drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Sentuhan Perempuan


Oleh : drh.chaidir, MM

SEMAKIN hari, barisan perempuan yang unjuk gigi, dari masa lampau hingga hari ini, sepertinya semakin panjang saja. Cuma, jangan salah, unjuk gigi ini bukan sembarang unjuk gigi, atau karena sedang casting iklan pasta gigi. Sama sekali bukan. Unjuk gigi yang satu ini mempunyai arti bahwa semakin hari, semakin banyak perempuan yang tampil mengisi kedudukan-kedudukan penting yang biasanya di tempati oleh kaum lelaki, mulai dari lapangan ekonomi, hingga lapangan politik. Maka, berhati-hatilah kaum lelaki.

Contoh yang paling baru untuk Indonesia, adalah ditunjuknya Siti Nurbaya menjadi pimpinan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Entah mengapa, setelah mengalami berbagai proses pemikiran, pemerintah akhirnya berketetapan meletakkan seorang perempuan di lembaga pendidikan yang bergengsi ini. Tapi, pun Siti Nurbaya yang ditunjuk ini tentulah bukan sembarang Siti Nurbaya. Kalau dalam roman Marah Rusli, tokoh Siti Nurbaya, adalah gambaran tentang seorang perempuan yang lemah tak berdaya, maka Siti Nurbaya yang satu ini adalah kebalikannya. Jangankan satu orang Datuk Maringgih, sepuluh Datuk Maringgih pun akan menggeletar berada di hadapannya, Siti Nurbaya yang satu ini adalah petinggi Depdagri.

Untuk Indonesia, Siti Nurbaya hanya satu contoh dari mulai melebarnya kepercayaan terhadap kepemimpinan perempuan. Sebelum Siti Nurbaya, Indonesia bahkan sudah punya Megawati sebagai presiden, sudah punya Kartini, dan bahkan kini seorang komandan armada laut wilayah yang berkedudukan di Dumai, Letkol Laut Drg Nora Leliana, adalah seorang perempuan.

Di panggung sejarah, tercatat beberapa nama perempuan yang demikian terkenal karena ketokohan dan kepemimpinannya. Dari kerajaan Castile (Spanyol) muncul Isabella I (1451-1504). Isabella I terkenal, bukan hanya karena la membiayai perjalanan penemuan dunia yang dilakukan oleh Christopher Colombus atau penaklukan Andalusia, tapi yang lebih penting dari itu, adalah karena ia merupakan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan dan semangat yang besar. Pemimpin yang marhpu membuat keputusan-keputusan secara baik, hingga pada masanya, Spanyol menjadi bersatu dan disegani oleh kawan maupun lawan.

Tanah Inggeris juga dibesarkan oleh seorang perempuan. Perempuan yang hebat itu adalah Queen Elizabeth I (1533-1603). Inggeris memang mempunyai banyak pemimpin perempuan, tapi Elizabeth merupakan yang terpenting di antara semuanya. Masa Elizabeth I, selalu disebut sebagai masa keemasan Inggeris. Meski mewarisi tahta yang dipenuhi berbagai persoalan, seperti peperangan melawan Perancis, bersitegang dalam diplomasi yang buruk dengan Skotlandia dan Spanyol, serta mewarisi friksi-friksi kekuasaan dalam negeri yang sedang menajam, hingga persoalan ketegangan agama, Elizabeth I, dengan gaya kepemimpinan seorang ibu, mampu mengatasi semuanya. Dalam rentang waktu empat puluh lima tahun pemerintahannya, merupakan zaman kemakmuran, zaman perkembangan kebudayaan dan kesusasteraan, dan pada zaman pemerintahannya pula, Inggeris muncul sebagai kekuatan armada laut yang paling tangguh di dunia.

