drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Ninja Politik


Oleh : drh.chaidir, MM

NINJA kura-kura, atau Kura-kura Ninja, sesungguhnya sudah cukup sukses mengangkat pamor ninja dari kehidupan yang serba kelam dan menakutkan ke kehidupan yang terhormat, bermartabat. Dalam film kartun Kura-kura Ninja (The Ninja Turtle), yang beberapa waktu lalu cukup populer di Tanah Air kita, ninja memang hero. Namun film itu kini digusur oleh film-film kartun serial Doraemon, Digimon, Power Puff Girls, Sinchan dan lain sebagainya. Dalam serial Kura-kura Ninja tersebut, ninja adalah dewa penolong, pahlawan, yang turun dari langit - entah langit lapisan ke berapa - untuk menyelamatkan manusia yang sedang teraniaya dan tak berdaya menghadapi kekejaman manusia lainnya. Kura-kura Ninja selalu datang pada saat yang tepat untuk menumpas kejahatan secara tuntas ... tas ... tas ... taaas!

Ninja (tolong hati-hati, jangan ganti huruf awal dengan "T" sebab arti dan baunya berbeda jauh), semula memang dikenal di masyarakat Jepang pada abad pertengahan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang terlatih dan menakutkan. Entah mengapa, citra tersebut agaknya ingin diperbaiki Jepang, maka muncullah film kartun Kura-kura Ninja, dan setakat itu sebenarnya Jepang berhasil. Ninja yang kura-kura, atau kura-kura yang ninja, akhirnya boleh dikata identik dengan pahlawan.

Namun di negeri kita, episode ninja sebagai pahlawan sebagaimana ditunjukkan oleh kura-kura itu, agaknya telah berakhir. Imej ninja itu kini telah kembali ke karakter semula. Entah kapan proses ini bermula, agaknya tidak ada yang mencatat dengan persis. Kajian tentang hal itu juga belum pernah dilakukan. Yang pasti, istilah ninja itu dewasa ini konotasinya buruk. Kalau sayalah kura-kura ninja, saya akan adukan masalah pembunuhan karakter ini ke Mahkamah Internasional, saya akan minta diadili oleh sebuah Pengadilan Koneksitas, sebab ini menyangkut dua wilayah subyek hukum: manusia dan kura-kura.

Salah satu contoh buruknya imej itu kini dapat kita lihat dalam munculnya istilah komplotan "Ninja Sawit". Ninja sawit ini, sama sekali tidak ada sisi baiknya, kerjanya hanya menggerogoti kebun sawit milik orang lain atau menyedot mmyak sawit yang bukan haknya. Merampok atau mencuri buah tandan segar, "ngerjain" truk tangki pengangkut minyak sawit mentah agar "kencing" (baca: dibocorkan dan ditampung) sepanjang jalan, adalah modus operandinya. Kelompok ini beraksi secara gesit, tangkas, trengginas, dan rapi. Konon, tidak kurang dari 30% produksi sawit kita dijarah oleh ninja-ninja ini. Ninja sawit itu sudah seperti benalu, dia menumpang hidup tanpa dikehendaki, kemudian pelan-pelan tetapi pasti akan mematikan tuan rumah yang ditumpangi (simbiosis parasitisme) atau paling tidak seperti perumpamaan: orang kenduri di rumah kita, tapi orang makan daging kita makan tulangnya.

Lalu ninja politik? Ninja politik dan ninja sawit, dalam hal karakter, sesungguhnya setali tiga uang. Mereka ninja hitam atau ninja busuk (maaf, dielaborasi dari istilah politisi hitam). Yang berbeda adalah modus operandinya, wilayah garapannya, wilayah taklukannya dan juga habitatnya. Ninja sawit bergerak di perkebunan kelapa sawit dan di jalan-jalan lengang jalur transportasi minyak sawit mentah; semakin lengang semakin bagus. Sedangkan ninja politik, bergerak dari satu konflik ke konflik yang lain, dari satu hotel ke hotel lain, dari satu diskusi ke diskusi lain, atau barangkali dari satu partai ke partai lain. Semakin banyak manusianya semakin bagus, semakin kacau semakin mulus. Mereka antara ada dan tiada, bergerak licin seperti belut dilumuri oli. Ninja politik pada stadium pertama (belum terlalu parah derajat keninjaannya), bergerak dalam bentuk vulgar, menggunakan cara-cara unjuk rasa, selebaran-selebaran gelap, premanisme, wujudnya antara lain berupa fitnah, pembohongan, intimidasi baik secara fisik maupun mental, melalui jasa telepon atau bisa juga melalui sms. Namun pada stadium lanjut, gerakannya bisa melalui pencucian otak (brain washing), propaganda, pembentukan opini melalui media massa, pembunuhan karakter, korupsi mulai dari yang skala kecil sampai raksasa, dsb, dsb.

