drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Vox Populi Vox Dei


Oleh : drh.chaidir, MM

VOX populi vox Dei - Suara rakyat suara Tuhan, begitu pemahaman Barat penganut paham demokrasi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Maksudnya, apa yang dikehendaki oleh rakyat banyak, itu adalah juga kehendak Tuhan. Begitulah maha pentingnya suara rakyat. Pemahaman kita terhadap ungkapan itu ada dua. Pertama, karena rakyatlah pemilik sah sebuah negeri. Karena mereka pemilik negeri, maka merekalah yang berdaulat, yang harus menentukan sendiri seperti apa mereka harus diberlakukan atau diperintah. Siapa pun yang mereka kehendaki, maka dialah yang memerintah. Rakyat bisa menumbangkan seorang raja yang sangat kuat atau meruntuhkan suatu pemerintahan yang otoriter, seperti layaknya merekalah penguasa alam. Pemahaman kedua, Tuhan agaknya memang menunjukkan kekuasaannya melalui suara rakyat.

Banyak contoh menarik yang dihidangkan oleh sejarah. Napoleon Bonaparte tumbang karena aksi rakyat Prancis. Masih di Prancis, Revolusi Prancis tahun 1789 yang terkenal itu juga digerakkan oleh rakyat. Rakyat berbondong-bondong melawan kebijakan raja yang sama sekali tidak bijak, meruntuhkan penjara Bastille yang merupakan lambang kekuasaan otoriter raja, bahkan berujung dengan dieksekusinya Louis VI dan Marie Antoniette. Rezim Nicolae Ceausescu di Rumania juga digusur oleh rakyatnya. Idi Amin, yang pada masanya amat berkuasa dan otoriter, dijungkirkan oleh rakyatnya. Raja Diraja Shah Reza Pahlevi, di Iran, tumbang dan terusir dari negerinya karena people power (kekuatan rakyat). Demikian pula Ferdinand Marcos di Filipina, digulingkan oleh rakyatnya sendiri - rakyat yang semula mendudukkannya sebagai presiden. Beberapa masa kemudian, Estrada juga diturunkan oleh rakyat Filipina dari jabatan Presiden. Tidak usah jauh-jauh, di Indonesia, negeri kita sendiri, juga hams dicatat dalam sejarah, Soeharto naik menjadi Presiden karena rakyat menolak Soekarno yang diperangkap oleh kekuasaan untuk menjadi presiden seumur hidup. Namun Soeharto sendiri pun, yang kemudian juga terperangkap oleh kekuasaan, terpaksa meletakkan jabatan, atas desakan rakyat.

Pemerintahan dalam sebuah negara yang berdemokratis, berasal dari rakyat. Oleh karena itulah Presiden Amerika Serikat yang terkenal, Abraham Lincoln (1809 - 1865), mengucapkan, bahwa pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (from the people, by the people, for the people}.

Dahulu kala, masyarakat primitif, asal-muasalnya belum mengenal pemerintahan. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang membentuk komunitas sendiri, otonom dan berpindah-pindah. Mereka harus mempertahankan diri atau berebut dengan kelompok lain untuk mendapatkan makanan atau wilayah tempat tinggal yang baik. Kelompok satu dengan kelompok lainnya saling serang untuk mempertahankan hidup.

Dalam kehidupan primitif tersebut, yang namanya perampasan hak, pemerkosaan, pemaksaan kehendak dilakukan oleh mereka yang kuat terhadap yang lemah. Eksploitasi antar manusia merupakan pengalaman hidup sehari-hari. Thomas Hobbes secara dramatis menggambarkan keadaan itu sebagai homo homini lupus ( manusia yang satu menjadi srigala bagi manusia lainnya).

