drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

Tragedi JW Marriott


Oleh : drh.chaidir, MM

MASIH lagi segar dalam ingatan kita ketika Denpasar porak poranda dihantam bom 12 Oktober 2002 lalu, yang menewaskan tak kurang dari 200 jiwa dari manca negara, kini giliran Jakarta. Sebuah bom berkekuatan amat besar meledak di halaman Hotel JW Marriott di kawasan bisnis Kuningan, sebuah kawasan elit yang terbilang sibuk di Jakarta, menewaskan 14 orang dan mengakibatkan 149 orang lainnya luka-luka. Berdiri bulu roma ketika mendengar musibah itu, langkah saya rasanya terjemput-jemput. Sebab belum sampai sebulan yang lalu, ketika liburan sekolah, saya beserta isteri dan anak-anak sempat menikmati makan malam di Restoran Sailendra, hotel itu, yang kini hancur berantakan.

Negeri ini, dengan kejadian itu - dan sebelumnya - sepertinya sedang memasuki sebuah tradisi dan babak baru dalam upaya mendapatkan kehendak atau mele-paskan rasa marah. Kita tidak tahu, dari mana tradisi ini datang. Yang kita tahu adalah, bahwa dengan tra-disi baru ini, sejumlah korban telah jatuh dan kehormatan sebuah bangsa tergadai. Kita berduka atas musibah itu. Malang tidak berbau, kata orang tua-tua. Artinya, kita sebagai manusia biasa, tidak bisa meramalkan terjadinya sebuah musibah, dia datang tiba-tiba tanpa diduga. Memang benar, kematian adalah rahasia Tuhan seperti halnya jodoh dan rezeki. Namun walaupun semua manusia yang bertuhan menyadari itu, tapi tidak pernah ada satu keluargapun yang betul-betul siap menghadapi kenyataan kehilangan orang-orang tercinta, apalagi melalui sebuah tragedi yang tiba-tiba saja seperti di Hotel JW Marriott itu.

Yang membuat kita layak termenung dan gundah adalah, kita rasanya tidak lagi memiliki kebanggaan sebagai sebuah negeri yang masyarakatnya santun, bertutur sapa halus dan penyayang sesama. Kita rasanya tidak lagi berbeda dengan kelompok masyarakat di belahan lain dunia ini yang memiliki karakter aneh, pemarah, sangar, pengamuk, pendendam dan karakter destruktif lainnya.

Akhir-akhir ini kita memang akrab dengan terma keterbuangan, keterasingan, kebencian, dendam, bahkan benturan-benturan kepentingan yang sepertinya tak terdamaikan. Pertanyaannya, adakah tahap ini memang harus kita lalui sebagai sebuah episode masyarakat yang sedang berubah? Tidak ada yang bisa membantah, perubahan masyarakat, kebudayaan dan peradaban memang sedang berlangsung. Masyarakat kita umumnya tidak lagi dapat disebut sebagai masyarakat primitif, masyarakat tradisional pun tak. Masyarakat kita sesungguhnya sudah maju, tetapi beriringan dengan kemajuan dan perubahan yang cepat itu, proses akulturasinya pun berlangsung cepat bahkan terkesan menjadi tidak menentu.

Tidakkah bisa kita hindari jalan-jalan pintas yang penuh dengan risiko yang tidak bisa diprediksi ini? Jawabnya, tentu saja bisa. Dan salah satu caranya adalah dengan mengantisipasi pluralitas dengan cerdas. Kita memang memahami bahwa, dewasa ini terjadi suatu perbedaan pandangan antar para pihak, yang kian hari kian menukik. Baik perbedaan pandangan politik, perbedaan ekonomi, maupun anutan-anutan, serta isme-isme. Perbedaan semacam itu, pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Perbedaan merupakan hal yang lumrah, dan justru perbedaan dan keberagaman kehendak, pemikiran, serta anutan itu akan menjadi dunia yang manis jika bisa dimainkan dalam koridor dialog, akan menjadi air yang mengalir jika kita bingkai dengan pemikiran yang santun. Tapi karena seringkali ada pihak-pihak yang memaksa untuk lebih dulu sampai pada kepentingan, tidak sabar, maka jadilah keadaan seperti yang kita alami akhir-akhir ini. Dan keberagaman pun menjadi sesuatu yang mencemaskan.

