drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Kampanye Cinta


Oleh : drh.chaidir, MM

GENDERANG perang itu telah ditabuh bertalu-talu. Mulai minggu ini selama 21 hari ke depan, para juru kampanye partai politik mulai adu kebolehan, adu kemampuan, adu strategi, adu pintar, adu jurus, bahkan juga adu kecap. Sekali-sekali mungkin adu trik, adu licin atau adu licik. Di depan wasit, semua nampak sportif, saling berjabat tangan, di belakang wasit saling sikut atau saling meludah. Wasit tentu tidak dapat melihat karena dia tidak memilik mata cadangan ditengkuk, tetapi penonton di tribun tetap dapat melihat semua kejadian di lapangan dan mencatatnya denga baik dalam ingatan dan hati mereka.

Minggu-minggu ini tidak ada kecap nomor dua. Itu so pasti. Semuanya kecap nomor satu. Serunya lagi, sesama "bis kota" yang biasanya dilarang saling mendahului untuk tidak berebut penumpang, kini boleh saling mendahului. Dan sesama setan boleh saling melempar. Minggu-minggu ini - walaupun dilarang - saling menjelekkan, saling menghujat, atau bahkan mungkin saling fitnah, seakan memperoleh legitimasi. Pembenaran tampak di mana-mana, tapi kebenaran - the truth, entah di rnana. Kebenaran seakan terkotak-kotak dan didorong ke pinggir, ke sebuah sudut yang sepi. Kebenaran satu kelompok selalu mendapat pembenaran, sementara kebenaran kelompok lain dianggap bukan sebuah kebenaran. Pembenaran itu ada 1001.

Kekecewaan, kemiskinan, kebodohan, keterpurukan, ketertinggalan, keterpinggiran, yang sesungguhnya memang akrab dalam kehidupan kita, kali ini semuanya dikemas menjadi barang dagangan yang menarik dan diletakkan dalam etalase. Semua dipertontonkan tanpa malu-malu termasuk pakaian dalam sekali pun. Semua sisi dan sudut menjadi elaboratif. Orang yang kecewa karena mereka memang terabaikan atau terlupakan tentu berhak berteriak lantang dan kita patut berempati. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak miskin mengaku miskin, orang yang tidak tertindas mengaku tertindas?

Secara kebetulan sekali kampanye Pemilu kali ini dilaksanakan pada masa transisi, ketika masyarakat kita masih mencari-cari format yang sesuai dan belum mene-mukan jawaban yang tepat terhadap krisis yang dihadapi, seperti solusi akurat yang ditemukan oleh Malay-sia dan Korea Selatan. Dan kita? Jangankan solusi yang akurat, di mana kita harus mulai saja, pun kita belum tahu, ibarat "menghasta kain sarung".

Vaclav Havel, seorang budayawan bangsa Ceko yang kemudian terpilih menjadi presiden, menulis dalam bukunya Menata Negeri dari Kehancuran, bahwa ketika menghadapi rakyat yang tidak sabar, gugup, kecewa, dan ragu-ragu karena dalam kehidupan kita muncul serta bersembunyi unsur-unsur kebencian, curiga, dan fitnah, kebebasan dengan tiba-tiba membuka pintu gerbang bagi masuknya unsur-unsur luar ke sifat buruk manusia yang jumlahnya banyak dan menandai suatu kemerosotan moral dalam jiwanya. Musuh tunggal kita, mudah dikenali oleh semua orang yang dilumpuhkan dan kita akan terus mencarinya karena terdorong ketidakpuasan serta kebutuhan untuk menemukan seseorang yang bersalah dan hidup dalam diri orang lain. Setiap orang akan merasakan bahwa ia telah dikecewakan dan ditipu.

