drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Pulang ke Rakyat


Oleh : drh.chaidir, MM

SUARA rakyat itu akhirnya akan didengar, penderitaan rakyat itu akhirnya akan menemukan muara, harapan rakyat itu kemudian akan menemukan puncak, dan pengkhianatan terhadap rakyat itu pada waktunya akan menemukan masa kejatuhan. Kata-kata itu menemukan kebenarannya. Di Sumatera Barat, akhirnya puluhan anggota dewan dijatuhi hukuman dengan vonis yang beragam. Tuduhannya hanya satu, menyelewengkan uang rakyat. Mungkin banyak dari kita yang tersentak, tapi juga banyak yang memandang itu sebagai keniscayaan atas kekuatan rakyat.

Dari kasus di atas kita dapat mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga, yaitu mengurus rakyat memerlukan kesungguhan, terutama kesungguhan hati dalam memandang diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat. Ketika kita sudah memahami diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat, bagian dari airmata, penderitaan, ketidak-beruntungan, dan sekaligus harapan, maka kemungkinan-kemungkinan yang berpotensi mengkhianati rakyat secara signifikan akan terlempar dari diri.

Terlebih pada masa sekarang, ketika wakil rakyat dipilih secara langsung oleh rakyat, seperti pada pemilu 2004 yang lalu, maka semakin nyatalah, kewajiban kepada konstiruen itu harus dilaksanakan. Setiap calon legislatif yang terpilih dengan serta-merta memiliki kewajiban moral dan material sekaligus, dalam bentuk mewujudkan apa yang menjadi harapan masyarakat banyak. Jika kewajiban-kewajiban yang terpikul di pundak tidak dilaksanakan secara baik, maka seperti yang banyak diajarkan oleh peristiwa-peristiwa sejarah di berbagai belahan dunia, masa kejatuhan tinggal me-nunggu waktu.

Hal kewajiban ini pernah ditegaskan oleh Jhon Locke pada masa lampau, "Jika para legislator tidak melakukan tugasnya sesuai dengan amanah yang diembankan kepadanya, maka ia berada dalam posisi berhadapan dengan rakyat, " kata Locke. "Dan, sudah menjadi hak rakyat untuk menumbangkan kekuasaan yang ada, serta menggantinya dengan yang baru." Selain Locke, Raja Ali Haji juga pernah mengingatkan hal itu "Seorang rakyat tidaklah dapat dikatakan durhaka, jika melawan raja yang zalim dan tidak melakukan amanah yang diwajibkan kepadanya.

Hal ini juga yang pernah saya nukilkan dalam buku saya terdahulu, Berhutang Pada Rakyat, barangsiapa yang berbuat mengatasnamakan rakyat, maka ia berhutang kepada rakyat, dan hutang kepada rakyat wajib dibayar tunai. Untuk itu berhati-hatilah mengatasnamakan rakyat, Dalam sejarah kekuasaan yang terentang berabad-abad, kejatuhan yang diakibatkan oleh penyelewengan amanah rakyat sangat banyak terjadi. Di Uganda idi Amin harus jatuh dengan cara memalukan dan kemudian terusir dari negeri. Raja Perancis yang kesohor, Louis XVI, harus menemui ajal dengan cara mengenaskan, dengan kepala terpotong. Hal yang sama terjadi di Rumania, Yugoslavia, dan banyak negara lain. Dari sejarah ini, kita semestinya dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa mengurus rakyat tidak boleh dilakukan secara "sambil lalu" atau main-main. Rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang akan diambil.

Mungkin, dalam hal mengurus rakyat secara demokratis, kita perlu belajar lebih banyak. Inggeris dan Amerika Serikat merupakan contoh yang cukup tepat untuk itu. Ketika Inggris memutuskan untuk menjadi sebuah negara monarkhi konstitusional, maka pertimbangan yang paling mendasar dalam perbincangan perubahan bentuk negara itu, berabad yang lampau, adalah bagaimana posisi rakyat dengan segala kepentingannya diletakkan pada tempat yang paling penting.

Begitu juga Amerika Serikat. Dalam sebuah pertemuan antara para Founding Fathers negara Amerika Serikat pada suatu hari di tahun 1776, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh sekelas George Washington dan Thomas Jefferson, maka perbincangan utama adalah mengenai rakyat. Kita kemudian melihat, bagaimana dalam konstitusi Amerika Serikat, kemaslahatan rakyat menjadi pilar utama dalam menuju suatu masyarakat Amerika yang maju.

Sampai hari ini kita menyaksikan bagaimana cara Inggeris dan Amerika Serikat mengurus warganegaranya. Amerika dan Inggeris bahkan merasa sah menyerang sebuah negara lain demi melindungi rakyatnya. Itu belum lagi jika kita telaah berbagai kebijakan Amerika Serikat dan Inggeris yang rela berseberangan dengan negara lain, demi membela rakyat. Dalam hal subsidi pertanian saja misalnya, kedua negara itu sanggup bertengkar hebat dengan negara-negara lain yang meminta mereka mencabut subsidi pertanian, yang hasilnya adalah mereka tetap memberikan subsidi dalam jumlah besar, dan semua itu dilakukan atas dasar pembelaan terhadap rakyat.

Inilah yang terasa kurang pada negara kita. Di Indonesia, rakyat seringkali hanya diperbincangkan sekali semusim, atau jika diperlukan. Setiap kali musim pemilu, para tokoh seakan berebutan membicarakan rakyat, bergantian merebut hati rakyat, tapi sayangnya suasana familiar sepanjang pemilu itu sering terputus ketika segala sesuatunya sudah diperoleh. Rakyat seringkali hanya menjadi objek kekuasaan, sebuah landasan untuk mencapai kekuasaan.

Pembelaan terhadap rakyat pun terasa sangat kurang. Dari berbagai kasus besar yang terjadi di Indonesia, seperti persoalan Tenaga Kerja Wanita (TKW), persoalan Pemutusan Hubungan/Kerja (PHK) kaum buruh pada berbagai sektor industri, dan kasus-kasus lam, kita dapat melihat, betapa pemihakan terhadap rakyat itu masih terasa jauh. Rakyat tak ubahnya seperti seorang slave di hadapan seorang master, yang kepada keduanya tidak berlaku hukum-hukum kesetaraan, siapa yang kuat menjadi pemangsa bagi yang lemah.

Maka, tak bisa tidak, harus ada perubahan paradigma dalam memandang rakyat. Harus ada kesadaran besar terutama bagi para pemimpin, karena rakyatlah segala sesuatu terjadi, karena suara rakyatlah kekuasaan itu menjadi legitimate, dan tentu saja menjadi sesuatu yang adil jika rakyat diurus secara benar dan sungguh-sungguh.

Kekuasaan itu datang dari rakyat. Maka kita berutang kepada rakyat.

(No. 146/Th III/23 - 29 Mei 2004)


Tulisan ini sudah di baca 104 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/351-Pulang-ke-Rakyat.html