drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Bayi Ajaib


Oleh : drh.chaidir, MM

SEORANG teman dari Singapura menyampaikan apresiasinya kepada saya tentang perkembangan politik yang terjadi di Indonesia dewasa ini. "Very very interesting", katanya. Amat sangat menarik, begitulah kira-kira maksudnya. Teman lain dari Malaysia juga mengatakan hal yang sama.

Sesungguhnya tidak hanya/Singapura dan Malaysia yang terkesan dengan perkembangan politik di Indonesia, dunia pun terkesima. Pengamat politik William Liddle misalnya, juga berpandangan serupa. Masalahnya bukan apa-apa. Indonesia adalah sebuah negeri raksasa dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat, kini tumbuh menjadi sebuah negeri kampiun demokrasi. Padahal, Indonesia baru lima tahun terakhir ini sungguh-sungguh belajar berdemokrasi. Ibaratnya Indonesia itu baru sekolah dasar tapi telah diberikan pelajaran SMA. Hebatnya, pelajaran itu bisa dikerjakannya dengan baik.

Cobalah kita cermati. Keran keterbukaan itu baru mulai dibuka pada tahun 1999. Pers dibuat bebas sebebas-bebasnya, bahkan menurut komentar yang kita dengar, pers kita lebih bebas dari pers di negeri jiran Singapura dan Malaysia yang sudah lebih dulu maju, bahkan lebih bebas dari pers di Amerika Serikat sekalipun. Partai Politik boleh didirikan sesuka hati, karena koridornya sangat lapang dan tidak ada konsekuensi. Wajah perpolitikan kita memang telah berubah total dalam lima tahun terakhir ini.

Cobalah pikirkan. Selama 53 tahun Republik ini berdiri, kita baru memiliki dua orang Presiden, yakni Soekarno dan Soeharto, tetapi dalam lima tahun terakhir kita telah memiliki tiga orang Presiden (BJ Habibie, Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri)! Kita seakan ngebut menorehkan nama-nama Presiden, seperti oplet yang kejar-kejaran mengejar trip

Agenda politik Pemilu legislatif tanggal 5 April 2004, juga mencengangkan dunia. Pemilu legislatif itu dianggap Pemilu yang paling kompleks atau paling rumit di dunia. Permasalahannya demikian banyak dan telah muncul dari awal ketika Pemilu itu dirancang sejak jauh-jauh hari.

Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga independen (non Pemermtah dan non partisan) yang menyelenggarakan Pemilu tak pernah sepi dari kritik, mulai dari masalah-masalah yang sangat mendasar yang memang wajar diperbincangkan sampai kepada masalah tetek-bengek seperti mobil dinas yang dipergunakan oleh anggota KPU, semuanya diteropong dan ditelanjangi. Hampir tiada hari tanpa permasalahan, kritik dan caci maki. Hal itu agaknya diperumit pula oleh obsesi KPU yang kelihatannya ingin menyelenggarakan Pemilu yang paling bersih dan paling sempurna di dunia. Semua peluang untuk melakukan penyimpangan dan manipulasi diantisipasi. Maka semua peralatan dan perlengkapan Pemilu mereka adakan sendiri, seperti kotak suara, bilik pencoblosan, kartu pemilih, kertas suara, tinta, semuanya tersentralisasi. Sampai detik-detik hari H, distribusi logistik Pemilu itu masih bermasalah. Ada yang belum sampai, ada yang hilang, ada yang tertukar, salah cetak, salah foto, dan sebagainya. Kondisi terakhir sepertinya sangat mencemaskan dan mendebarkan.

Oleh karenanya para pengamat memprediksi pemilu legislatif 5 April 2004 itu akan kacau balau, rawan konflik, bahkan ada yang mengatakan akan rusuh dan berdarah-darah. Tetapi kenyataannya pemilu legislatif itu telah berlangsung dengan lancar, aman dan sukses. Kekhawatiran kita ternyata berlebihan. Rakyat kita telah menbuktikan bahwa mereka tidaklah sebodoh yang diperkirakan oleh para pengamat. Para pengamat itu saja yang under-estimate, menganggap enteng. Tapi tidak hanya pengamat yang salah prediksi, Partai politik kontestan pemilu itu sendiri pun banyak yang kecele. Kampanye terbuka yang mereka adakan cukup banyak massanya, kaos partai pun laris manis. Tetapi hasil pencoblosan tidak sesuai dengan gambaran massa yang hadir pada saat kampanye. Rakyat kita ternyata telah cerdas. Kaos dibagi kaos diterima, tapi masalah pencoblosan di bilik pencoblosan, itu rahasia, hati nuranilah yang berbicara.