Itulah agaknya situasi yang kita hadapi menjelang pemilu tahun 2004, sebuah krisis kepercayaan yang teramat dalam. Pemerintah yang diharapkan menjadi payung tempat berlindung, tidak peka dan tidak mampu mendengarkan suara hati masyarakat yang tertekan. Semua permasalahan yang sesungguhnya tidak seder-hana, disederhanakan, sebaliknya semua permasalahan yang sebenarnya sederhana dibuat tidak sederhana. Semua permasalahan yang berat dianggap ringan, semua permasalahan yang ringan diberat-beratkan. Aspirasi murni masyarakat dianggap ditunggangi, sebaliknya aspirasi pribadi dikemas menjadi aspirasi masyarakat. Akibatnya kekecewaan menggunung dan akhirnya meletus.

Situasi ini agaknya dilukiskan dengan mengena oleh Maxim Gorky, seorang pengarang Rusia dalam novelnya yang sangat provokatif, Pecundang. "Betulkah kita sedang hancur berantakan. Kejahatan merajalela di negeri kita dan horor tak henti-henti. Rakyat tertekan oleh kemiskinan dan harapan. Hati telah menjadi sesat akibat kecemburuan. Rakyat kita yang sabar dan baik hati sedang musnah, dan sebuah suku yang ganas tanpa hati karena kerakusan sedang lahir - sebuah ras manusia-serigala, hewan pemangsa yang kejam. Kepercayaan hancur, dan di luar benteng sucinya rakyat berdiri bingung. Orang-orang yang sudah kehilangan pikiran menyerang orang yang tak punya pertahanan, membujuk mereka dengan kelicikan setan, dan membujuk mereka untuk meniti jalan kejahatan rnelawan semua hukum dalam kehidupan kita".

Penggambaran di atas sangat menakutkan bagi kita. Tapi ketakutan saja tak cukup, melainkan harus ada^ upaya maksimal yang mengarah pada perubahan, pencerahan, dan rnungkin kita dapat mernulainya dari kampanye pemilu ini. Pemilu, sesungguhnya hanya merupakan sebuah prosesi menjemput arnanah rakyat, yang kemudian amanah itu harus pula dilaksanakan dengan baik demi kemaslahatan yang lebih besar, masyarakat dan negara.

Ketika Pemilu bermain dalam terma-terma kemasyarakatan, maka menjadi suatu kewajiban agar prosesi tersebut tetap dimainkan dalam semangat kebersamaan. Setiap pihak, harus saling percaya, bahwa kebenaran masing-masing yang diusung untuk menjemput kepercayaan rakyat itu adalah sebuah kebenaran politik yang relatif, sebuah kebenaran yang tak bisa melakukan klaim boleh diikuti dengan tindakan-tindakan yang berpotensi menghancurkan persatuan. Kita harus sudah belajar banyak dari berbagai peristiwa kekerasan politik, yang ternyata hanya membuat negeri dan bangsa menjadi lemah. Kampanye yang penuh agitasi, mestinya sudah tidak masanya lagi. Bukankah pendidikan politik masyarakat kita sudah meningkat? Kampanye kali ini mestinya adalah kampanye yang penuh cinta kasih.

Dalam realitasnya memang tidak mudah, karena partai politik penuh dengan sesuatu yang "besar", seperti ambisi yang besar, massa yang besar, kehendak yang besar, dan yang "besar-besar" lainnya. Tapi selalu ada jalan. Dalam The Gandhi Sutras: The Basic Teaching of Mahatma Gandhi, DS Sarma mengatakan, "Langkah paling pertama dalam melakukan proses tanpa kekerasan adalah dengan jalan mengolah diri, dengan toleransi, cinta, dan kebaikan. Merujuk DS Sarma, maka masing-masing partai harus menumbuhkan kesadaran bahwa kebenaran diri (partai) merupakan hal yang tak terpisahkan dengan kebenaran pihak lain sebagai satu kesatuan, yang berhak diberikan toleransi, kasih sayang, dan penghargaan.

"Saya tidak menginginkan kemenangan, jika kemenangan itu mengandung arti pembinasaan dan kehancuran pihak lain. Yang kita perlukan, adalah sebuah kemenangan yang bernilai kemanusian dan memberi arti bagi pembangunan umat manusia," begitu kata Gandhi. Saya kira kita sepakat.


(No. 136/Th III/14 - 20 Maret 2004)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/345-Kampanye-Cinta.html