drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Akbar Kalah Akbar Menang


Oleh : drh.chaidir, MM

TERBUKTI sudah bahwa pemilihan calon Presiden RI Partai Golkar bukan konvensi akal-akalan. Konvensi itu bukan sandiwara politik sebagaimana diragukan oleh banyak pihak bahkan oleh para pengamat politik. Konvensi itu sungguh-sungguh terjadi dan telah menjadi sebuah catatan sejarah yang agaknya tergores dengan tinta emas dalam proses penegakan kehidupan berdemokrasi di negeri ini, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela.

Ketika konvensi pemilihan calon Presiden RI Partai Golkar ini diluncurkan dan mulai menggelinding setahun yang lalu, banyak pihak skeptis bahkan memandang dengan sinis. Konvensi itu dianggap hanya kilah Partai Golkar untuk mencuri start kampaye dan merebut ruang publik. Sebab dengan konvensi itu secara tidak langsung Partai Golkar telah melakukan sosialisasi diri membentuk imej di tengah masyarakat melalui pemberitaan besar-besaran media massa cetak dan elektronik (walaupun media massa boleh disebut kurang berpihak pada Partai Golkar).

Pandangan sinis itu kemudian seakan memperoleh pembenaran, ketika pra Konvensi Nasional bulan Oktober 2003 di Jakarta yang seharusnya telah menetapkan lima kandidat calon presiden, tidak jadi menetapkan lima nama. Rapim Partai Golkar yang bersamaan dengan Pra Konvensi Nasional ketika itu memutuskan tujuh orang kandidat yang memenuhi syarat dan tidak tereliminasi (meminjam istilah Akademi Fantasi Indosiar -AFI) boleh terus maju. Bahkan kemudian juga, rencana semula untuk menetapkan satu nama kandidat melalui konvensi nasional pada bulan Februari 2004, sebelum Pemilu dilakukan, demi kepentingan strategi pemenangan Pemilu 2004 batal diselenggarakan. Ada dua alasan yang sangat rasional yang menyebabkan Konvensi Nasional itu baru diselenggarakan setelah Pemilu. Pertama, agar ketujuh kandidat bahu-membahu kampanye untuk pemenangan Partai Golkar dalam Pemilu kedua, Partai Golkar harus membuktikan dirinya terlebih dulu memperoleh suara minimal tiga persen dalam Pemilu. Sebab bila ternyata perolehan suara dalam Pemilu kurang dari tiga persen, maka partai politik yang bersangkutan tidak dapat mengajukan calon Presiden. Untuk apa menghabiskan dana guna penyelenggaraan Kon-vensi Nasional bila ternyata kemudian hasil perolehan suara Partai Golkar kurang dari tiga persen?

Bisa dibayangkan, bila tujuh kandidat itu bertempur habis-habisan untuk memenangkan Konvensi Nasional sebelum Pemilu, ada kemungkinan sang pemenang akan kehabisan stamina. Atau, pihak yang kalah tidak lagi akan bersemangat mendukung Partai Golkar menghadapi Pemilu dan ini sangat merugikan. Pihak yang kalah tentu tidak bersedia lagi buang-buang amunisi untuk kampanye, walaupun mungkin mereka masih tetap loyal kepada Partai Golkar. Kondisi terburuk bahkan pihak yang kalah akan melakukan penggembosan. Kalau ini yang terjadi maka keinginan Partai Golkar untuk memenangkan Pemilu 2004 akan tinggal mimpi.

Namun walaupun alasan penundaan Konvensi Nasional sangat rasional, suara miring juga berkembang. Akbar Tanjung, sang Ketua Umun partai, disinyalir sengaja menunda karena dia belum yakin akan bisa memenangkan Konvensi Nasional setidaknya karena tiga pertimbangan. Pertama, karena mahkamah agung belum memutuskan permohonan kasasinya; kedua, karena dukungan dari daerah tidak maksimal sebagaimana diperkirakan, dan ketiga, hasil Pemilu 2004 (Partai Golkar diprediksi akan menang) bisa "dijual" sebagai strength factor (faktor kekuatan) untuk memukul kandidat lain dalam Konvensi Nasional.

