drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Pawang Hujan Untuk PLN


Oleh : drh.chaidir, MM

PRIA itu mondar mandir di depan panggung, sesekali dia menengadah ke langit. Lakunya tentu saja menarik perhatian para undangan yang duduk di kursi barisan depan perhelatan itu, maklum malam itu adalah puncak acara peringatan HUT Kota Pekanbaru yang ke-220, sehingga tetamu VIP banyak yang hadir. Namun cuaca nampaknya kurang bersahabat. Hujan tak ada kompromi, turun membasahi bumi, membuat acara belum bisa dimulai.

Saya pun bertanyalah kepada Pak Wali yang duduk di sebelah kiri, siapa gerangan itu lelaki. Paham akan pertanyaan saya agaknya 'menyalah', Pak Herman Abdullah pun menjawab tak kalah menyalah, "begitu pulalah" katanya ringan sambil tersenyum renyah. Saya pun mafhum, pastilah dia pawang hujan. Sesaat kemudian, pria itu sungguh-sungguh 'menampakkan diri' dengan menghampiri kami dan berujar kepada Pak Wali, sebentar lagi hujan akan berhenti. Tak lama kemudian hujan pun menjadi gerimis dan gerimis pun hilang, maka acara pun dimulai.

"Believe it or not" boleh percaya boleh tidak. Adakah itu secara kebetulan, karena memang langit sudah kehabisan stok mendung, atau karena angin bertiup kencang memindahkan awan, atau karena ada kekuatan supra natural yang melakukan intervensi. Kadang-kadang memang susah dicerna dengan akal sehat. Ko non (sekali lagi konon), berbagai macam cara dilakukan untuk mencegah turunnya hujan, mulai dari cara konvensional seperti berdoa, berpuasa, sampai kepada melemparkan pakaian dalam ke atas atap rumah. Cobalah bayangkan betapa susah mencerna hubungan antara lempar melempar itu dengan turun atau tidak turunnya hujan.

Mitos pawang hujan untuk membantu menyelamatkan sebuah pesta agar tidak berbasah-ria sering kita dengar di tengah masyarakat. Kalau dalam kenyataannya hujan tetap saja turun dan helat menjadi terganggu, maka orang pun suka bergurau atau menghibur diri, barang kali karena honor sang pawang kurang atau bahkan belum dibayar. Suatu ketika, dalam suatu acara, matahari bersinar terik, panasnya luar biasa, tetapi yang disalahkan juga tetap pawang hujan. Seorang ternan berkomentar, itu karena honor pawang hujannya terlalu akibatnva meniadi oanas sekali.

Pawang hujan untuk mencegah turunnya hujan sering kita dengar, tetapi pawang hujan untuk membuat hujan turun, jarang kita dengar. Bila kemarau panjang, hujan tak turun-turun, orang biasanya melakukan doa bersama atau tahlilan. Rasanya saya belum pernah mendengar orang meminta jasa pawang hujan untuk menurunkan hujan. Barangkali itu diluar domain pawang hujan, bukan termasuk kompetensinya. Bila hujan tak turun-turun, kita malah sering menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membuat hujan buatan, yakni suatu teknologi dengan cara menyebarkan zat kimia tertentu di udara atau di awan sehingga butiran-butiran air yang ada di awan mengembun dan menjadi hujan.

Hujan buatan itulah yang dilakukan oleh PLN Riau untuk menurunkan hujan agar air waduk PLTA Koto Panjang meningkat pada aras tertentu, sehingga mampu menggerakkan turbin untuk menghasilkan tenaga listrik yang diharapkan.^Kita memang sering kali berada dalam situasi dilematis. Curah hujan yang terlalu banyak akan menyebabkan waduk PLTA Koto Panjang melimpah dan pintu bendungahnya harus dibuka, akibatnya akan terjadi banjir di hilir, di sepanjang aliran Sungai Kampar. Kita pun semua dibuat sibuk, mulai dari petinggi-petinggi daerah sampai ke petinggi di pusat. Masyarakat pun menderita, tanaman yang mereka tanam terendam air dan membusuk, anak-anak tidak bisa sekolah, penyakit muntaber pun merajalela karena lingkungan dan air yang dikonsumsi tidak sehat. Tapi bila musim kemarau tiba, air waduk turun drastis sehingga tidak mampu menggerakkan turbin untuk menghasilkan tenaga listrik sesuai dengan yang diharapkan. Listrik pun mati.

Sampai kapan kita menghadapi masalah seperti ini? Musim hujan, tenaga listrik cukup, tapi kita sibuk meng-urus banjir. Musim kemarau, kita tidak direpotkan oleh banjir, tapi bilavmalam tiba gelap gulita karena listrik tak menyala. Piala Eropa dan Copa Amerika pun jauh di mata.

