drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Rakyat Semakin Cerdas


Oleh : drh.chaidir, MM

HARI-HARI penghitungan suara pasca pencoblosan adalah hari-hari yang penuh dengan manuver politik. Belum lagi selesai penghitungan suara dilakukan, para petinggi parpol sudah kasak-kusuk, dalam berbagai bentuk. Mulai dari penolakan terhadap penghitungan suara, protes terhadap berbagai indikasi kecurangan yang belum jelas data dan faktanya, hinggalah sampai adanya keinginan dari para pihak untuk menggalang penolakan terhadap hasil pemilu.

Penyebab kasak kusuk ini juga bisa macam-macam. Ada yang semula sudah memperkirakan dan yakin akan memperoleh suara yang signifikan, tapi ternyata setelah penghitungan, suara yang diharapkan melorot dengan tajam. Maka kambing hitam pun jadi korban, mereka dicari, semua sudut ditelisik, dan ketika bertemu dengan kesalahan, yang mungkin sangat kecil, maka semua kekalahan ditimpakan pada kesalahan yang ada. Ada pula caleg yang sudah "habis-habisan" menjaga konstituen tapi ketika dihirung, ternyata hasilnya tidak seberapa untuk dapat "menduduki kursi" di lembaga legislatif. Ketika tak berhasil, maka kelompok lainpun dituding melakukan tindakan pelanggaran, dituduh melakukan "serangan fajar", dan bahkan politik uang. Begitulah selalu. Tapi seperti kata orang tua-tua, bila satu jari menuding orang lain, sesungguhnya pada saat yang sama sekurang-kurangnya tiga jari lain menuding diri sendiri. Padahal jumlah jari hanya lima sehingga kalau divoting yang menuding diri sendiri pasti menang.

Apa sebetulnya yang terjadi dengan pemilu 2004? Mengapa pemilu 2004 itu sepertinya menjungkir-balikkan semua kemungkinan dan ramalan, baik ramalan paranormal maupun pengamat? Penjungkir-balikan itu agaknya bukanlah karena telah terjadi kecurangan besar-besaran, atau karena ada "hujan uang", atau karena "serangan fajar", atau karena per-dukunan. Juga bukan karena penghitungan yang tidak adil. Bukan karena itu, meski memang ada kelemahan di beberapa titik. Penyebab semua itu sebenarnya hanya satu saja: rakyat sudah semakin cerdas. Rakyat sudah mengerti secara penuh pilihan-pilihan yang akan diambil. Rakyat lebih cerdas dari yang kita kira. Kalaulah bisa rakyat ini membuat paduan suara, maka agaknya yang akan terdengar adalah: haaa ... belum taaaahu dia.

Ada beberapa contoh kecerdasan dan perubahan cara pandang masyarakat itu. Jika dulu ketika seorang pemilih di desa memilih tanda gambar partai A untuk anggota DPRD kabupaten/kota, maka tanda gambar partai yang sama akan dipilih pula untuk tingkat provinsi dan pusat. Tapi kini berubah, rakyat bisa saja menusuk tanda gambar yang berbeda untuk level yang berbeda. Tingkat Kabupaten/kota ia coblos partai A karena ia kenal dengan calonnya, tapi untuk untuk tingkat provinsi ia memilih partai B, karena calon partai B itu yang ia kenal, dan selanjutnya untuk DPR ia coblos pula partai C, karena caleg partai tersebut dinilai lebih berbobot. Begitulah, rakyat secara cerdas menentukan apa yang terbaik, yang ingin mereka raih. Rakyat secara cerdas juga memahami bahwa mimpi mereka hanya bisa diwujudkan melalui pilihan yang tepat.

