan pembukaan lahan ini bermacam-macam bentuknya dan itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Penebangan di luar HPH atau IPK, itu adalah praktek yang biasa, sudah menjadi rahasia umum. Izin di kabupaten A, penebangan di kabupaten B. IPK diberikan di tengah padang ilalang, tapi anehnya padang ilalang itu menghasilkan kayu. Izin yang diberikan untuk HGU 10.000 Ha, tapi kebun yang ditanam 15.000 Ha. Serobot sana, serobot sini, serong ke kanan serong ke kiri, adalah praktek-praktek illegal yang umum diketahui tapi dibiarkan berlalu. Perizinan memang kacau balau, kata Menhut pada pembukaan lokakarya itu.

Sekarang, ketika masyarakat setempat menyadari bahwa hutan ternyata bisa dijadikan kebun sawit dan menghasilkan uang, mereka ingin mendobrak kemiskinan dan mengubah nasib, tapi terlambat, lahan sudah habis dikuasai oleh pemilik modal. Dan masyarakat hanya mampu bersuara lewat air mata. Sulaiman, seperti juga bapaknya mempunyai rekan yang bernama nasib. Namun tidak ada yang tahu apakah rekan itu akan berpihak padanya. Kelak Sulaiman akan bisa membaca suara air mata ibunya.

(No. 173/Th III/13 - 19 Desember 2004)


Tulisan ini sudah di baca 108 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/371-Suara-Air-Mata.html