drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Fenomena TNI


Oleh : drh.chaidir, MM

SYAHDAN, 12 Maret 1958, Letnan II Beny Moerdani (sekarang telah tiada, terakhir Jenderal Bintang Empat, Panglima ABRI) bersama pasukannya yang tergabung dalam Operasi Tegas yang dikomandoi oleh Letnan Kolonel Kaharudin Nasution (yang kemudian menjadi Gubernur Riau), diterjunkan dari pesawat C-47 Dakota dengan titik pendaratan Bandara Simpang Tiga, Pekanbaru.

Penerjunan pasukan ABRI dalam rangkaian operasi penumpasan PRRI ini, berjalan mulus, sebagaimana juga akhir dari operasi itu sendiri. Itulah salah satu aktualisasi diri ABRI. Bagaimana aktualisasi itu kini pasca reformasi dan pasca dwifungsi, ketika TNI mel-kukan re-fungsionalisasi?

Masa-masa itu, ketika Kaharudin Nasution terjun dalam pakaian loreng, situasi negara kita memang kurang kondusif, Sumatera Tengah bergolak. Ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat meletuskan pemberontakan PRRI. Ketika itu yang gerah tidak hanya pemerintah pusat, Amerika Serikat pun ikut-ikutan gerah, mereka sudah tidak sabar, bahkan pasukan marinirnya telah bersiap-siap di lepas pantai Singapura, dimana Armada ke-VIInya nongkrong. Amerika memang sangat berkepentingan melindungi warganya yang bergelimang minyak di areal penambangan minyak di Duri dan Minas. Untungnya, marinir Amerika urung masuk, karena ABRI ternyata mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik.

Bila kita menengok bilik sejarah, kita akan melihat perjalanan panjang romantika keberadaan TNI dalam kehidupan bangsa ini. Kehadiran tentara di negeri ini tak pernah bisa dilepaskan dari rakyat, dengan segala suka dukanya. Sekali-sekali mesra, di lain waktu terasa hambar dan dingin, bahkan bukan tidak pernah pula hubungan itu memburuk. Hubungan TNI - rakyat itu adakalanya benci tapi rindu. Tapi satu hal pasti, TNI selalu memainkari peran yang signifikan dalam sejarah politik Indonesia.

Sejarah juga mengingatkan kepada kita, TNI itu lahir dari laskar-laskar rakyat yang menjelma menjadi Badan Keamanan Rakyat dan kemudian diberi nama TNI (Tentara Nasional Indonesia). TNI pernah berganti nama menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), tetapi akhirnya kembali menjadi TNI.

Masa perjuangan fisik merebut kemerdekaan dan kemudian mempertahankan kemerdekaan RI pasca proklamasi, ketika TNI bahu membahu dengan rakyat melakukan perang gerilya melawan penjajah, agaknya adalah masa-masa yang paling romantis dalam sejarah peran tentara di negeri ini.

Namun semenjak TNI menggulirkan konsep Kekaryaan atau Operasi Karya TNI pada tahun 1955 yang waktu itu disponsori oleh Jenderal AH Nasution, kesalahpahaman dalam berbagai wujud mulai menampakkan diri. Pelan tapi pasti, implementasi konsep itu kian melebar dan menimbulkan "bias". Inti konsep itu, sebagaimana disampaikan oleh Nasution adalah, "tentara bukan sekadar alat sipil seperti di negara-negara Barat. TNI bukan pula rezim militer yang memenangi kekuasaan Negara. TNI adalah kekuatan sosial, kekuatan rakyat yang bahu-membahu dengan kekuatan rakyat lain." Konsep ini kemudian sangat terkenal dengan nama Dwifungsi ABRI. Nasution sendiri agaknya tidak menyangka konsep Dwifungsi ABRI itu akan menggurita sedemikian rupa sehingga merambah ke setiap sudut, ke semua bidang, dan ke semua lini. Supremasi sipil tergusur. Jabatan-jabatan penting di pemerintahan baik di eksekutif maupun legislatif dan yudikatif diisi oleh perwira-perwira aktif dan purnawirawan. Tidak hanya itu, posisi-posisi strategis di BUMN pun banyak pula diisi oleh tentara. Maka ketidakpuasan pun seakan menemukan lahan yang subur.

