drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Naik Rugi Turun Rugi


Oleh : drh.chaidir, MM

MINYAK memang licin dari semula jadi. Selalu membuat orang tergelincir. Dan Riau telah ber-puluh-puluh tahun berlumuran hidup bersama minyak. Tapi tak juga bisa bersebati dengan minyak. Tidak sungguh-sungguh bisa memahami, apalagi menguasai. Minyak dan Riau ibarat darah dan tubuh manusia. Di setiap ceruk tubuhnya terisi minyak. Namun bila tubuh manusia sedikit saja terluka darah segera muncrat, tidak demikian halnya dengan minyak. Minyak tidak mudah muncrat dari tubuh Riau. Agar minyak bisa disedot keluar dari perut bnmi Riau diperlukan treatment atau teknologi canggih. Teknologi pembuatan sumur bor saja tidak cukup apalagi teknologi "ngebor" Inul Daratista.

Riau tak pernah bisa mencatat apakah pernah menikmati masa-masa indah bersama minyak atau tidak. Yang pasti minyak dalam satu dekade terakhir ini telah membuat resah gelisah. Andai Riau kita tidak dilahirkan di daerah yang buminya kaya dengan minyak, atau Tuhan tidak menciptakan rantau ini berlumur minyak, barang kali masyarakat akan tenang-tenang saja tidak menuntut ini itu. Tetapi semua ini sudah takdir yang maha kuasa. Dan akibat tarik ulur perebutan harta karun minyak tersebut, perdebatan-perdebatan, pertengkaran-pertengkaran satu dengan yang lainnya tak bisa dihindari, baik horizontal maupun vertikal.

Dulu minyak itu sangat "disakralkan". Hati-hatilah berbicara tentang minyak, apalagi meminta bagian bagi hasil minyak dari pusat, anda bisa di-black list. Kalau anda kebetulan seorang pejabat, akan segera non-job, alias berhadapan dengan meja kosong. Bila anda sorang pemuka masyarakat, maka anda siap-siaplah dikucilkan dari kumpulan. Minyak itu, 'wilayah' terlarang untuk disentuh, bahan tambang strategis, begitulah alasannya. Orang daerah bukan hanya tidak berhak mendapatkan bagi hasil, membicarakannya pun tak. Minyak kita itu membuat orang takut, setidaknya begitulah perjalanan Riau di masa lalu.

Dalam satu dekade terakhir ini, terutama sejak reformasi begulir tahun 1998, minyak telah menjadi bahan pertengkaran. Siapa sesungguhnya yang berhak mengelola dan siapa yang yang boleh menikmatinya. Tumbuh kesadaran baru bahwa bahan tambang ciptaan Tuhan itu semestinya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Bukankah dalam agama kita ada landasan yang amat fundamental tentang pemahaman ini, bahwa Tuhan telah menciptakan seluruh persediaan kehidupan bagi hambanya di dalam perut bumi, di atas bumi dan di bawah telapak kaki setiap anak manusia. Memang Tuhan juga memberikan akal dan kecerdasan kepada manusia untuk memanfaatkan kekayaan itu, namun sekurang-kurangnya seorang anak manusia tidak perlu harus tergusur dari kerak bumi yang sehari-hari menjadi pijakannya sejak zaman moyangnya.

Reformasi memang telah membuka ruang yang sangat lebar, yang memungkinkan kita untuk bertanya dan mempertanyakan apa yang telah kita peroleh dengan rezeki dari Allah itu. Membiarkan ketidakadilan berlangsung demikian saja tanpa ada upaya untuk mem-perbaikinya, sama saja kita melakukan kezaliman. Kebetulan sekali kita memiliki cermin yang amat terang dari tragedi penambangan timah di Dabo Singkep, Kepulauan Riau. Setelah satu abad, setelah deposit timah di pulau itu tidak lagi memiliki arti ekonomi, tambang itu di tutup. Dan apa yang terjadi? Kehidupan yang gemerlapan di Dabo Singkep, pelan mulai redup untuk kemudian padam sama sekali. Kini, tidak ada apa-apa lagi di Dabo singkep, yang tinggal hanya lubang-lubang besar yang menganga yang tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Diperbaiki pun tidak bisa. Jakarta yang semula menikmati bisnis timah itu, kini seakan berjarak seratus tahun cahaya dengan Dabo yang tinggal sunyi.

