drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Puisi dan Prosa Pemilu


Oleh : drh.chaidir, MM

KATA orang bijak pemilihan umum itu bagaikan puisi dan prosa. Masa kampanye adalah masa puisi. Semua kata disampaikan dengan berbunga-bunga. Semua mimpi rakyat diterima dengan manis, dijanjikan dengan memikat, dan disuarakan dengan indah dan merdu. Semua juru kampanye menjadi penguasa kata-kata. Pidato-pidato kampanye sarat dengan meta-fora dan hiperbola, bagaimana layaknya sebuah puisi. "Saudara-saudara masa depan bangsa ini terletak di tangan saudara-saudara. Saudara-saudara adalah pemilik sah negeri ini. Hitam kata saudara hitamlah negeri ini, putih kata saudara putihlah negeri ini. Setetes suara yang saudara berikan kepada partai kami, partai kita ini, akan kita lautkan, segumpal harapan yang saudara berikan akan kita gunungkan. Setuju Saudara-saudara?" Jawaban pun membahana: "Setujuuuu"!! "Bukan pejabat yang menjadi penguasa, Saudara-saudara, tapi rakyatlah yang menjadi penguasa negeri ini, Saudara-saudaralah yang berkuasa, karena suara rakyat itu adalah suara Tuhan, Saudara-saudara. Betul Saudara-saudara?" Jawaban pun menggelegar: "Betuuuul"!! "Kita tidak perlu beras dan minyak Saudara-saudara, yang kita perlukan adalah perubahan. Setuju Saudara-saudara?" "Setujuuuu"!! "Eh salah Saudara-saudara, di samping perlu beras dan minyak, kita juga perlu perubahan, karena perubahan itu adalah 'sembako', betul Saudara-saudara?" "Betuuuul"!! "Suara Saudara-saudara adalah solusi dari lautan krisis yang tak berpantai ini". Pembaca yang budiman, itu adalah panggung kampanye, ketika pemilu menjadi sebuah puisi.

Tapi setelah pemilihan umum usai, maka keadaan menjadi sebuah prosa. Prosa dalam pengertian, bahwa partai-partai yang mendapat kepercayaan harus membuat kebijakan dengan semangat humanis. Aspirasi, janji-janji, harus dapat diagregasi dan diartikulasikan menjadi sebuah kebijakan publik dengan mengedepankan kemaslahatan rakyat yang telah memberikan suaranya. Artinya, agar dukungan tidak pernah terputus antara partai dan konstituennya, agar ketaatan tumbuh secara ikhlas, maka tidak ada pilihan lain, partai harus berbuat maksimal untuk memperjuangkan kehendak kesejahteraan rakyatnya. Partai harus mampu membangun kepercayaan (trust, bahkan kepercayaan yang tinggi- hight trust). Seperti yang dimaksud Francis Fukuyama dalam bukunya Trust, Kebajikan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Dengan high trustlah solidaritas komunal bisa dibangun.

Sesungguhnya pemilihan umum, tidak hanya melulu masalah hubungan partai politik dengan konstituennya. Lebih dari itu pemilihan umum adalah marwah sebuah bangsa, karena ianya mencerminkan kehendak sebuah bangsa dan bagaimana cara bangsa itu menggapai kehendak tersebut. Semakin bermarwah cara-cara yang ditempuh, semakin terhormat pemilu itu diselenggarakan, semakin tinggilah martabat bangsa itu dan semakin terbilanglah bangsa itu. Semakin banyak kecurangan-kecurangan atau keculasan-keculasan yang dilakukan, semakin terpuruklah martabat bangsa itu. Berarti kita menghalalkan segala macam cara untuk meraih kemenangan. Berarti kita tidak mengindahkan aturan main. Berarti kita mengabaikan nilai-nilai sportivitas. Citra buruk itu akan menyulitkan kita mencari kawan seiya sekata, kecuali dengan orang-orang yang juga siap menipu lawan dan kawan.

Kita sudah terlanjur menempatkan pemilu itu pada posisi yang tinggi. Pemilu adalah sebuah pesta demokrasi. Rakyat difasilitasi oleh negara untuk bersuka cita dengan kedaulatannya. Ada penyadaran, ada pencerdasan terhadap rakyat yang menjadi pemilik sah sebuah negeri. Pemilu juga diusung sebagai alat untuk menye-lesaikan semua permasalahan yang dihadapi oleh sebuah bangsa. Partai politik sebagai pemain utama di arena pemilu berfungsi melakukan identifikasi terhadap berbagai permasalahan, meraciknya dan kemudian menghidangkan solusi terbaik. Rakyat dipersilahkan memilih bahkan mencicipi hidangan mana yang terbaik dan lezat. Rakyat bebas memilih atau tidak memilih sebuah hidangan. Tidak ada yang memaksa. Namun bila ternyata kemudian pesta itu dicemari oleh kecurangan, keculasan, kepalsuan dan trick lamnya dengan" maksud memanipulasi dukungan rakyat, tentu saja hal itu akan merusak kredibilitas kita di mata dunia. mana kita mengharapkan orang lain untuk percaya kepada kita bila kita sendiri penuh dengan tipu muslihat, penuh dengan kebohongan dan orang lain tahu itu.