Sri Sultan Hamengkubowono X, salah seorang kandidat dari tujuh kandidat yang memenuhi syarat dalam Pra Konvensi beberapa saat kemudian mengundurkan diri. Apa pun pertimbangannya, pengunduran diri Sri Sultan ini seakan memperkuat pembenaran yang nienjadi wacana publik, bahwa konvensi pemilihan calon Presiden RI dari Partai Golkar itu, tidak lebih dari, sebuah sandiwara.

Namun apa yang disinyalir terbukti tidak benar. Konvensi Partai Golkar ini benar-benar, bukan "permainan" sekelompok elit di Partai Golkar untuk rnempertahankan atau merebut kekuasaan secara akal-akalan. Konvensi Partai Golkar ini bahkan disebut-sebut lebih dahsyat dari konvensi pemilihan presiden yang dilakukan oleh Partai Republik atau Partai Demokrat di Amerika Serikat. Media pers lokal dan internasional tidak rugi meliput Konvensi Nasional Partai Golkar ini secara besar-besaran. Karena Konvensi Nasional untuk pemilihan Presiden RI dari Partai Golkar itu telah berlangsung dengan demokratis dan megah. Begitulah selayaknya sebuah partai besar dan modern mengemas dan menyuburkan kehidupan demokrasi secara sehat. Kini dunia boleh mengakui (suka atau tidak) citra Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi baru terangkat oleh kontribusi yang cerdas dari Partai Golkar dengan pelaksanaan konvensi pemilihan Presiden itu.

Siapapun pemenang Konvensi Nasional Partai Golkar itu, tidak lagi begitu penting, bahkan seandainya sang pemenang gagal dalam pemilihan Presiden RI tanggal 5 Juli nanti. Sebab proses yang dipertontonkan oleh Partai Golkar untuk melahirkan seorang calon presiden merupakan pencerdasan dalam pendidikan politik masyarakat yang sangat tinggi nilainya. Partai Golkar konsisten terhadap paradigma barunya untuk menjadikan partainya sebagai partai yang modern dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. "Banyak partai politik yang lahir di era reformasi mengaku partai reformasi, tetapi yang sungguh-sungguh melakukan reformasi adalah Partai Golkar", begitu Akbar Tanjung dalam sambutannya ketika menutup konvensi nasional itu.

Kekalahan Akbar Tanjung dalam Konvensi Nasional itu melalui pemungutan suara di babak "grand final" adalah sebuah blessing in disguise bagi Partai Golkar. Akbar Tanjung ternyata tidak melakukan akal-akalan dan tidak menghalalkan segala macam cara untuk menang. Dia ikut bertanding dengan menggunakan haknya, sama dengan kontestan lain. Seandainya pemenang dalam Konvensi Nasional itu adalah Akbar Tanjung sang Ketua Umum Partai Golkar, maka sebrilian apapun Konvensi Nasional itu diselenggarakan, sebersih apa pun keseluruhan proses konvensi dijalankan mulai dari kabupaten dan kota, orang akan tetap menganggap itu akal-akalan dan busuk. Dan Akbar Tanjung bersama Partai Golkar akan dicibir bahkan pasti akan menuai caci maki. Goresan sejarah pun akan menjadi luka sejarah.

Akbar Tanjung bahkan dengan jiwa besar dan sportifitas tinggi, mengajak seluruh jajaran partai untuk mendukung Wiranto sang pemenang Konvensi, bekerja keras memenangkan Wiranto dalam pemilihan Presiden RI tanggal 5 Juli nanti, Sebuah sikap demokratis yang layak dipuji. Kekalahan Akbar Tanjung justru merupakan kebesaran Akbar Tanjung dalam memimpin Partai Golkar. Partai itu kini telah tumbuh menjadi sebuah partai yang dewasa, modern dan demokratis. Akbar Tanjung secara pribadi boleh kalah tetapi Partai Golkar yang dipimpinnya memperoleh kemenangan besar dalam merebut opini dan ruang publik. Bung Akbar dan Bung Wiranto, syabas!!

(No. 142/Th III/25 April - 01 Mei 2004)


Tulisan ini sudah di baca 99 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/349-Akbar-Kalah-Akbar-Menang.html