drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Jerebu Kembali Menyerbu


Oleh : drh.chaidir, MM

JEREBU itu kembali menyelimuti negeri-negeri semenanjung. Pekanbaru "Bandar Bertuah" kita pun seperti tahun-tahun silam, seakan meninggi hari, enggan bangun pagi. Suasana yang berkabut itu sesung-guhnya, meningatkan saya pada musim gugur di suatu senja yang jauh di Venezia, Italia. Tapi Sumatera, Malaysia, Singapura, dan Bandar kita, bukan Venezia. Kabut asap itu tidak membawa angin dingin yang sejuk dan tidak ada romantisnya sama sekali, bahkan membuat semput. Jerebu atau asap yang kembali menyerbu itu, memang tidak ada faedahnya, yang ada justru padahnya. Kesehatan terganggu, apalagi bagi penderita penyakit saluran pernafasan dan anak-anak sekolah yang tidak menyadari bahaya. Setiap hari kini mereka menghirup bergantang-gantang asap. Asap itu mengandung partikel debu dan itu jelas tidak sehat. Penerbangan juga terganggu. Jarak pandang normal yang biasanya sekitar 10.000 meter, kini di pagi hari tinggal sekitar 500 meter saja. Ini tentu berbahaya. Semoga sajalah kejadian tahun 1997, ketika hampir satu bulan jalur penerbangan lumpuh total, tidak terulangi.

Dari mana datangnya asap, tentulah dari api. "Tak ada asap kalau tak ada api", kata orang tua-tua. Di sinilah pasalnya bermula. Ketika musim kemarau tiba, pihak-pihak yang membuka kebun menempuh jalan pintas untuk melakukan land clearing (pembukaan dan pembersihan lahan) dengan cara pembakaran. Cara itu memang mudah dan murah. Nah bisa dibayangkan betapa banyak asap yang diproduksi bila pembakaran itu menyangkut areal puluhan atau ratusan hektar. Betapa banyak partikel debu yang dikirim ke atmosfir dan betapa banyak yang terhirup oleh manusia, menjadi benda asing dalam paru-paru. Itu belum kebakaran lahan dan hutan akibat ketidaksengajaan atau ulah tangan-tangan jahil dan iseng. Di musim kemarau, lahan dan hutan memang kering, mudah terbakar. Puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menimbulkan kebakaran. Pada lahan yang bergambut tebal, kebakaran lahan akan menjadi sangat serius karena pemadamannya tidak mudah. Apinya tidak tampak, seakan bersembunyi dalam perut bumi, tapi asapnya ada dan membubung terus ke udara.

Salahkah land clearing dengan cara pembakaran itu? Tentu salah. Sebab sudah ada peraturan yang melarang pembersihan lahan dengan cara pembakaran. Sudah ada gerakan "zero burning" (tidak ada lagi pembakaran). Ketentuan untuk itu sebenarnya sudah limita-tif, tidak interpretatif. Namun, peraturan tinggal peraturan. Bukankah dalam perspektif pengusaha yang nakal, pengusaha yang hanya mencari untung dan sama sekali tidak punya kepedulian, peraturan itu dibuat untuk dilanggar? Seberat apa pun sangsinya, semua bisa diatur?

Kita sesungguhnya, tidak lagi perlu mencari kambing hitam. Lahan yang dibakar jelas, tidak mungkin disembunyikan. Mau disembunyikan ke mana? Belum ada teknologi untuk menggantangkan asap. Pemiliknya pun mestinya tidak akan susah dicari kalau mau. Tapi kenyataannya dari tahun ke tahun tidak ada temuan yang berarti, yang terjaring hanya teri, sementara kakapnya lepas berkeliaran. Tidak ada tindakan penghukuman, apalagi penghukuman sebagai sebuah proses penyadaran. Akibatnya kesalahan yang sama terulang kembali, atau sengaja dilakukan karena yakin pelanggaran tidak akan dikenai sangsi yang berat. Hitung punya hitung keuntungan tetap lebih besar daripada risiko yang mungkin akan dihadapi bila land clearing dilakukan dengan pembakaran. Maka asap pun dianggap sesuatu yang tidak serius.

