drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Menuju Puncak


Oleh : drh.chaidir, MM

THEME song Akademi Fantasi Indosiar (API), "Menuju Puncak" yang populer itu, agaknya melekat di hati Wiranto dan Tim Suksesnya. Maka muncullah slogan "We Run To...." Ada-ada saja Wiranto. Ini pasti sebuah hasil olahan kreatif tim suksesnya. Nama Wiranto dipelesetkan menjadi sebuah slogan cerdas: "We Run To" (bahasa Inggeris, dibaca: wi ran tu). Selengkapnya ditulis "We Run To....President RI, maksudnya kira-kira - meminjam theme song Akademia Fantasi Indosiar - adalah Menuju Puncak. Menuju puncak apa? Tentulah menuju puncak: Presiden RI!! Kreatifitasnya bolehlah.

Dewasa ini masyarakat kita sedang demam suksesi pemilihan umum Presiden. Seumur-umur belum pernah pemilihan presiden heboh seperti ini. Barulah pertama kali terjadi, rakyat langsung memilih presidennya, padahal kita telah memiliki lima orang presiden. Setelah pemilihan umum legislatif tanggal 5 April lalu berlang-sung demokratis, aman dan sukses, tanpa gejolak, kini bangsa kita benar-benar telah memasuki suatu wilayah kehidupan demokrasi, suatu wilayah kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencoba menempatkan rakyat pada posisi yang bermartabat. Oleh karena itu, tidak heran di mana-mana, di gedung-gedung megah berhawa dingin, di pasar-pasar, di kedai-kedai kopi, di pinggir-pinggir sungai, di pantai-pantai, semua membicarakan calon-calon presiden yang akan dipilih nanti. Tidak ada yang takut-takut untuk menyatakan dukungannya terhadap seseorang calon.

Indonesia memang langsung menggebrak membuat dunia terbelalak. Tidak tanggung-tanggung, kini tercatat enam pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden yang siap bertarung, dan puncaknya diuji tanggal 5 Juli 2004 nanti, siapa yang dipilih oleh rakyat. Enam pasang calon presiden tersebut kita catat (berdasarkan abjad calon presiden, supaya tidak ada yang berkecil hati): Abdurrahman Wahid - Marwah Daud Ibrahim, Amien Rais - Siswono Yudo Husodo, Hamzah Haz - Agum Gumelar, Megawati Soekarnoputri - Hasyim Muzadi, Susilo Bambang Yudoyono - Yusuf Kalla dan pasangan Wiranto - Sholahuddin Wahid. Calon Presiden Amerika Serikat saja, yang disebut-sebut sepagai kampiun Demokrasi biasanya hanya menampilkan tiga pasang calon presiden dan wakil presiden. Satu pasang dari Partai Republik, satu pasang dari Partai Demokrat dan satu pasang calon independen. Jadi kita sesungguhnya, walau masih sangat muda usia dalam kehidupan berdemokrasi, tapi telah mampu menghidangkan banyak pilihan calon presiden kepada rakyatnya. Dan keenam pasang calon itu memanglah merupakan tokoh-tokoh yang layak menjadi calon presiden. Dalam arti, masyarakat sudah mengenal kapabilitas, kredibilitas dan integritas mereka. Suatu hal yang patut kita syukuri, bahwa ternyata negeri kita ini kaya dengan tokoh-tokoh yang layak menjadi pemimpin. Dan umumnya mereka adalah tokoh-tokoh yang sudah teruji kemampuannya. Semua calon-calon tersebut rasanya pantas menjadi presiden, sebut sajalah yang mana satu. Sayang sekali di antara mereka harus saling mengalahkan dan menyingkirkan.

