drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Hiroshima dan Nagasaki


Oleh : drh.chaidir, MM

HIROSHIMA dan Nagasaki adalah dua kota di Jepang yang tak akan pernah dilupakan sejarah. Hiroshima adalah sebuah kota industri yang terletak di Pulau Honshu, kini berpenduduk kira-kira satu juta jiwa lebih, sedangkan Nagasaki, adalah sebuah kota pela-buhan dan industri berat yang terletak di Pulau Kyushu yang dewasa ini berpenduduk sekitar 500.000 jiwa. Kendati dipisahkan ribuan mil jarak dengan Indonesia, na-mun Hiroshima dan Nagasaki tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Kisahnya memang kisah duka nestapa. Derita tak terperi kota Hiroshima dan Nagasaki merjupakart a blessing in disguise bagi Indonesia yang sebenarnya juga sudah sangat lama menderita akibat penjajahan yang menyebabkan ketertinggalan dan kemiskinan yang parah. Setiap tahun kemudian ketika memperingati HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia, ketika menyusuri lintasan sejarah, di sana ditemukan nama kota Hiroshima dan Nagasaki.

Tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat, menewaskan tidak kurang dari 80.000 jiwa dan puluhan ribu lainnya cedera dan sakit akibat radiasi uranium, jenis bom yang dijatuhkan. Sembilan puluh persen kotanya hancur lebur. Tiga hari kemudian, tepatnya pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua, jenis plutonium, dijatuhkan oleh Amerika Serikat di kota Nagasaki. Sebagian besar dari kotanya hancur dan menewaskan tidak kurang dari 75.000 jiwa di samping puluhan ribu lainnya luka dan sakit. Bagi Hiroshima dan Nagasaki, awal Agustus 1945 itu dunia telah kiamat.

Dua buah bom atom ini mengakhiri Perang Dunia II, karena beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Agustus 1945, Jepang bertekuk-lutut, menyerah tanpa syarat kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Kekalahan itu pula yang membuat Jepang lumpuh di front selatan di daerah jajahannya, Indonesia.

Berita kekalahan Jepang itu membangkitkan semangat pemuda Indonesia untuk merdeka sebagai sebuah bangsa. Maka, kejadian demi kejadian berlangsung cepat. pemuda di bawah pimpinan Chairul Saleh dan Sukarrin, ingin Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin, sedangkan Bung Karno dan Bung Hatta tetap ingin memposisikan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam proklamasi tersebut. Pemuda memang tidak setuju karena PPKI berbau Jepang, setelah sebelumnya PPKI ini mendapatkan persetujuan dari Jenderal Terauchi. Oleh Jenderal Terauchi, PPKI ini diberi nama "Dokuritsu Zyunbi Jinkai" (tentu ini dalam 'Oshin') Menurut catatan sejarah Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian diamankan oleh pemuda di Rengasdengklok, sehingga batallah pertemuan pada tanggal 16 Agustus 1945 yang sudah direncartakan semula.

Menengok ke bilik sejarah di saat-saat genting itu, cukup mendebarkan. Pemuda tidak mau kompromi dengan PPKI, sementara Bung Karno dan Bung Hatta tetap berupaya akomodatif terhadap PPKI, karena PPKI ini anggotanya merupakan tokoh-tokoh yang dipilih dari seluruh tanah air. Pada sisi lain, Jepang tidak nienghendaki adanya perubahan apapun di Indonesia, instruksi dari Markas Besar Jepang di Saigon, pimpinan tentara Jepang di Jakarta tidak boleh mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia, karena mereka harus menjaga status quo sesuai perintah Sekutu yang telah mengalahkan Jepang.

Namun tanggal 16 Agustus malam, konsep teks proklamasi kemerdekaan RI sudah final. Maka pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di Pegangsaan Timur No 56 di Jakarta, sejarah Indonesia pun diukir dengan tinta emas. Dengan risiko jiwa raga, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta dengan membacakan teks proklamasi mengatas namakan Bangsa Indonesia. Sebuah negara baru telah berdiri. Cerita selanjutnya sudah bisa diduga, kemerdekaan itu harus dipertahankan dengan nyawa, darah dan air mata. Opsi yang tersedia hanya merdeka atau mati. Tetapi para pejuang tanah air ketika itu, kelihatan sama sekali tidak memiliki saraf takut, mereka telah bertekad berjuang sampai tetesan darah penghabisan, lebih balk berputih tulang daripada berputih mata.

Sebagai sebuah negara yang kalah perang, Jepang tidak lagi rnemiliki kapasitas untuk niempertahankan Indonesia tetap berada dalam jajahannya. Mereka tentu harus menyerahkan Indonesia kepada Sekutu. Di pihak lain, Sekutu tentu menganggap bahwa Indonesia adalah milik mereka. Belanda yang berada di pihak Sekutu sangat berkepentingan untuk kembali menjajah Indonesia, karena Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya dan menggiurkan untuk dikuras. Dan Belanda sudah berpengalaman selama tiga setengah abad sebelum diambil alih Jepang.

Tapi bangsa Indonesia telah bangkit. Tidak ada lagi penjajahan. Bangsa Indonesia telah disadarkan oleh sejarah akan sangat pentingnya berdiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.

Revolusi, kata Ali Syariati, seorang reformis Iran, mengandung dua hal penting, yaitu darah dan pesan. Keduanya sangat nyata terjadi, baik ketika revolusi kemerdekaan kita, maupun ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh-lantak dihajar bom atom Amerika Serikat. Beruntung waktu itu, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki adalah dari tipe "fission bomb". Kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu belum menemukan tipe "vision bomb" atau "hydrogen bomb" yanp daya musnahnya jauh lebih dahsyat daripada fission bomb. Bila yang dijatuhkan adalah hydrogen bomb, mungkin tidak hanya seluruh Jepang akan hancur, bahkan barangkali juga planet bumi kita ini.

Tapi Jepang menangkap dengan cerdas pesan tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Mereka sudah pernah memenangkan perang melawan Rusia, mereka pernah perang melawan Cina dan melawan Korea. Di bawah rezim militer di era tahun 1930-an mereka menjadi sebuah imperium kolonial yang perkasa, dan agaknya karena sangat menyadari kekuatan militernya, Jepang memba-ngun poros bersama Nazi di Jerman dan rezim fasis di Italia. Tapi semuanya berakhir dengan kehancuran.

Maka pasca Perang Dunia II Jepang hanya berkonsentrasi untuk membangun perekonomiannya dengan keunggulan kelas dunia. Dan ternyata dengan kekuatan ekonominya, Jepang kembali 'menjajah' dunia.

Ribuan mil dari Hiroshima dan Nakasaki, Indonesia juga menangkap pesan, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Maka kita pun mengepalkan tinju ke langit, sambil toerteriak: merdeka atau mati! Hanya pesan merdeka yang terdengar setiap tahun dan juga ingatan terhadap pahlawan-pahlawan yang gugur di medan pertempuran di lembah-lembah, di gunung-gunung, di rimba belantara, di laut dan entah dimana lagi. Selebihnya sepi. Pesan yang mengiri kemerdekaan itu buram. Padahal kepada generasi penerus telah disampaikan, Indonesia ini adalah tanah air kita, maka kitalah yang harus memperjuangkannya, mengubah air mata menjadi mutiara. Sementara kita belum berbuat apa-apa, terlalu banyak bicara daripada karya.


(No. 159/Th III/23 - 29 Agustus 2004)


Tulisan ini sudah di baca 120 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/368-Hiroshima-dan-Nagasaki.html