Yang menambah dunia terkagum-kagum adalah terobosan yang dibuat oleh partai Golkar dengan menyelenggarakan konvensi pemilihan Calon Presiden RI. Konvensi yang semula diprediksi oleh pengamat hanya akal-akalan sekelompok kecil elit politik partai Golkar untuk merebut tiket calon Presiden, tidak terbukti. Konvensi partai Golkar itu sangat demokratis, bahkan disebut-sebut lebih hebat dan lebih seru daripada konvensi pemilihan Calon Presiden Amerika Serikat yang diadakan oleh Partai Republik atau Partai Demokrat. Gus Dur pun memuji, konvensi Partai Golkar itu telah mengharumkan nama Partai Golkar. Suka atau tidak suka, dengan konvensi pemilihan calon Presiden itu. Partai Golkar telah memberikan kontribusi yang positif dalam proses demokratisasi bangsa kita dan merubah wajah Partai Golkar itu sendiri dari semula dituding sebagai partai status quo, menjadi partai,yang paling maju dalam mengimplementasikan kehidupan berdemokrasi. Dari semula partai yang dianggap tidak reformis, menjadi Partai yang terdepan melaksanakan agenda reformasi di bidang politik.

Hari-hari ke depan menjelang pemilihan umum pemilihan Presiden RI tanggal 5 Juli 2004, menjadi hari-hari yang menarik untuk dicermati oleh pemerhati politik baik dalam maupun luar negeri. Republik Indonesia sabagai bayi ajaib dalam proses demokratisasi dunia, langsung belajar berlari. Pemilihan Presiden secara langsung untuk pertama kali dilaksanakan dan kita kembali mencoba menarik simpati dunia. Kita berharap tokoh-tokoh nasional kita yang sedang menjadi pemeran-pemeran utama di panggung politik dewasa ini. tetaplah tampil elegant dan menunjukkan sikap kenegarawanan yang terpuji.

Manuver politik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kita disorot dengan tajam oleh lensa dunia, dan itu menjadi sebuah tontonan yang mengasyikkan. Misalnya bagaimana SBY dan Yusuf Kalla Hengkang dari Kabinet Megawati dan memposisikan diri sebagai pihak yang terzalimi untuk menarik simpati. Megawati besar kemungkinan akan berpasangan dengan Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU yang telah lama dieluselus dan meninggalkan Hamzah Haz. Megawati agaknya tidak akan rela membiarkan dirinya dipecudangi oleh dua orang mantan menterinya itu. Sementara, Wiranto dan Akbar Tanjung, yang semula berseteru memperebutkan tiket Capres dari Partai Golkar dalam konvensi, mempertontonkan sikap negarawan yang luar biasa. Mereka berdua bergandeng tangan mencari Calon Wakil Presiden yang pas bagi Wiranto. Dan itu dilakukan dengan penuh keterhormatan.

Hamzah Haz pula, orang nomor satu PPP yang telah berhasil membawa partainya melejit menjadi pemenang ketiga Pemilu legislatif, sesungguhnya juga tidak bisa dianggap enteng. Hamzah Haz terkesan dizalimi dan terkesampingkan. Suratnya kepada Megawati yang memberikan laluan kepada Hasyim Muzadi, menarik simpati. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya, mungkin bak pepatah Melayu, "Pinggan tak retak nasi tak dingin, puan tak hendak saye pun tak ingin". Amin Rais, adalah tokoh yang sudah sejak lama mempersiapkan diri secara serius dalam pencalonan Presiden RI. Tim suksesnya solid dan memiliki jurus-jurus menarik. Dan last but not least, sang fenomenal Gus Dur, dia sungguh-sungguh memiliki power yang luar biasa untuk menjadi king atau king-maker. Agaknya boleh disebut, Gus Dur never die (Enggak ada mati-matinya). Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nurwahid pula meniupkan angin segar dengan memposisikan diri sebagai oposisi. Sebuah kontribusi yang menarik dalam kehidupan demokrasi kita. Semua manuver itu merupakan tontonan yang menarik untuk diikuti dan dicermati.

Kita tunggu sajalah kemana bola bergulir. Tapi satu hal, bolehlah kita tunjukkan kepada dunia, ini Indonesia, belajarlah dari kami bagaimana menjadi sebuah Negeri yang berdemokrasi. Rrrrrrruar biasa, bayi ajaib!!


(No. 144/Th III/09 - 15 Mei 2004)


Tulisan ini sudah di baca 111 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/352-Bayi-Ajaib.html