Teknologi hujan buatan tidaklah murah. Lagi pula, itu hanya solusi situasional, bukan konsepsional. Tak mungkin secara terus menerus kita menggunakan hujan buatan untuk menaikkan air bendungan sehingga turbin bisa digerakkan dan tenaga listrik bisa diperoleh. Perlu ada solusi yang menyeluruh dan tidak hanya sporadis.

Beberapa hari lalu, saya terkejut dan amat prihatin mendapatkan sms dari GM PLN Wilayah Riau, Taufik Haji. Sms tersebut dikirim sebagai laporan kepada Gubernur Riau dan tembusannya dikirimkan kepada Ketua DPRD. Taufik Haji melaporkan bahwa dia menerima informasi dari Unit Pembangkit Sumbagsel yang mengelola PLTU Ombilin, yang menyampaikan informasi dua unit PLTU Ombilin di Sumbar mengalami gangguan serius, sehingga sistem Sumbar-Riau-Jambi mengalami kekurangan daya dan energi listrik sangat besar yakni mencapai 210 MW. Akibat dari kerusakan tersebut maka tidak ada pilihan lain, harus dilakukan pemadaman dalam durasi yang lama dan areal yang luas.

Saya menghargai informasi yang cepat disampaikan oleh GM PLN Wilayah Riau, pastilah itu dengan suatu itikad baik. Tapi yang lebih penting adalah apa jalan keluar yang harus dilakukan sehingga kebutuhan dasar masyarakat itu dapat terpenuhi. Kita memang dituntut untuk merancang skenario jangka panjang akan kebutuhan terhadap energi listrik, seperti misalnya rencana pembangunan pembangkit iistrik yang akan dibangun oleh pemodal Rolls Royce. Suatu studi yang menyeluruh dan komprehensif diperlukan untuk membuat prediksi kebutuhan energi listrik di masa depan dihadapkan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan dunia usaha dan industri. Namun demikian program jangka menengah dan jangka pendek bahkan suatu crash program untuk mengatasi perma-salahan hari ini perlu pula dipikirkan. Dan itu harus diketahui oleh masyarakat secara transparan.

Bilamana masyarakat tidak mendapatkan informasi yang jujur dan transparan, dikhawatirkan akan menumbuhkan bibit-bibit ketidakpercayaan bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan resistensi yang eskalatif. Saya menerima sms dari seorang warga, "Hai penentu negeri", tulisnya berteriak, "mau diapakan masyarakat anda ini atas tindakan semena-mena PLN yang mematikan listrik seenaknya, apa hubungannya dengan PLTG Ombilin?" Itu adalah ekspresi betapa jengkelnya masyarakat, sementara pada sisi lain mereka tidak mendapatkan penjelasan yang transparan dan mudah dimengerti. Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang krisis energi listrik yang kita hadapi, betapa pun pahitnya. Masyarakat kita su-dah cerdas, mereka akan cepat memaklumi keadaan bila mereka diberlakukan secara adil.

Masalah ketersediaan energi Riau memang sangat serius. Betapa tidak. Kebutuhan Provinsi Riau lebih kurang 180 Mega Watt, sementara PLTA Koto Panjang hanya mampu mensuplai maksimal 114 MW (ingat, ini kapasitas maksimal, yang semestinya tidak akan mengasilkan energi listrik sejumlah itu). Oleh karena itu Riau masih harus disuplai dari interkoneksi antara PLTG Ombilin yang berkekuatan 200 MW, PLTA Singakarak 180 MW dan PLTA Maninjau 60 MW.

Beberapa waktu yang lalu, Riau memang mendapatkan Hibah pembangkit listrik dari CPI dengan kekuatan 60 MW, tetapi frekuensinya berbeda dari listrik yang kita pakai sekarang sehingga memerlukan penyesuaian yang membutuhkan dana yang tidak sedikit dan waktu pemasangan peralatan. PLN sendiri sebenarnya memiliki satu unit pembangkit PLTG yang bisa dipindah-pindah atau Mobile Gas Unit, tetapi masih memerlukan lokasi dari CPI karena akan menggunakan gas yang akan disuplai oleh CPI sebagai bahan bakarnya. Jadi memang tidak sederhana, kendatipun para pawang hujan misalnya berhasil membantu PLN untuk menurunkan hujan guna menaikan permukaan air waduk PLTA Koto Panjang. Bersabarlah, habis gelap terbitlah terang.

(No. 154/Th III/19 - 25 Juli 2004)


Tulisan ini sudah di baca 113 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/366-Pawang-Hujan-Untuk-PLN.html