Seorang teman saya dengan nada putus asa mengajukan pertanyaan kepada saya, kenapa Pulau Jawa tidak pernah bermasalah dengan asap? Saya jawab, karena di Jawa tidak ada kebakaran lahan dan hutan. "Bukan", katanya membantah. "Di Jawa tidak ada kebakaran hutan karena hutannya memang tidak ada". "Jadi, lanjutnya, "kalau Riau berkeinginan tidak ada lagi asap Teman ini bergurau. Tapi di balik gurauan itu ada sesuatu yang serius: hukum tidak lagi bisa dipakai sebagai sebuah koridor. Karena siapapun boleh keluar masuk koridor tanpa sanksi yang berarti. Biarkanlah hutan itu habis, baru kemudian tidak akan ada lagi gangguan asap. Kita tentu tidak mengharapkan keadaan demikian.

Kekayaan sumberdaya alam kita berupa lahan dan hutan adalah anugerah alam yang tak ternilai harganya. Membiarkan kekayaan itu tidak termanfaatkan secara optimal untuk kemaslahatan manusia, tentu juga bukanlah sebuah kecerdasan. Kita tentu tidak mau bak ayam bertelur di lumbung padi mati kelaparan, atau seperti itik berenang di air, mati kehausan. Potensi sumberdaya alam memang harus dieksploitasi secara bermartabat untuk peningkatan kesejahteraan manusia. Tapi pemanfaatannya secara amat sangat berlebihan dan tidak mengindahkan aturan akan menimbulkan kerusakan alam itu sendiri, bahkan bisa jadi akan mendatangkan musibah bagi manusia.

Asap yang^kembali menyerbu, adalah wujud dari ketidakpedulian manusia dalam mengolah alamnya dan juga sekaligus wujud dari tindakan tidak patuh (non compliance) dari pihak-pihak yang mengusahakan lahan. Yang lebih parah lagi bila itu dikaitkan dengan tingkat apresisasi kita terhadap lingkungan hidup. Padahal masalah lingkungan hidup adalah masalah yang menjadi anak mas dunia. Kita tentu tidak ingin dikelompokkan ke dalam masyarakat yang memiliki apresiasi rendah terhadap lingkungan hidup. Sebab itu sama saja artinya, bahwa kita termasuk kelompok negara yang terkebelakang.

Asap, ternyata tidak hanya mengganggu kesehatan dan penerbangan, tetapi juga mempermalukan kita di negeri tetangga. Setiap tahun masalahnya dari itu ke itu juga dan tidak pernah bisa diselesaikan dengan tuntas. Seorang teman dari Malaysia mengirim e-mail kepada saya, "chaidir, please do not send me jerebu", katanya, entah serius entah bercanda. Tetapi kemudian ketika saya lihat foto kompleks perkantoran Perdana Menteri Malaysia di Putra Jaya diselimuti asap, saya menyadari apa yang terjadi. Singapura bahkan sampai mengirim surat resmi kepada pemerintah Indonesia mengenai kemungkinan akan semakin parahnya ancaman asap karena meningkatnya jumlah titik api (hot spot) di Sumatera berdasarkan pemantauan satelit mereka.

Keprihatinan saya bertambah karena menurut harian Kompas tanggal 24 Juni beberapa hari lalu, seba-gaimana pernyataan Kabag Analisis Badan Meteorologi dan Geofisika Pekanbaru, Johannes Drajat Bintoro, 80% dari titik api yang terpantau di seluruh Sumetara berasal dari Riau. Ini sebuah promosi yang kurang bagus bagi Riau dan tidak boleh lagi terulang di kemudian hari.

Tidak bisa lain ancaman asap yang sudah menjadi langganan tetap setiap tahun ini, harus diatasi dengan penegakan hukum (law enforcement) tidak pandang bulu. Pengawasan dan pengendalian dari instansi terkait harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tak pilih kasih. Tahun depan mari kita katakan 'tidak' pada asap. Dan kalau itu menjadi tekad kita bersama, saya yakin kita bisa.

(No. 151/Th III/28 Juni - 04 Juli 2004)


Tulisan ini sudah di baca 153 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/365-Jerebu-Kembali-Menyerbu.html