drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Jalan Semakin Terjal


Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH lagi segar dalam ingatan kita, belum lagi kering air mata kesedihan tragedi bom Ball, atau bom Marriot, atau bom-bom sebelumnya, yang meminta banyak korban nyawa, melukai kehormatan sebagai sebuah bangsa, dan menghina kemanusiaan, kini kita kembali diguncangkan oleh tragedi yang sama, penge-boman, juga dengan korban yang tidak sedikit. Semakin terjalkah jalan menuju "rumah" kita yang penuh dengan kelembutan dan penuh kasih sayang itu?

Bom yang terakhir ini meledak persis di depan Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta. Sejumlah orang yang tak berdosa tewas seketika, dan ratusan lainnya mengalami luka serius, cacat tubuh, atau trauma. Kesedihan pun menjalar dengan cepat. Bukankah korban memiliki keluarga lain dan komunitas? Korban dan keluarga memiliki saudara sesama manusia yang secara naluriah ikut bersedih. Semua pihak mengutuk aksi pengeboman tersebut. Dan dendam pun kembali disemai.

Mengapa kekerasan terus terjadi di sekeliling kita? Ada apakah dengan kita? Ada apakah dengan kemanusiaan, sehingga kekerasan acapkali manjadi jawaban atas persoalan atau kehendak yang ingin dica-pai? Memang tidak mudah untuk menjawabnya. Dari sebuah peristiwa yang terjadi, baik peristiwa seperti bom Kuningan, atau perang, selalu ada beragam latar, ber-macam-macam dasar pandangan, alasan, simpulan, dan seterusnya. Kjhak yang melakukannya selalu mengklaim bahwa mereka berangkat dari kebenaran, dan menyatakan pihak lain sebagai pihak yang bersalah dan harus mendapatkan hukuman.

Tapi yang sering terjadi, korban justru lahir dari pihak-pihak yang tak bersangkut-kait dengan persoalan. Seperti juga kasus bom sebelumnya, yang jadi korban justru pihak-pihak yang tidak tahu apa-apa, tidak terlibat dengan persoalan yang sesungguhnya. Kenyataan inilah yang memilukan dan mengiris-iris batin. Kita tidak bisa menerima ini, dengan pemahaman yang bagaimanapun juga.

Kekerasan harusnya menjadi alternatif terakhir dalam setiap perbedaan atau pertentangan, atau tidak menjadi alternative sama sekali. Jika kita terbiasa menggunakan kekerasan sebagai solusi atas stagnasi yang terjadi, maka samalah artinya kita secara sengaja dan terus menerus mengikis nilai-nilai kemanusia itu sendiri. Dalam banyak kasus, baik pada zaman modern mau-pun yang tersurat dalam kitab-kitab sejarah, kekerasan, perang, terorisme, tak pernah membuat keadaan menjadi lebih baik, ketimbang dialog, kelembutan dan kebaikan.

Apa kurangnya jalan kekerasan yang diambil oleh Temujin atau Jenghis Khan dalam mencapai tujuan. Tak terhitung lagi jumlah korban untuk kemenangan itu, tapi pada akhirnya kemenangan yang diperoleh lewat kekerasan itu menjadi jalan yang tak nyaman dilalui, dan kemudian tenggelam. Hitler juga pernah mengambil langkah serupa, jutaan orang mati, tetapi sejarah kemudian membuktikan bahwa keberhasilan yang ia capai dengan mengoyak-ngoyak jaring kemanusiaan itu pada akhirnya menjadi petaka baginya, bagi kemanusiaan yang ia bangun. Itu juga yang tergambar dalam serentetan perang yang berlangsung dari abad ke abad, dari masa kuno, Perang Dunia I dan II, hingga yang terakhir, perang Irak melawan Amerika. Hasil dari semua jalan kekerasan itu hanyalah korban, isak tangis air mata, kebencian dan dendam.

Bom, perang atau kekerasan mungkin sebuah tanda bahwa ada pihak-pihak yang tidak mampu membangun sebuah komunikasi yang bermartabat penuh kehormat-an dengan pihak lain. Atau ketidakmampuan menjadi-kan dialog sebagai jembatan untuk mencapai hasrat. Ketidakmampuan itu kemudian diwujudkan dengan car a pemaksaan kehendak, melalui sebuah jalan pintas yang tidak manusiawi.

Padahal, jika komunikasi antar manusia, kelompok, bahkan komunikasi antar ideologi, dapat terbangun secara baik, santun, lembut, setara dan bermartabat, dan tidak tersumbat, maka bom tidak akan pernah muncul sebagai sebuah " bentuk komunikasi".

Selain soal komunikasi, kekerasan juga adalah soal cara menyikapi perbedan pandangan. Kekerasan adalah muara dari kesombogan dalam memandang diri. Menganggap diri atau pihak sendiri yang memiliki otoritas kebenaran, sedangkan yang lain sebagai pihak yang lebih rendah dan hina. Cara pandang yang semacam ini memang akan selalu menimbulkan benturan, kerena ianya menutup segala kemungkinan dialog. Hal seperti ini pernah dilakukan oleh Nazi dengan kesombongan Aria-nya, atau kesombongan kulit putih warga Amerika terhadap kulit hitam pada masa Abraham Lincoln, dan banyak lagi.

Para pihak semestinya menyadari, bahwa kehidupan ini terdiri dari sederetan barisan panjang kafilah; bisa dalam bentuk suku, ras, bangsa, agama, bahasa dan sebagainya. Itu belum lagi gerbong-gerbong kepentingan yang berbeda, beragam kftinginan, serta perbedaan matlamat yang hendak dicapai. Menidakkan kemajemukan samalah artinya dengan menidakkan sunnatullah. Bukankah kita diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya? Perbedaan-pebedaan itu tidak mesti disikapi dengan saling curiga atau bermusuhan. Justru perbedaan itu merupakan sebuah berkah kehidupan. Kita dapat membangun kesadaran bahwa dunia tidak hanya berisi "semata kita" tapi juga ada pihak "mereka" yang mungkin berbeda keyakinan. Ketika kita sadar bahwa dunia ini beragam, maka kesadaran itu seharusnya melahirkan suatu sikap, bahwa antara yang satu dengan yang lain mesti membangun kebersamaan. Hanya dengan cara dan sikap demikian, sebuah dunia damai akan tercapai.

Kejadian-kejadian semacam ini harus berhenti dan dihentikan. Kekerasan hanya akan membuat kita semakin terpuruk dari sisi apapun. Semua perbedaan dan kehendak seyogianya dikomunikasikan melalui sebuah dialog yang adil, dengan kesantunan yang tinggi, dan kelembutan yang menyejukkan. Kita harus secara terus menerus belajar untuk percaya bahwa interaksi yang santun lembut serta penuh keterhormatan, akan memberikan hasil yang lebih baik dan maksimal, lebih besar dari yang mampu diberikan oleh jalan kekerasan. "Kebaikan dan kelembutan itu tidak akan datang kepada sesuatu kecuali memperindahnya, dan tidak akan pergi dari sesuatu kecuali membuatnya menjadi buruk," begitu pesan Nabi Muhammad SAW untuk kita semua. Semua pihak harus terus menebar kasih, dan siapa yang menebar kasih akan menuai sayang.

(No. 162/Th III/13 - 19 September 2004)


Tulisan ini sudah di baca 151 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/369-Jalan-Semakin-Terjal.html