Kemiskinan dialog akan berpotensi untuk menimbulkan salah paham yang akhirnya akan menimbulkan rasa saling curiga bahkan konflik. Kita semua sudah letih dipersenda-guraukan oleh kebodohan dan ketidak arifan kita sendiri.

Pluralitas sekali lagi, tak akan mungkin diganti dengan homogenitas, karena itu adalah sebuah kenyataan sejarah zaman berzaman. Tidak ada jawaban yang mudah untuk hal ini dan tidak ada satu jawaban pun yang memuaskan semua orang, tapi dialog lintas kafilah akan dapat membangun sinergi satu dengan lainnya.

Kita tidak habis mengerti, mengapa hal-hal semacam ini terus menerpa wajah negeri ini. Sepanjang yang saya pahami, masyarakat kita adalah sebuah masyarakat yang tumbuh dengan alas anutan yang mengajarkan dialog dan kesantunan yang maha dahsyat. Islam misalnya, menegaskan agar kita tidak berlaku zalim, dan juga menganjurkan agar menjadi manusia yang pemaaf, karena hal itu adalah jalan menuju kemuliaan. Yang Nasrani menegaskan, apa yang tidak kamu suka orang lain melakukan pada dirimu, maka jangan lakukan. Begitu juga dengan anutan yang lain. Tapi mengapa begini. Penyebabnya barangkali karena tidak adanya kehendak yang kuat untuk melakukan dialog dan hidup berdampingan secara rukun dan damai. Kita tentu tidak perlu sampai pada suatu keadaan yang kacau dan menakutkan, ketika kedamaian dan ketenteraman itu hanya ada dalam mimpi.

Negeri ini harus mengambil iktibar dari kejadian tersebut. Sebagai sebuah negeri berbilang kaum yang sedang giat mengembangkan diri, perbedaan-perbedaan dan keberagaman kehendak menjadi sesuatu yang sering mengemuka. Jika perbedaan pandangan sesama kita, tidak diberi sebuah laluan yang bernama dialog, tidak mustahil akan berujung pada pemaksaan, meski mungkin dalam bentuk yang berbeda. Kearifan Melayu mengajarkan, Jika seorang hamba Melayu mengubah perjanjiannya atau memberi aib sesama hamba melayu alamat negerinya akan binasa. Begitulah pesan kitab Sejarah Melayu, Sulalatus Salatin. Pesan itu mestinya tidak terlalu sulit diarifi.

Apapun alasannya, kita harus berhenti memainkan jalan kekerasan. Kebencian dan dendam, seringkali melahirkan petaka lebih banyak ketimbang sebuah matlamat yang ingin kita capai dengan kekerasan itu sendiri. Sebab kata orang-orang bijak, akan selalu ada kepedihan dan kesedihan di balik kebencian dan dendam. Sebuah kemenangan yang ranggi, tidak pernah lahir dari sebuah kultur kebiadaban dan kekerasan, justru sebaliknya, kebiadaban dan tindakan kekerasan itulah yang telah mewariskan tangis, kegetiran, dan airmata abad berabad. Apa yang diuangkapkan oleh Mohandas K Gandhi agaknya layak kita simak: "Kekerasan adalah senjata orang yang jiwanya lemah". Orang yang jiwanya lemah kan mudah kemasukan setan. Dan kita, tentu tidak mau kemasukan setan, karena bila itu yang terjadi semua kesempatan dialog akan tertutup.


(No. 105/Th II/10 - 16 Agustus 2003)


Tulisan ini sudah di baca 101 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/360-Tragedi-JW-Marriott.html