Kita memang prihatin terhadap penyelenggaraan pemilu kita kali ini, yang banyak kendala teknisnya sehingga mengganggu kelancaran pemilu itu sendiri. Tapi itu bisa dipahami, karena ambisi dan obsesi ingin menjadi sebuah negeri besar yang paling demokratis dengan penyelenggaraan pemilu yang terbersih di jagat ini. Ternyata itu tidak mudah. Secara geografis negeri ini sangat luas, bahkan lebih panjang dari bentangan benua Eropa. Penduduknya pun banyak dan tersebar di berbagai pulau mulai dari ufuk timur sampai ke ufuk barat. Tingkat pendidikan dan latar belakang penduduk sangat bervariasi.

Negeri ini kelihatannya bersemangat tinggi untuk menjadi sebuah negeri yang terbaik dalam berdemokrasi. Maka sistem politik pun dibuat sangat terbuka. Persyaratan untuk mendirikan sebuah partai politik dipermudah, semudah-mudahnya. Pers dibuat bebas, sebebas-bebasnya. Konvensi pemilihan presiden dibuat lebih hebat dari konvensi pemilihan presiden Amerika yang dikenal sebagai kampiun demokrasi. Persyaratan calon presiden dan calon anggota legislatif dibuat serendah-rendahnya supaya semua bisa tampil bertanding sebagai calon. Semua boleh tampil sebagai calon, yang asli, yang palsu atau yang asli tapi palsu, semua boleh asal tidak ketahuan betul. Maka calon legislatif yang bertanding pun jumlahnya cukup banyak. Seseorang mengirimkan sms kepada saya untuk menggambarkan betapa serunya pemilu 2004 ini.

"Setiap partai mengajukan rata-rata 10 calon untuk DPR-RI di setiap provinsi atau daerah pemilihan, maka akan ada 32 (minimal) x 24 x 10 calon Anggota DPR yang akan memperebutkan 550 kursi DPR. Di setiap provinsi akan ada 240 atau bahkan lebih memperebutkan 45 s/d 55 kursi DPRD Provinsi sehingga total calon ku-rang lebih 7200 calon. Untuk DPRD Kabupaten/Kota minimal 240 x 417 kab/kota, maka berarti ada 100 ribuan calon. Untuk calon DPD, jika rata-rata 40/provinsi maka akan ada 1280 calon yang memperebutkan 128 kursi. Total seluruh calon ada 120 ribuan. Pemilu ini rawan keributan dan kecurangan. Faktanya, sudah ditemukan kertas suara yang sudah dicoblosi sebelum hari pencoblosan, atau sistem pengolahan suaranya belum terbukti akurat dan anti manipulasi, terutama akibat sistem administrasi berjenjang dan sangat dimungkinkannya pergantian kertas suara dan hasil suara di tengah jalan. Tunda Pemilu dulu sampai semuanya siap dan aman. Kalau mau nekat tetap jalan, coba dulu pemilihan DPD sehingga kalau gagal kerusakannya terbatas. Atau Indonesia akan hancur". Begitu ditulis berapi-api oleh pengirim sms yang saya tidak kenal nomornya.

Mungkin pengirim sms itu terlalu mendramatisir keadaan, tapi jelas ia tidak salah semua. Saya membaca Riau Pos tanggal 7 April, ada dua TPS yang diduga fiktif di Bukit Senyum, Batam, dan ada pula 108 surat suara yang sudah dicoblos di TPS Sekupang (rnasih di Batam) ketika kotak suara dibuka. Hal yang sama juga terjadi di Lampung sebagaimana diberitakan oleh media elektronik. Kejadian ini mengindikasikan, kekhawatiran pengirim sms itu agaknya memang beralasan. Itu kan yang ketahuan, yang tidak ketahuan?

Sesungguhnya taklah jadi soal bila pemilu menjadi sebuah puisi. Di negeri maju pun pemilu berisi janji-janji, seperti perbaikan perekonomian, pengurangan pajak, perobalioi'i kebijakan politik dan sebagainya. Yang penting adalah, itu semua dilakukan dengan penuh kejujuran. Dan sistem pemilunya telah baku. Jika partai-partai politik menghargai "suara Tuhan" itu, khususnya meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, maka pastilah suara itu akan datang seperti gemuruh gelombang, seperti deras hujan, seperti mekar bunga-bunga. Tapi jika sebaliknya, partai tak pernah peduli, suara ini akan muncul sebagai sesuatu yang menenggelamkan, menghina dan bahkan menghancurkan.


(No. 140/Th Ill/11 - 17 April 2004)


Tulisan ini sudah di baca 160 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/347-Puisi-dan-Prosa-Pemilu.html