Adakah petinggi kita yang peduli terhadap pe-ninggalan timah itu? Tidak ada. Dabo telah memasuki domain sejarah masa lalu. Dan agaknya Dabo pun telah hilang dari arsip Jakarta. Bagaimana dengan Riau? Ba-gaimana dengan penambangan minyak di Duri, Minas dan Siak? Sama dengan timah, minyak juga bahan tambang yang tidak bisa diperbaharui (non renewable resources). Dia akan habis pada waktunya nanti, bahkan dari beberapa penjelasan atau pidato petinggi kita, deposit minyak di Duri yang terkenal dengan Rokan Block itu, yang menghasilkan minyak 600.000 barrel per hari, tinggal 20 tahun lagi. Setelah itu? Bila tidak ada upaya penyelamatan masyarakat setempat dan lingkungan-nya, bisa dipastikan nasib Duri, Minas, dan juga Siak tidak akan berbeda jauh dengan nasib Dabo singkep.

Sementara itu pada sisi lain, masyarakat Riau masih saja harus berjuang habis-habisan untuk mendapatkan bagian yang layak dari produksi minyak tersebut. Bagi Riau perjuangan itu adalah perjuangan untuk anak cucu, sebuah tanggung jawab sejarah. Riau selama ini, boleh dikata tidak mendapat apa-apa. Jembatan sungai Siak, gedung olahraga, kolam renang Kalinjuhang di Pekanbaru? CPI boleh mengklaim Jembatan itu adalah sumbangannya, tetapi dari berbagai sumber diperoleh informasi bahwa biaya pembangunan Jembatan itu di-bebankan kepada biaya produksi, yang sesuai dengan ketentuan ditagih kembali oleh CPI kepada pertamina yang mewakili pemerintah ketika itu. Jadi, mana ada yang gratis, Bung!

Setelah lima puluh tahun lebih minyak di perut bumi Riau dikuras, yang timbul justru kesenjangan sosial di tengah masyarakat, karena tradisi bisnis perminyakan itu cenderung eksklusif. Industri minyak merupakan wilayah tertutup, terdapat tembok pemisah yang tegas dengan sektor rakyat. Sehingga ada yang menyebut wilayah minyak adalah wilayah gemerlapan, sedangkan wilayah rakyat adalah wilayah kegelapan. Prinsip penetesan ke bawah (trickle down effect) tidak terjadi, sehingga tidak menggerakkan perekonomian daerah secara berarti. Permintaan efektif (effective demand) tidak terjadi. Permintaan itu bahkan jauh melompat ke daerah lain, bahkan keluar negeri. Pasokan daging misalnya, untuk keperluan proyek perminyakan didatangkan dari luar ngeri. Karyawannya bahkan lebih banyak belanja keluar negeri ketimbang di pasar lokal.

Beberapa kajian mengungkapkan, tidak terdapat keterkaitan antara sektor perminyakan dengan kegiatan ekonomi di belakang (Backward linkages = 0) karena input sektor ini disedot dari perut bumi, bukan mengolah input yang berasal dari ouput sektor rakyat atau sektor pertanian. Indikasinya jelas. Masyarakat yang berada di sekitar proyek perminyakan tetap merupakan kantong-kantong kemiskinan yang senantiasa berada dalam kegelapan.

Oleh karena itulah agar rasa ketidakpuasan masyarakat tidak eskalatif, maka adalah sesuatu yang wajar bila masyarakat Riau meminta dana bagi hasil tersebut ditingkatkan secara signifikan, sehingga masyarakat Riau mampu mernberdayakan diri. Angka 40% untuk daerah, 60% untune pusat adalah angka yang sangat wajar. Masyarakat tidak meminta bagi hasil seperti yang direkomendasikan oleh Kongres Rakyat Riau II, yakni 100 % atau 75 % dalam bentuk Otonomi khusus.

Pemerintah pusat termasuk parlemen sungguh diminta untuk menggunakan hati nuraninya. Semenjak Otonomi Daerah dilaksanakan, Riau memperoleh bagi hasil minyak 15%, tetapi pada kenyataannya jumlah yang ditransfer ke Riau sekali tiga bulan, belum sampai sejumlah tersebut. Beberapa sumber menyebutkan, jum-lahnya baru sekitar tujuh atau delapan persen. Sayang-nya, jumlah ini tidak bisa dikonfirmasikan, karena bera-pa sesungguhnya jumlah minyak setiap bulan yang dijual oleh pemerintah (lifting), kita pun tak tahu. Ketika harga minyak melonjak dari 22 dolar per barrel menjadi 35 dolar per barel, besar harapan Riau untuk memperoleh bagi hasil lebih banyak, tetapi ternyata pusat mempunyai argumentasi, justru pendapatan kita katanya berkurang, karena kita harus membiayai impor minyak lebih mahal. Kalau harga turun, kita ikut menanggung beban. Harga naik kita rugi, harga turun apalagi.

Nasib Riau seumpama nasib kayu api, bisa memaak nasi untuk orang, tetapi dirinya habis terbakar. Naik rugi turun rugi ... haiyaaa. Riau ... Riau ... boh kanthau ....

(No. 163/Th III/20 - 26 September 2004)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/370-Naik-Rugi-Turun-Rugi.html