drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Ayam dan Telur


Oleh : drh.chaidir, MM

MANA yang lebih dulu ada, ayam atau telur? Pertanyaan sepanjang masa itu memang tidak perlu dijawab. Sebab, kontroversi akan terus muncul. Yang termasuk dalam kubu ayam seperti ayam hutan, ayam kampung, ayam kampus, ayam bersepatu dan sebagainya, pasti akan mati-matian mempertahankan: ayam lebih dulu ada di dunia fana ini daripada telur. Sementara yang termasuk pendukung kubu telur, seperti telur asin, telur bebek, telur busuk dan sebagainya, akan ngotot mempertahankan, telurlah yang paling duluan ada. Kalau tidak ada telur dari mana anak ayam menetas. Pertanyaannya akan lebih runyam bila wilayahnya diperlebar, mana yang lebih dulu ada, ayam betina, telur atau ayam jantan. Sebab tanpa ayam jantan, telur ayam betina tak akan pernah dibuahi dan tak akan pernah bisa menetas, dierami satu tahun sekalipun. Sebaliknya, ayam jantan, bukankah menetas dari sebuah telur yang diproduksi oleh ayam betina? Nah, rumit kan?

Pertanyaan senada bisa kita renungkan, mana yang berpengaruh, kekerasan di masyarakat luar mengimbas ke dalam kampus STPDN ataukah kekerasan di dalam kampus STPDN kelak akan dipraktekkan di masyarakat. Jawabannya boleh jadi tidak sesulit jawaban untuk pertanyaan ayam dan telur. Kekerasan di kampus STPDN itu adalah sebuah cerminan dari perilaku, dan perilaku manusia bisa dipelajari kausalitasnya. Yang diperlukan adalah kejujuran intelektual. Asal jujur-jujur saja, kita akan mampu membuat sebuah diagnosa, tapi kalau kita terperangkap dalam semangat korp sempit, struktural, formalistik, maka kita tidak akan menemukan permasalahan substansial.

Apa yang diperlihatkan oleh mahasiswa senior STPDN kepada adik-adik kelasnya, memang menarik untuk kita simak sebagai sebuah gejala psikologis. Lihatlah bagaimana pukulan dan tendangan itu mereka berikan secara powerfull kepada yunior-yuniornya. Orang awam dengan mudah melihat, itu bukanlah pukulan dan tendangan penyadaran atau pembinaan, itu pukulan dan tendangan yang mematikan. Jelas sekali terlihat siapa yang berkuasa dan mempertontonkan kekuasaannya, dan siapa yang tidak berdaya melawan kekuasaan. Siapa yang memerintah tanpa nurani dan siapa yang diperintah. Tidak ada rasa belas kasih, tidak ada rasa kemanusiaan. Rasa persaudaraan sesama mahasiswa pula, entah pergi ke mana. Adakah ini sebuah gambaran dari masyarakat kita yang anomi, masyarakat yang mengalami ketidakseimbangan psikologis akibat kehidupan yang serba matre?

Pembangunan yang hanya mengedepankan pemenuhan gairah material semata memang cenderung mengarah kepada sesuatu yang anomi, masyarakat yang agresif, serba massif dan berbau dagang. Jika itu pembangunan ekonomi, maka ia akan bergerak ke arah homo homini lupus, seperti kata Thomas Hobbes itu. Manusia cenderung bersaing dengan menggunakan segala macam cara. Jika ianya pembangunan hukum, maka kehidupan yang serba matre akan menyebabkan hukum hanya akan berfungsi sebagai penghakiman, bukan penyadaran. Jika ia institusi pendidikan, maka hanya akan melahirkan manusia-manusia pintar, bukan manusia yang cerdas. Kecerdasan adalah suatu gabungan antara kepintaran atau kepandaian, kebijaksanaan, kepribadian, kapasitas dan kompetensi.

Oleh karena itulah tujuan pendidikan nasional kita, sebagaimana diatur eleh Undang-undang, bermaksud mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam hati kita patut merenungkan adakah kaitannya kekerasan yang dipertontonkan itu dengan pendidikan yang diharapkan dari sekolah tinggi yang notabene akan menghasilkan pejabat-peiabat Demerintah itu. Suatu pagi beberapa hari lalu - sebuah pagi yang sebenarnya cerah bermandi sinar matahari - awan terasa menggantung, sepupu saya datang dan menangis. Tangis itu saya kira, juga tangis ibu-ibu lainnya yang amat sedih dan tertekan memikirkan nasib anaknya yang sedang menuntut ilmu di STPDN. Siapapun, ibu manapun, tidak akan tega melihat anaknya disiksa seperti yang ditayangkan di televisi itu. Lebih mengerikan lagi, bila kita mendengar pengakuan beberapa orang senior yang ditahan dan diperiksa kepolisian Jawa Barat dalam kasus tewasnya Wahyu Hidayat, mahasiswa STPDN. Mereka mengaku, kekerasan seperti yang ditayangkan itu, belum seberapa. Masya Allah!

"Saya shock, sungguh shock, saya kira itu biadab", begitu komentar Prof Ryaas Rasyid di televisi, setelah menonton kekerasan yang ditayangkan itu. Ribuan komentar senada muncul, semua menyayangkan tindakan kekerasan itu. Bila budaya penyiksaan seperti itu tidak dihentikan, maka Wahyu Hidayat-Wahyu Hidayat lain-nya akan segera menyusul, tinggal menunggu waktu saja.

Sangat wajar kalau masyarakat marah dan mempertanyakan maksud penyiksaan itu. Membangun mental? Membangun disiplin? Membangun karakter? Membangun fisik? Apakah memang harus seperti itu? Rasa-nya kita sedang memutar mundur jarum jam jauh sekali, tapi model kawah candradimuka seperti itu tidak kita temukan, bahkan di Bukit Tidar sekali pun, tempat taruna-taruna TNI digojlok dalam Akademi Militer.

Saya kira, apa yang dirumuskan oleh undang-undang sebagai tujuan pendidikan kita sebagainmana saya singgung di atas, sesungguhnya sudah ideal. Sebab ke depan, bangku pendidikan kita memang harus men-jawab tantangan zaman, bukan justru kontra-produktif terhadap kebutuhan zaman itu sendiri. Banyak warga masyarakat meyakini, model pendidikan dengan membiasakan kekerasan seperti di STPDN itu hanya akan melahirkan pejabat pemerintahan yang juga suka main kekerasan sehingga tidak mempunyai moral dan hati nurani, apalagi rasa empati terhadap kesulitan yang dialami orang lain. Pejabat yang dilahirkan dari proses seperti itu, sebagaimana diucapkan oleh para pengamat kita, tak akan pernah bisa menghayati kesulitan rakyat yang seharusnya mereka layani.

Konsep pendidikan ala STPDN merupakan sebuah pembelajaran yang berharga bagi kita. Ke depan memang perlu dicari solusi yang tepat untuk menjawab tuntutan perubahan. Kita memang tidak perlu mencari "kambing hitam" dalam kasus STPDN ini, namun itu bukan bermakna tidak perlu ada tindakan. Tindakan harus diambil untuk perbaikan dan mengobati hati-hati yang terluka. Dan untuk saat ini, kita patut gembira mendengar STPDN segera mendatangkan AA Gym untuk menyiram hati nurani mahasiswa STPDN beserta pengasuhnya. Agama, adalah penetralisir perilaku yang menyimpang karena agama akan membaneun akal budi.


(No. 112/Th III/28 September - 4 Oktober 2003)


Tulisan ini sudah di baca 133 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/362-Ayam-dan-Telur.html