Lukisan dramatik yang digambarkan oleh Hobbes itu, menurut Prof Ryaas Rasyid dalam bukunya, "Makna Pemerintahan, Tinjauan dari Segi Etika dan Kepemimpinan", sekaligus menjelaskan kepada kita bahwa pada awal kehidupan manusia, hanya mereka yang kuat yang bisa bertahan, dan bahwa kebebasan hanya bisa dinikmati oleh si kuat atas pengorbanan dan penderitaan mereka yang lemah. Namun beberapa orang kuat yang berkuasa, mendapatkan ilham, mereka mendambakan masyarakat yang tertib dan teratur dan mereka merasa perlu adanya aturan main berdasarkan kesepakatan-kesepaka,tan. Kesepakatan itu dijalankan oleh orang-orang yang memerintah sehingga kelompok yang lemah terlindungi dari tindakan sewenang-wenang.

Maka kemudian bentuk dan fungsi pemerintahan itu pun berkembang sesuai dengan tuntutan dan kemajuan zaman. Albert Weale, dalam bukunya Democracy, Issues in Political Theory mengkritisi eksistensi pemerintahan itu dengan mengatakan: "A government needs power to protect you from the theft and violence of a lawless neighbour, but what if government itself becomes a source of theft and violence? (Pemerintahan itu dibutuhkan untuk melindungi anda dari pencurian, perampasan dan kekerasan, tapi bagaimana kalau pemerintah itu sendiri yang menjadi sumber pencurian, perampasan dan kekerasan?)

Apa yang dikatakan oleh Albert Weale tentu akan mudah dijawab. Jika kekuasaan itu yang justru menjadi sumber kekacauan, maka tentu saja rakyat tidak akan memberikan kepercayaan kepada kekuasaan tersebut. Bahkan dalam hal ini, rakyat akan berpotensi menjadi kekuatan yang akan menenggelamkan kekuasaan itu. Rakyat itu bisa seperti air pada sebuah telaga, tenang dan menyejukkan. Bisa seperti arus yang dapat menghanyutkan apa saja ke muara. Tapi yang paling menakutkan, tentu saja, ketika rakyat menjadi gelombang dan badai yang besar, maka sebesar apapun kekuatan yang dipersiapkan melawannya, niscaya akan hancur.

Berabad yang lampau, Jhon Locke, juga sudah menjawab pertanyaan Albert Weale di atas. "Jika seorang legislator melakukan tindakan yang mengarah pada perbudakan dan kesewenang-wenangan", kata Locke, "maka mereka akan berhadapan dengan rakyat. Dan sudah menjadi hak rakyat untuk menumbangkan dan menggantinya...".

Namun demikian, semua pihak tak perlu demikian cemas. Jika sebelumnya mereka menghargai "suara Tuhan" ini, khususnya meletakkan kepentingan mereka di atas kepentingan pribadi, maka pastilah suara ini akan datang seperti recupan daun-daun, seperti deras hujan, seperti mekar bunga-bunga. Hal ini telah dibuktikan oleh Vaclav Havel di Ceko, sudah dibuktikan oleh Ayatullah Khomeini di Iran, oleh Qory Aquino di Filipina, dan di berbagai negara lainnya.

Jika menghargai rakyat, maka rakyat akan menghormati. Berikan cinta, maka sayang akan datang, lakukan amanah, maka dukungan takkan punah. Dalam sebuah penggal kisah Layla Majenun, karya Hakim Nizami, ada sebuah ungkapan yang diucapkan Qais: "Jangan pernah melupakan bahwa ada orang yang raganya, bahkan seandainya raganya itu hancur berkeping-keping, akan memanggil hanya satu nama, dan nama itu adalah namamu: Layla." Dalam konteks kekuasaan, jika rakyat diletakkan pada penghormatan yang besar, maka cinta yang semacam itu bukanlah mustahil.

Lalu, kini semuanya terserah rakyat. Biarkanlah rakyat unjuk gigi. Apa yang akan ditentukan oleh rakyat, maka itulah yang terbaik bagi kita semua. Sudah waktunya bagi kita untuk memahami rakyat dalam kelapangan dada dan kecerdasan maksimal. Mari kita percaya bahwa rakyat, dengan pilihan yang diberikannya, sesungguhnya berhulu dari sebuah kearifan dan kebenaran, berasal dari mata air nurani yang dalam. Apa yang dikehendaki rakyat akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki akan tenggelam dalam sejarah yang kelam.


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/346-Vox-Populi-Vox-Dei.html