Dalam kesehariannya di tengah masyarakat, ninja-ninja ini adalah manusia-manusia biasa, bahkan mungkin akan terlihat lebih baik hati dari orang-orang biasa, lebih pemurah dan lebih dermawan. Kuku dan taringnya yang tajam, baru terlihat bila mereka berada di hadapan mangsanya yang sudah tidak berdaya, seperti gambaran manusia srigala dalam film-film horor. Mereka hidup dalam dua dunia, kehidupan yang nyata bersama keluarga dan handai taulan, dan pada bagian lain mereka memiliki kehidupan abu-abu, kehidupan yang "menyamping", kehidupan dengan sisi-sisi gelap. Mereka berselingkuh terhadap kehidupan.

Hipokrasi bagi ninja politik adalah merupakan sarapan pagi, makanan tengah hari dan makanan malam hari, alias makanan sehari-hari. Lain di mulut lain di hati, lain di depan lain di belakang. Kernunafikan menjadi teman siang dan malam. Mereka tidak akan segan-segan berteriak maling walaupun mereka sendiri maling, bahkan barangkali lebih buruk dan lebih berba-haya dari maling. Sebab maling, konotasinya adalah penjahat kecil yang mencuri untuk mengisi perut, sedangkan ninja sawit atau ninja politik tidak hanya seke-dar mengisi perut yang keroncongan atau dapur yang tidak berasap, tetapi menumpuk kekayaan secara tidak sah untuk tujuh keturunan dan membangun kekuasaan tujuh dinasti. Mereka memiliki organisasi, skenario, dan memiliki jaringan laksana mafia dari Pulau Sisilia, Italia. Mereka sesungguhnya manusia-manusia handal, karena mereka memiliki kepintaran, keberanian dan kenekatan.

Ninja politik kelihatannya telah memanfaatkan definisi ilmu politik secara sangat sempit, yakni cara berpikir dan bertindak untuk mempengaruhi orang lain bagi kepentingan pribadi atau kelompoknya.Bagi mereka berlaku adagium, to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh), dengan kata lain menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan. Mereka mengabaikan cabang ilmu lain, yang pasti tidak kalah pentingnya: etika dan moral.

Agaknya pemain politik seperti inilah yang dikategorikan sebagai politisi busuk atau politisi hitam atau politisi bermasalah. Dan merekalah yang menjadi target operasi dari LSM, mahasiswa, dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk yang belum lama ini dideklarasikan di Jakarta dan menggema ke langit.

Ninja politik atau dalam bentuk lain politisi busuk itu, agaknya adalah produksi yang salah dari pabrik akademi politik, yang seharusnya sejak awal di-reject, tidak boleh masuk pasaran. Jangankan untuk ekspor, untuk pasar lokal pun tak. Sebab dia akan menjadi setitik nila yang akan merusak susu sebelanga. Yang perlu dicermati oleh gerakan yang mulia itu agaknya adalah membedakan politisi hitam dan politisi putih itu secara jernih, sebab kata Kahlil Gibran, "hanya ada beberapa orang yang mengenali kebaikan meskipun ia menggunakan pakaian buruk, dan ada juga yang dapat mengenali keburukan, karena pakaian bagus yang ia kenakan, tak mampu menyembunyikan wajahnya yang asli."


(No. 128/Th III/18 - 24 Januari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 132 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/344-Ninja-Politik.html