drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Siap Kalah Siap Menang


Oleh : drh.chaidir, MM

SETELAH melewati berbagai keadaan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kita akhirnya dapat menyele'saikan tahap pemilu legislatif secara baik. Usai pemilu legislatif, kini kita semua selaku anak bangsa melanjutkan konsentrasi untuk melakukan pemilihan umum tahap berikutnya, yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden; memilih secara benar, demokratis, dan sesuai dengan hati nurarii, siapa yang akan menjadi pemegang teraju kepemimpinan Indonesia lima tahun mendatang.

Seperti yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) ada 5 (lima) pasang calon yang akan dipilih oleh rakyat. Mereka adalah pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi, Wiranto dan Solahudin Wahid, Susilo Bambang Yudhoyono dan Yu-suf Kalla, Amin Rais dan Siswono Yudhohusodo serta pasangan Hamzah Haz dan Agum Gumelar. Kelima pasang calon inilah, yang dengan segala kelebihan dan kelemahannya harus dipilih atau tidak dipilih oleh rakyat Indonesia.

Pemilu presiden dan wakil presiden tentu saja berbeda dengan pemilu legislatif. Jika pada pemilu legislatif rakyat memilih tanda gambar dan nama, dalam pemilu presiden, rakyat hanya memilih gambar pasangan yang diinginkan. Perbedaan berikutnya adalah jika dalam pemilu legislatif masyarakat memainkan hak pilihnya dalam sentimen partai secara total meski tetap memilih caleg yang mereka sukai, tapi dalam pemilu presiden hal itu bisa berubah. Faktor-faktor ketokohan, selain mesin politik, memiliki peran yang sangat menen-tukan capaian-capaian yang akan diraih. Dalam kasus pemilihan presiden, dapat saja seorang simpatisan partai A tidak memilih calon presiden yang diajukan partainya karena persoalan ketokohan ini.

Untuk pemilu presiden ini sayap-sayap partai juga sulit untuk digunakan, karena tidak jarang dari satu partai, terdapat lebih dari satu calon yang berlaga, baik pada posisi capres ataupun pada posisi cawapres. Inilah dinamikanya. Tentunya berhadapan dengan kondisi yang berbeda ini, para capres dan tim sukses yang di-bentuk harus membuat sebuah strategi yang bagus di semua lini agar tidak menjadi pecundang di babak awal.

Para calon tentu sudah mengantisipasi pQrgr>a1ar> iSi . ini, dan seperti yang kita lihat, meski belum waktu kam-paye, semuanya sudah sibuk "menjual diri" dengan berbagai cara. Begitu juga dengan tim suksesnya, sudah bergerak kemana-mana dan melakukan berbagai upaya supaya tokoh yang didukung mendapatkan perolehan suara yang signifikan.

Tentu saja semua itu sah, sepanjang masih bermain dalam koridor hukum yang berlaku. Ini kita maklumi sebagai sebuah upaya untuk mendapatkan kemenangan, untuk mendapatkan mandat rakyat. Siapa yang paling berhasil berebut hati rakyat - tentu saja kita berharap dengan cara yang baik dan beradab - orang itulah yang akan memenangkan pertarungan, orang itulah yang akan dijadikan pemimpin.

Tapi bagi kita, apakah yang paling penting dari prosesi pemilihan presiden ini? Kita memang belum tahu siapa yang keluar sebagai pemenang, meski kita tahu pasti, tentu salah satu dari lima pasangan yang ada. Sesungguhnyalah, bukan kemenangan dan kekalahan itu yang utama, tapi bagaimana agar pemilihan ini dapat mewariskan suatu tradisi demokrasi dan tradisi pergantian kekuasaan yang tidak menimbulkan ekses negatif seperti yang terjadi sebelumnya.

Kekhawatiran banyak pihak terhadap ekses yang mungkin ditimbulkan oleh peristiwa suksesi ini tentu saja beralasan. Tidak jarang benturan yang lebih besar justru terjadi setelah proses berlangsung dan selesai. Dan penyelesaiannya seringkali meminta waktu dan korban yang lebih banyak, terlebih pula, Indonesia punya riwayat panjang tentang hal itu. Dalam sejarah pergantian kekuasaan di Nusantara, selalunya tidak selesai begitu saja tapi kemudia diikuti dengan pertikaian yang tidak hanya melibatkan para pihak yang bersaing, tapi juga golongan akar rumput atau pendukung masing-masing calon. Hasilnya kemudian tentu saja mudah ditebak, kehancuran datang bagai air bah, melenyapkan apa yang sudah dibangun dengan susah payah. Hal itu terjadi sejak zaman dahulu kala, dan bahkan setelah kemerdekaan dalam bentuk dan skala yang berbeda.

Untuk itulah, dalam pandangan saya, hal terpenting yang juga harus dilakukan oleh para calon presiden adalah tidak hanya mempersiapkan diri dengan segenap kekuatan untuk meraih kemenangan, tapi juga mempersiapkan diri secara maksimal untuk "menang" dalam menerima kekalahan. Jika kesiapan diri semacam ini tidak dilakukan, maka tidak mustahil yang akan terjadi bukannya pewarisan tradisi demokrasi yang baik, tapi justru mewariskan dendam dan pertikaian dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, sang calon harus mempersiapkan diri, siap menang siap kalah. Semuanya kita bermain dalam ruang kebersamaan yang bermartabat.

Sebagai bangsa yang bergerak menuju kedewasaan politik, kita memang harus berhenti mewariskan suatu sikap yang tak mampu menerima kenyataan. Sebagai manusia Indonesia yang sudah belajar banyak dari kepahitan dan kekerasan sejarah politik, semestinya sudah sampai batas bagi kita untuk merubahnya.

Semua persaingan untuk mendapatkan sesuatu adalah sah. Yang tidak sah adalah kalau persaingan itu kemudian membuat kita harus bertikai dan kehilangan marwah. Kini kita punya kesempatan untuk menang atau kalah dengan cara terhormat, dan secara langsung akan dapat pula memberikan kontribusi bagi demokrasi yang sedang kita bangun jika kita tak memberikan apresiasi yang bijak dalam kumpeitsi sukscsi ini, sama saja kita membiarkan diri tak tercerahkan, dan kita semua merugi.

Semangat-semangat kebencian dalam memandang satu sama lain harus kita eliminir dalam ruang-ruang cinta yang luas, dengan semangat persaudaraan yang tinggi. Kalah dan menang bukanlah tujuan, tapi hanya resiko dari sebuah kompetisi. Dan jika kompetisi itu kita ikuti dengan semangat jiwa yang luhur, maka hasilnya tidak akan ada kekalahan.


(No. 147/Th III/30 Mei - 05 Juni 2004)


Tulisan ini sudah di baca 142 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/354-Siap-Kalah-Siap-Menang.html