Tidak ada yang bisa menghentikan Dwifungsi ABRI itu kecuali oleh Dwifungsi itu sendiri. Dan itu pulalah pesan penting yang bisa kita catat dari sejarah perjalanan politik bangsa kita. Artinya ekses Dwifungsi itulah yang telah menggerogoti Dwifungsi itu sehingga tidak lagi mangkus sebagai kata kunci "untuk menyelamatkan kepentingan nasional, menjaga kedaulatan dan integri-tas NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945." Masa-lahnya adalah, rakyat yang sebelumnya tidak berjarak dengan TNI selalu merasa kalah bersaing apabila terjadi benturan kepentingan di wilayah yang semula utuh menjadi habitat sipil. Mereka dikalahkan oleh tentara yang dikaryakan.

Namun sejalan dengan masyarakat yang sudah mulai terdidik dan sadar akan hak-hak kewarganegaraannya dan sejalan pula dengan momentum gelombang besar demokratisasi yang melanda dunia, kesadaran-kesadaran baru mulai tumbuh. Stabilitas tidak lagi diukur seberapa lama masyarakat diam dan penurut, persatuan tidak lagi diukur dari keseragaman. Masa berubah sejalan dengan perkembangan zaman. Tan-tangan pun berbeda. Yang dihadapi kini tidak lagi musuh yang melanggar kedaulatan, tapi musuh yang tidak berwujud berupa kebencian, kecemburuan, kekecewaan, kejahatan akal dan kekejaman.

Hari Ulang Tahun ke-59 TNI tanggal 5 Oktober tahun 2004 agaknya adalah momentum awal ketika TNI memasuki suatu episode baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masa-masa ketika tentara merambah ke segala bidang di bawah payung Dwifungsi ABRI dengan sebutan dikaryakan, telah menjadi masa silam. Periode ketika TNI ikut berkampanye untuk kemenangan salah satu organisasi peserta pemilu telah menjadi masa lalu. Babak ketika perwira-perwira TNI malang-melintang dan menjadi penentu di parlemen, bahkan menjadi "King Maker" telah lewat bahkan lebih cepat dari perkiraan semula. TNI kelihatannya kembali telah menemukan jatidirinya.

TNI memang secara sungguh-sungguh melakukan penyempurnaan reformasi internal di tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri dewasa ini, perwira-perwira muda yang berpaku melati dan bintang di pundaknya umumnya berpikiran cerdas dan terbuka. TNI telah melakukan reposisi dan reorientasi secara sangat mendasar, sebagai alat pertahanan Negara TNI memang harus menjadi prajurit yang profesional. Agaknya ini sejalan dengan dambaan rakyat.

Tidak bisa dipungkiri, peran yang melebar tak terkawal dalam beberapa dekade terakhir ini telah menimbulkan rasa kurang nyaman bagi rakyat yang merasa memiliki TNI. Ada rasa curiga dan ada prasangka. Dan ini bermula dari tersumbatnya komunikasi sehingga satu dan lainnya terasa ada jarak. Komunikasi yang tersumbat akan bisa menimbulkan salah pengertian, kecurigaan dan juga fitnah. Di tengah beban yang semakin sarat, kedepan kita mendambakan kemesraan TNI dan rakyat seperti ketika perang gerilya itu, sehingga bisa saling bahu-membahu. Namun tentu dalam iklim masyarakat modern yang maju dan dalam semangat egaliter. Rasa memiliki itu akan kembali tumbuh bila tidak ada kepentingan yang selalu saling silang.

Tantangan terberat bagi TNI agaknya tidak hanya menjadi profesional yang handal tapi bagaimana me-rebut kembali hati rakyat. Berhasilnya SBY memenangkan pemilihan presiden tanggal 20 September lalu - kendati tidak mengusung panji-panji TNI - membawa pesan bahwa rakyat tidak ragu memberikan kepercayaan kepada TNI. Pesan berikut adalah pembuktian bahwa TNI tidak idcntik dcngan militcrisme, sebaliknya?. justru tidak terpisahkan dari rakyat. TNI, syabasll


(No. 165/Th III/11 - 17 Oktober 2004)


Tulisan ini sudah di baca 178 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/356-Fenomena-TNI.html