drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 4

jalan Kekerasan


Oleh : drh.chaidir, MM

KEKERASAN sepertinya sudah menjadi sebuah kata dan perilaku yang demikian dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada teror bom, ada pertikaian antar kampung, antar pendukung parpol atau ormas dan sebagainya. Kekerasan itu juga, paling tidak, dalam beberapa tahun terakhir, seakan-akan menjadi makanan yang ikut menumbuh-besarkan generasi menuju masa depan. Di mana-mana, dalam skala nasional, kekerasan dihidangkan di depan mata setiap waktu cerita tentang pertikaian, penumpahan darah, pemerkosaan, penindasan, dan hal-hal lain yang menyesakkan kemanusiaan, dengan beragam latar dan alasan, terbentang, dan sekaligus terentang panjang dari satu tempat ke tempat lain.

Saya seringkali merasa seram setiap menonton televisi yakg setiap hari memaparkan berita kekerasan. Ada kekuarga yang dibantai, ada yang dibunuh karena soal-soal yang sepele, perampokan dengan penganiayaan, dan sebagainya. Semakin hari wilayah kekerasan itu semakin meluas saja, dan celakanya, kekerasan itu dewasa ini bukan lagi semata-mata tindakan yang diakibatkan oleh faktor-faktor kemiskinan atau peristiwa sosial keseharian, tapi telah merambah menjadi ins-trumen pada semua segi kehidupan. Kekerasan ada da-lam dunia ekonomi, ada dalam dunia politik, dunia ideologi, dan bahkan dalam hubungan antar keyakinan transendental.

Semua kekerasan yang saban hari terjadi itu, membuat wajah kita sebagai bangsa menjadi demikian lebam. Dalam pergaulan internasional, bahkan negara kita sudah digelari pula sebagai negara teroris. Stigma sebagai negara teroris tentu kian menyulitkan langkah Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk melangkah maju ke depan. Kondisi ini membuat kita seperti tak dapat lagi menegakkan kepala, karena kekerasan itu, justru terjadi bersamaan dengan laungan yang menyatakan bahwa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian dan kemanusiaan.

Memang akan terasa sulit jika kita harus memutuskan siapa yang salah atau siapa yang benar dari sejumlah peristiwa kekerasan yang terjadi. Setiap peristiwa kekerasan seringkali berangkat dari alasan-alasan yang mendasar pula. Selalu ada hubungan sebab akibat yang jika harus diperdebatkan, tentu saja tak akan pernah selesai.
Mengapa kekerasan harus terjadi? Mengapa jalan kekerasan yang harus dipilih? Mengelaborasi pendapat pendiri Hamas, Dr. Abdul Aziz Rantisi, kekerasan menjadi jalan bagi satu pihak, justru terjadi karena pihak lain mencoba mendominasi dengan menggunakan kekuasaan yang besar dan konspirasi antar kekuasaan yang justru melanggar kaidah-kaidah kemanusiaan itu sendiri. Dalam The Power of Violence and the Power of Non-Violence, Maurice Friedman, menyatakan bahwa kekerasan merupakan produk sebuah rasa frustrasi, rasa malu, dan sekaligus kemarahan, khususnya ketika seseorang atau kelompok merasa ditindas, dan tidak melihat adanya kemungkinan penyelesaian secara lebih terhormat. Dengan demikian, merujuk pada ungkapan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa gerakan-gerakan militan, yang kemudian disebut secara aklamasi dengan terorisme, sesunggguhnya merupakan sebuah kulminasi atas sebuah rasa penanggungan yang sudah tak lagi tertanggungkan.

Apapunlah penyebabnya, kita harus meninggalkan jalan kekerasan Jial yang kita takut dari jalan kekerasan itu, sesungguhnyaNbukanlah semata-mata kematian yang dihasilkannya, meskipun itu memilukan, tapi yang lebih besar dari itu, karena kekerasan akan memunahkan kemanusiaan. Kekerasan akan membunuh pemahaman kebersamaan dalam hubungan antar manusia. Kekerasan itu, kata Johan Galtung, dalam Violence, Peace, and Peace Research, akan memperbesar jarak antara yang potensial dan yang aktual dalam diri manusia. Hasilnya tentu saja sebuah kehancuran.

Untuk itu, memang sudah waktunya untuk melakulan segala sesuatu dengan cara yang lebih beradab. Jalan kekerasan, sudah nyata tidak pernah menyelesaikan apapun. Sejarah kemanusiaan telah berulangkali mengajarkan kita, bahwa jalan panjang kekerasan tak pernah memberikan kemaslahatan dalam hal apapun. Hal yang paling banyak dipersembahkan oleh kekerasan, justru adalah airmata, kepedihan dan dendam. Kita tentu saja tidak menginginkan itu.

Kita menginginkan Indonesia berjalan dan bergerak maju dengan damai, penuh cinta dan kesantunan. Dendam, kebencian, atau rasa luka yang dalam, memang suatu hal yang tak terelakkan dalam hubungan antar sesama, tapi jika kekerasan yang dipilih sebagai jalan untuk menyelesaikan semua itu, maka yang muncul hanyalah sebuah penderitaan yang baru. Kita memang harus sebisa-bisanya mengelakkan jalan kekerasan dalam mencapai tujuan. Kita harus percaya, bahwa kekerasan yang berlangsung pada sebuah negeri akan memakan anak-anaknya sendiri. Kita harus berjuang membuat negeri ini menjadi sebuah tanah yang ter-senyum, karena anak-anaknya, adalah anak-anak yang memegang tuah, memegang kesantunan dan kemanusiaan sebagai jalan utama dalam menyelesaikan semua persoalan.

Hal terpenting dalam mengelakkan kekerasan, kata Ghandi, adalah dengan membuka ruang cinta. Dalam semangat mencintai, kita akan mendapatkan semua hal. Dalam pidatonya pada awal tahun 1925, Ghandi berteriak: Saya tidak menginginkan kemerdekaan India jika mengandung arti pembinasaan .... Nasionalisme saya adalah, di mana tempat tidak ada kebencian terhadap siapapun, ras manusia manapun. Biarkanlah hal itu menjadi nasionalisme kita bersama.

Kekerasan tidak akan terjadi kalau kebersamaan dipupuk dan ruang diciptakan. Apapun persoalan kita, maka mari kita duduk satu meia. berdialog dengan bahasa-bahasa kebersamaan. Saya percaya jika itu kita budayakan, niscaya negeri ini akan lebih cepat bergerak ke arah kemajuan.

Kebersamaan, kesantunan, kelembutan, tidaklah akan datang kepada sesuatu kecuali memperindahnya, dan ianya tidaklah akan pergi kecuali membuat sesuatu menjadi buruk. Begitu pesan Nabi Muhamad Saw, dan saya membayangkan suatu masyarakat yang indah, jika pesan ini dapat kita terjemahkan dalam kehidupan.


(No. 115/Th III/19 - 25 Oktober 2003)


Tulisan ini sudah di baca 129 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/359-jalan-Kekerasan.html