Masing-masing Capres kita satu demi satu mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum dan kemudian secara gamblang menyampaikan visi dan misinya kepada khalayak. Sampai pada tahap ini saja sudah menjadi pembelajaran politik yang amat berharga bagi masyarakat, betapa seorang calon presiden, harus memiliki visi yang bagus, wawasan yang luas dan jernih meli-hat permasalahan yang dihadapi bangsanya. Kalau dari awal sudah dalam suasana transparansi yang sedemi-kian rupa, maka ke depan diharapkan seorang presiden terpilih memiliki komitmen yang kuat untuk mewujud-kan apa yang telah diikrarkannya kepada publik. Era pernyataan basa-basi, agaknya telah menjadi masa silam. Era dukungan yang dimobilisasi juga tidak lagi akan kembali. Rakyat sudah terlalu cerdas untuk dimobilisasi bagi kepentingan politik sesaat.

Para calon pemimpin bangsa itu juga tidak akan membiarkan dirinya terlihat dungu di mata rakyatnya, mereka tentu ingin terlihat cerdas. Mereka pasti akan memberikan yang terbaik bagi rakyatnya dan untuk itu mereka akan bekerja keras. Masyarakat sekarang juga sudah bisa menilai calon mana yang memiliki tim yang kuat atau berpotensi untuk memiliki tim yang kuat. Sebab sesungguhnya, secerdas apapun seorang calon presiden, bila kabinetnya nanti diisi oleh tokoh yang tidak memiliki kapasitas dan komitmen yang jelas, maka itu akan menjadi boomerang bagi sang presiden.

Oleh karenanya para pengamat mestinya juga membantu masyarakat untuk memahami seorang calon secara obyektif, jauh dari maksud mendiskreditkan seseorang calon. Bila calon A terpilih, kira-kira siapa Menko Perekonomian, Menko Kesra dan seterusnya. Bagaimana kalau calon B. Gambaran ini barangkali akan memberikan bayangan tentang kredibilitas kepemimpinan dan pemerintahan sang calon bila nanti terpilih.

Kita percaya, masing-masing calon tentu akan memilih yang terbaik. Maka, kalaulah Presiden RI itu adalah sebuah jabatan arisan bulanan, biarlah mereka bergantian memimpin, tapi sayangnya bukan, Hanya ada satu pasang yang bakal tampil sebagai pemenang, sedangkan yang lainnya akan jadi pecundang. Sebagai manusia biasa, keenam pasangan ini masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahannya sendiri. Manalah ada gading yang tak retak, kalau tak retak, bukanlah gading namanya.

Bila agenda nasional pemilihan umum presiden ini berhasil kita selenggarakan tahun ini secara baik, aman dan lancar, maka itu menjadi modal dasar yang amat berarti bagi kita untuk menata kembali perangkat luak sistem politik kita ke depan dengan menyempurnakan peraturan perundangan tentang partai politik, tentang pemilihan umum dan seterusnya. Dengan demikian ke depan tidak ada lagi perdebatan-perdebatan atau pertengkaran-pertengkaran yang menghabiskan energi. Tenaga dan pikiran kita dikonsentrasikan hanya untuk upaya-upaya, upaya-upaya dan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti yang dilakukan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu maju. Jepang, Korea, Thailand, Singapura dan Malaysia adalah teman-teman kita sesama Asia yang tidak lagi berkutat dengan peraturan-peraturan aneh dan membingungkan tentang partai politik dan pemilihan umumnya. Perundang-undangannya sudah duduk, wajar dan tidak aneh-aneh. Dan peraturan itu dihormati bukan diakal-akali. Maka kita lihatlah, kapan saja, mereka bisa menyelenggarakan pemilu, tidak perlu terlalu repot.

Siapa pun kelak yang akan terpilih, yang menang harus siap menjadi pemenang, bahwa jabatan itu adalah amanah. Kearifan Melayu mengatakan: "Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah". Yang kalah harus siap pula kalah secara sportif dan mengajak pendukungnya untuk mendukung penuh presiden terpilih. Hanya dengan cara itu kita bisa membangun sebuah keterhormatan yang akan dipandang dengan takzim oleh seluruh dunia.


(No. 145/Th III/16 - 22 Mei 2004)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/353-Menuju-Puncak.html