Begitulah. Seperti kata orang bijak, di balik perkembangan dunia, atau di balik sebuah peristiwa besar, selalu ada peran perempuan. Baik langsung maupun tak langsung. Dalam penyebaran Islam ada nama Kha-dijah. Dalam perang Romawi-Mesir ada peran Cleopatra. Di tanah Riau pula, tak sedikit nama perempuan yang mempunyai peran penting, khususnya dalam masa kerajaan. Ada Tengku Embong Fatimah yang pernah menjadi raja Daik-Lingga, ada Engku Puteri Hamidah yang berperan dalam pengangkatan raja-raja Melayu, ada Aisyah Sulaiman di lapangan kesusasteraan, dan beberapa nama lain.

Dewasa ini, sudah tak terhitung lagi jumlah perempuan yang tampil menjadi pemimpin yang mendunia, Sebut saja Indira Ghandi di India, Golda Meir di Israel, Gloria Macapagal Arroyo di Pilipina, Begum Khaleeda Zia di Bangladesh, Benazir Butto di Pakistan, dan seterusnya. Kebangkitan kaum perempuan pada abad ke 21 ini, sepertinya membenarkan pandangan ahli sejarah, Will Durant, yang mengatakan bahwa salah satu momentum besar abad ini adalah tampilnya kepemimpinan perempuan. Gempita kemunculan perempuan pada segala lapangan kehidupan ini, juga membuat ramalan para futurist menjadi benar. Naisbitt misalnya, dalam Megatrend 2000, mencatat beberapa gelombang besar yang akan terjadi pada abad ke 21, yang salah satunya adalah tentang ketokohan perempuan. Negeri kita ini juga memasuki era baru ketika undang-undang memerintahkan kuota 30% untuk perempuan di parlemen. Gemuruh kebangkitan perempuan ini sepertinya akan terus membesar, sejalan dengan perubahan dunia, khususnya perubahan cara pandang perempuan itu sendiri. Atau memang dunia kita kini sangat memerlukan sentuhan perempuan yang keibuan. Tapi para lelaki tak perlu takut, perempuan tak pernah bisa jauh dari laki-laki karena mereka, konon, terbuat dari tulang rusuk laki-laki.

Dalam kasus STPDN itu misalnya, barangkali diharapkan dengan kepemimpinan perempuan, lembaga tersebut menjadi lebih baik dan lembut. Karena, ketika Siti Nurbaya, memandang para praja STPDN, maka terbayang anak-anaknya, dan dengan segera pula ia akan memainkan peran seorang ibu yang melindungi, mengasuh, menyayangi, serta menanamkan nilai-nilai yang lebih santun. Sebaliknya bagi praja STPDN, dengan kepemimpinan Siti Nurbaya, mereka seperti menemukan sosok seorang ibu, sebuah sosok yang tak mungkin mereka kasan. Mungkin begitulah harapannya.

Dalam makna yang lain, perempuan memang mencerminkan kelembutan, pengayoman, bimbingan, dan keteduhan. Tak mengherankan, kalau penamaan hal-hal besar selalu merujuk pada perempuan (ibu). Mahasiswa menyebut kampusnya dengan Almamater atau ibu yang mengasuh dan memayungi. Pusat kota disebut ibukota, tanah negeri disebut ibu pertiwi. Penyebutan itu merupakan tanda bahwa dalam kata perempuan yang ibu, selalu ditawarkan hal-hal yang memungkinkan kita mendapat sesuatu yang positif. Namun demikian tidaklah berarti perempuan lebih baik dari lelaki atau sebaliknya, karena segala sesuatu berjalan dengan fitratnya masing-masing.

"Semua rahasia lelaki terang bagi perempuan, dan di mata seorang lelaki yang paling garang sekalipun, tetap membayang wajah ibunya (wajah seorang perempuan)," begitu lebih kurang bunyi ungkapan tokoh dalam naskah drama Bunmg Tiung Seri Gading-nya Hasan Junus. Hasan Junus agaknya benar, kita sedang memer-lukan sentuhan keibuan seorang perempuan. Kasih ibu memang sepanjang masa.


(No. 113/Th Iff/5 - II Oktober 2003)


Tulisan ini sudah di baca 121 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/363-Sentuhan-Perempuan.html