Lebih dari itu, rakyat khususnya pada pemilu 2004, sudah tidak lagi mengikat diri dengan dimensi-dimensi emosional, atau keterikatan mutlak kepada tokoh-tokoh. Rakyat saat ini juga tidak mau lagi menentukan pilihan dengan hanya berdasarkan faktor emosional dan primordial semata. Mereka secara bijak telah belajar dari sebuah kenyataan bahwa melakukan pilihan yang tidak berangkat dari sebuah proses pemahaman yang jelas, hanya akan menyebabkan penderitaan di belakang hari. Rakyat sudah cukup makan asam garam politik Indonesia, dan kini mereka telah memperbaikinya.

Inilah sebetulnya yang terjadi. Ada perubahan besar dalam sikap rakyat ketika harus menentukan pilihan. Hal ini agaknya sebagai dampak dari tingkat pendidikan masyarakat yang kian tinggi. Di samping itu tidak bisa dipungkiri, banyak pihak yang memberikan informasi kepada rakyat tentang bagaimana sebuah suara hamę diberikan schingga id menjadi sebuah kontribusi bagi perjalanan bangsa.

Kita tentu tidak menyukai adanya pelanggaran da-lam pemilu ini, dan dengan demikian kita tentu saja sepakat bahwa semua hal yang kurang baik itu harus diperbaiki sehingga apa-apa yang dihasilkan dapat memenuhi harapan. Namun demikian, kesempurnaan itu agaknya Utopia. Maka, ketika kesempurnaan itu adalah mimpi, yang diperlukan adalah kelapangan jiwa. Anggap semuanya sebagai bagian atau sebuah episode dari proses demokratisasi yang harus kita lalui, bagian dari proses pendewasaan politik.

Hari-hari menjelang usainya penghitungan suara, kita disuguhkan oleh tontonan yang menarik bagaimana kegelisahan atau manuver para elit partai. Kasak-kusuk terjadi dalam intensitas yang tinggi. Lobi-lobi berbagai tokoh berlangsung tak putus-putus. Ketua partai A sudah bertemu dengan ketua partai B, ketua partai C sudah mengundang makan ketua partai D, sementara ketua partai E sudah menimang-nimang nama ketua partai F sebagai calon Presiden dan Wakil presiden. Ada aliansi Partai Politik yang menolak hasil Pemilu, ada pula barisan yang tidak menolak.

Yang terbaru adalah munculnya gagasan menyelamatkan bangsa. Memang belum ada target politik yang tercetus, tapi dari berbagai keterangan di media massa, sudah ada kesimpulan sementara, bahwa rencana dari semua itu adalah untuk menciptakan kesepahaman buat menyelamatkan bangsa dari berbagai keterpurukan. Pembentukan front semacam ini tentu saja tidak salah. Apa lagi jika melibatkan semua unsur yang terkait, pasti masalah akan lebih mudah diselesaikan.

Indonesia membutuhkan kebersamaan semua pihak untuk mengatasi keadaan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh para filsuf politik, bahwa hanya dengan persatuan masyarakatlah (societal cohesiveness) semua masalah akan dapat diselesaikan dengan baik. Tanpa itu, segala sesuatu akan berjalan lambat, sesuatu bahkan bisa berjalan mundur.

Tapi sekali lagi, "nawaitu"-nya memang harus demi kemaslahatan bangsa. Jika bukan itu, sebaiknya dipikirkan kembali. Rakyat secara cerdas sudah memberikan pilihan mereka untuk semua, dan sekarang menjadi tugas para pemimpin untuk menghormati keputusan yang sudah diambil rakyat itu. Kita selalu meminta rakyat menghormati keputusan yang dibuat oleh pemimpin, bahkan bila keputusan pemimpin tidak dipatuhi, rakyat akan kena sangsi. Tapi kapan para elit harus menghormati keputusan rakyat? Pemilulah saatnya.

Rakyat kita telah cerdas, mereka telah menggunakan logika baru, sayangnya para elit masih menggunakan logika dan cara-cara masa lalu, suka memaksakan kehendak walaupun rakyat tidak berkehendak. Siapa sesungguhnya yang lebih cerdas?

(No. Ul/Th III/18 - 24 April 2004)


Tulisan ini sudah di baca 114 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/348-Rakyat-Semakin-Cerdas.html