drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Pencucian Uang


Oleh : drh.chaidir, MM

SUN CITY adalah sebuah surga yang terletak jauh di utara Johannesburg, ibukota Afrika Selatan, negerinya Nelson Mandela. Sun City sesungguhnya adalah sebuah tourist resort (Kawasan Wisata Terpadu) yang dibangun di suatu kawasan sangat luas, yang semula adalah kawasan marjinal, gersang berbukit-bukit dan tak memiliki daya tarik. Kini kawasan itu telah disulap laksana surga. "Anda pernah ke surga?" tanya teman saya seorang pemandu lokal dari Afrika Selatan. Saya jawab, belum. "Lantas kenapa anda bilang seperti surga?" guraunya. Saya memang spontan mengungkapkan kekaguman saya terhadap keindahan resort itu. Mereka berhasil memanjakan imajinasi dan mimpi-mimpi manusia tentang keindahan suatu kawasan, me-nuangkannya dalam suatu desain yang paripurna dan kemudian berhasil mewujudkannya menjadi kenyataan.

Sun City semula hanya mengandalkan kasino sebagai daya tariknya, namun setelah 20 tahun, keadaan berbalik, kasino hanya merupakan sebagian kecil saja lagi dari keseluruhan kegiatan yang bisa dinikmati dari resort tersebut. Atau boleh jadi porsi kasinonya tetap, tetapi fasilitas kepariwisataan lainnya dikembangkan dengan sangat cepat memenuhi permintaan. Sehingga jadilah Sun City menjadi Kawasan Wisata Terpadu yang amat mengesankan. Dalam hati saya bertanya, siapa gerangan pemodal gila yang mau bertaruh menanamkan uangnya di pedalaman Afrika Selatan ini, membangun sebuah resort yang memerlukan modal besar bukan alang kepalang? Seakan mengetahui apa yang ada dalam pikiran saya, pemandu wisata itu berbisik, 'Tni hasil money laundering tuan", ujarnya dengan senyuman penuh makna. Saya pun mengangguk-angguk mafhum, I see, I see..., kata saya dengan lagak mengerti.

Dua tahun kemudian dalam setting yang berbeda, saya melongo membaca berita koran, Nader Thaher di-tahan oleh Polisi Italia dengan tuduhan tersangkut kasus money laundering atau pencucian uang. Berita itu tentu saja bikin heboh, karena Nader Thaher adalah salah seorang kandidat Gubernur Riau, yang beberapa hari sebelumnya juga bikin heboh karena statementnya di media massa, bahwa dia bermaksud menyewa "perahu" Fraksi PDIP dan Partai Golkar di DPRD Provinsi Riau senilai 100 milyar rupiah untuk kepentingan pencalonannya. Orang memang terkesima, alangkah kayanya Nader. Seperti cerita Sinbad dalam kisah 1001 malam saja.

Tapi jelas, tidak ada hubungan antara Nader Thaher dengan Sun City di Afrika Selatan itu. Hanya secara kebetulan ada kata kunci yang sama, yaitu money laundering, atau pencucian uang. Nader belum tentu salah dan belum tentu terlibat dalam praktik pencucian uang sebagaimana dituduhkan oleh polizia di Italia itu, pengadilanlah kelak yang akan menentukan. Namun, ketika DPR menyetujui mengesahkan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang beberapa hari lalu, masyarakat awam kembali bertanya-tanya, seperti apa binatangnya Pencucian Uang itu. Adakah sama dengan pencucian pakaian atau pencucian mobil? Sayang, Yung Dolah, manusia pencerita imajinatif dari Bengkalis yang serba tahu itu telah tiada, kalau masih ada tentu kita bisa bertanya sepuas-puasnya untuk memuaskan rasa ingin tahu kita masalah cuci-mencuci uang ini. Ketika seorang mahasiswa bertanya kepada saya, "Bang apa bendanya money laundering ni?" Sayapun menjawab sekenanya laksana seorang Yung Dolah. Suatu kali saya naik pesawat, dari atas saya lihat ribuan perempuan berderet di tepi sungai Siak, pesawat saya suruh terbang rendah, ternyata barulah saya tahu, mereka sedang mencuci uang ... "Ah, abang ni, seriuslah, Bang," kata sang maha-siswa. Oke, kira-kira begini adinda, saya serius. Seekor kerbau dibeli dari uang hasil rampok, kerbau itu kemudian beranak, anak kerbau yang telah besar lalu dijual. Hasil penjualan anak kerbau adalah uang. Bedanya, uang hasil rampok adalah illegal, uang hasil penjualan anak kerbau adalah legal. Jadi kira-kira maksudnya, uang hasil penjualan anak kerbau itu adalah uang yang telah dicuci, diperoleh dengan sah. Diperiksa tujuh kali oleh KPKPN pun uang itu legal, asal tidak di markup pula ... he ... he ....

Dalam bentuk lain, ada uang hasil bisnis narkoba, ada uang hasil judi, bahkan konon dalam wajah yang paling buruk dari praktik pencucian uang itu, ada uang yang "aspal"- asli tapi palsu. Asli? Memang uang itu asli tapi konon nomor serinya tidak tercatat secara resmi, maka uang tersebut sesungguhnya palsu. Pencetakan uang "aspal" itu, sekali lagi konon, melibatkan jaringan yang sangat rahasia.

Kembali kepada Sun City, tourist resort yang seperti surga itu, konon mulai dibangun beberapa tahun yang lalu dari hasil judi yang diperoleh dari Las Vegas. Benar atau tidak, silahkan tanya kepada mafia judi di Las Vegas. Tapi tidak ada gunanya dikonfirmasi segala, apalagi berurusan dengan mafia judi. Cerita dari pemandu itu saja sudah cukup memberikan gambaran. Uang yang diperoleh dari hasil judi diinvestasikan untuk membangun sebuah kawasan wisata terpadu, kemudian kawasan ini tumbuh dan berkembang menjadi pabrik uang. Uang yang kemudian mengucur deras dari kawasan wisata itu menjadi keuntungan yang sah.

Dalam UU tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang telah disetului DPR itu disebutkan sederetan panjang tindak pidana yang dapat menyeret seseorang ke dalam penjara. Praktik-praktik penumpukan kekayaan yang illegal itu adalah berupa hasil korupsi, hasil penyuapan, penyelundupan barang, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan imigran, kejahatan di bidang perbankan, kejahatan pasar modal, kejahatan asuransi, dan juga kejahatan perpajakan. Juga merupakan uang haram yang bisa dijerat dengan tindak pidana pencucian uang, berupa kekayaan yang diperoleh dari bisnis narkotika, psikotropika, perdagangan manusia )tentu termasuk perdagangan bayi) perdagangan senjata gelap, penculikan, terorisme, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan uang, perjudian, prostitusi, kejahatan kehutanan (tentu juga termasuk illegal loging), lingkungan hidup, dan juga kelautan (barangkali juga termasuk perdagangan pasir laut secara gelap).

Jika ada nasabah yang mentransfer atau menerima transfer uang dari pihak lain sebesar Rp 1,- saja, sudah bisa dimasukkan dalam kategori tindak pidana pencucian uang jika bank yang bersangkutan mencurigai tranfer itu berasal dari kegiatan-kegiatan yang menyimpang dan kemudian melaporkannya kepada pihak yang berwajib.

Kedengarannya memang agak berlebihan, mosok transfer Rp 1,- saja bisa dipermasalahkan. Pemerintah, sebagaimana kita ikuti di media massa, memang semula mencantumkan dalam RUU jumlah Rp 500 juta,- sebagai jumlah minimal untuk bisa dijerat dengan tindak pidana pencucian uang, namun dalam pembahasan di DPR jumlah minimal tersebut menjadi Rp 1,- Mencuri satu ekor ayam atau mencuri satu ekor sapi, namanya tetap mencuri. Kalau mentalitasnya sudah pencuri, maka besar kecil hasilnya, itu hanya masalah kesempatan. Agaknya inilah logikanya, dan saya sependapat dengan DPR.

Uang itu akrab dengan setan. Tak ada uang orang menjadi setan, kebanyakan uang orang kesetanan. Nasihat George Horace Lorimer berikut agaknya patut kita renungkan berkenaan dengan masalah uang ini. "Sungguh baik untuk memiliki uang dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang", kata Lorimer, "tetapi sungguh baik pula untuk sekali-sekali memeriksa dan meyakinkan diri kita, bahwa kita tidak kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang".


(No. III/Th III/21 - 27 September 2003)


Tulisan ini sudah di baca 241 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/361-Pencucian-Uang.html