drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Politisi Hitam


Oleh : drh.chaidir, MM

SUATU kali terjadi debat kusir. Saya kemudian menyodorkan konklusi: politisi hitam belum tentu busuk tapi politisi busuk sudah pasti hitam. Kawan saya menyanggah premis ini dengan ketus. Menurut kawan ini, politisi hitam atau politisi busuk sama saja, setali tiga uang. Politisi busuk ya politisi hitam, dan politisi hitam ya politisi busuk. Politisi itu penghuni kebun binatang, katanya sengit. Maka keluarlah nama semua jenis binatang. Debat kusir melebar. Saya protes, sebab jelek-jelek begini, saya kan politisi juga. Okelah, katanya, anda penghuni kebun binatang juga, tapi anda dokternya. Ha ... ha ... ha ... tawa pun meledak, namanya juga debat kusir. Tapi kawan, kata saya, seorang politisi itu bisa saja hitam di luar putih di dalam, laksana buah manggis. Kawan berdebat itu dengan tangkas menjawab, itu politisi manggis namanya.

Singkat cerita, debat kusir itu berhasil menginventarisir sejumlah kosa kata baru. Ada politisi manggis, hitam di luar putih di dalam. Ada politisi durian, harus hati-hati memegangnya, durinya bisa menusuk, tapi di dalam harum. Ada politisi pisang, kuning di luar kuning di dalam. Ada politisi semangka, di luar hijau di dalam merah. Ada politisi mengkudu, maung tapi bisa jadi obat. Ada politisi jambu monyet, orang lain bijinya di dalam, dia sendiri bijinya di luar, aneh. Ada politisi mentimun bungkuk, dimasukkan tidak menambah jumlah, dibuang tidak mengurangi (kecian deh lu). Ada juga politisi sawit, hari-hari kerjanya bukan ngurus rakyat yang sedang terbirit-birit, tapi ngurus kebun sawit, cari duit.

Itu hasil inventarisasi dari kebun hortikultura dan buah-buahan. Dari kebun binatang? Ada politisi macan, namanya macan kertas. Ada politisi singa, namanya singa podium. Ada politisi kancil, lincah dan cerdik. Ada pula politisi beo, kerjanya membeo. Ada politisi bajing, kerjanya melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dari satu partai ke partai yang lain. Ada politisi belut, licinnya bukan alang kepalang. Ada politisi burung unta, yang selalu cari selamat; dia bisa menyembunyikan kepalanya, tapi bagian ekornya tidak. Politisi kambing hitam, selalu dipersalahkan. Politisi kelelawar, mencari makan di malam hari. Politisi ular, melata tapi berbahaya. Politisi bunglon, warna jaketnya tergantung lingkungan, dst, dst.

Siapa politisi? Politisi menurut beberapa kamus adalah orang yang berkecimpung di bidang politik. Apa itu politik? Nah untuk yang satu ini, jawabannya tinggal pilih mau pendek atau panjang. Kalau mau panjang, anda harus kuliah delapan semester di fisipol, tapi kalau mau yang pendek mari kita intip buku sejarah. Pada zaman klasik Yunani, negara atau lebih tepat negara kota disebut "polis". Plato, lebih kurang tiga abad sebelum masehi menamakan bukunya tentang soal-soal kenegaraan, Politea, dan muridnya bernama Aristoteles. (lebih kurang 322 sebelum masehi) menyebut karangannya tentang soal-soal kenegaraan, politikon. Maka kemudian politik didefinisikan sebagai seni mengatur dan mengurus negara dan ilmu kenegaraan. Politik mencakup kebijaksanaan / pemerintahan termasuk yang menyangkut penetapan bentuk, tugas, dan lingkup urusan negara.

Politisi hitam, akhir-akhir ini sangat sering dibicarakan, khususnya pada saat penjaringan calon legislatif pada masing-masing partai. Istilah politisi hitam, bermula ketika beberapa kelompok mencoba melakukan inventarisasi perilaku para calon yang diajukan oleh setiap partai pada pemilu 2004, dengan melihat fakta moral kekinian atau perilaku masa lampau yang membe-rikan akibat bagi kemaslahatan masyarakat.

Siapakah sebenarnya para politisi hitam itu? Apakah seperti Patih Karmawijaya, yang dalam Hikayat Hang Tuah suka mengadu domba, atau seperti Antonius yang lebih merasa asyik mengurus Cleopatra ketimbang rakyat? Atau seperti Nicolae Causescu yang melahap rakyatnya sendiri? Bukan suatu hal yang mudah buat memastikan indikator-indikatornya, dan penetapan-penetapan indikatornya tidak tertutup pula dari kemungkinan subyektif. Persoalan lain, siapa pula yang memiliki otoritas memberikan penilaian tersebut? Tampaknya sangat susah untuk sampai pada kesimpulan yang sesungguhnya, sebab orang yang hari ini dianggap baik, bisa saja menjadi jahat ketika telah terpilih. Sebaliknya, tidak tertutup pula kemungkinan, orang yang pada awalnya dianggap jahat, justru berubah baik ketika menjabat. Tak ada yang bisa dinilai secara hitam putih.

Pada masa revolusi Perancis, Napoleon Bonaparte dianggap sebagai tokoh yang paling baik. Semua orang memujinya, tak terkecuali seorang komponis sekelas Ludwig van Bethoveen, yang secara khusus membuat sebuah nomor musik untuknya. la pun kemudian diangkat menjadi konsul pertama Perancis. Tapi yang terjadi kemudian ternyata kekuasaan merubah Napoleon menjadi seorang diktator, yang lebih menyukai perang ketimbang mengurus kesejahteraan rakyat. Ini sebuah persoalan yang pelik.

Pada hemat saya, soal hitam atau putih, busuk atau wangi seseorang politisi, sangat bergantung dari, pertama, bagaimana itikad yang dipancang ketika menceburkan diri dalam dunia politik. Siapapun orang itu, jika ketika memulai sesuatu ia mengawalinya dengan sebuah itikad baik, ia akan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan negatif. Tapi bila dari mata airnya sudah keruh, dipastikan air yang mengalir pun akan senantiasa keruh. Hal kedua, adalah soal kesanggupan berpegang pada sebuah nilai moral yang baik. Jika para politisi menjaga etikanya secara maksimal, ia akan terhindar dari keinginan untuk berbuat yang tidak-tidak. Yang ketiga, mungkin soal kesadaran fungsional. Orang seringkali berbuat yang tidak=tidak, tidak jarang karena ia tidak menyadari fungsi dan tanggung jawab yang ia emban, sehingga ia menganggap kekuasaan sebagai sebuah media untuk memenuhi hasrat material, dan tidak mempertimbangkan hal-hal yang lain.

Kita tentu saja tidak ingin negeri ini dikuasai oleh para politisi hitam, karena akan menghancurkan banyak hal. Makanya, seperti yang dikatakan oleh kongfucius, yang juga senada dengan konsep kebudayaan Melayu, seorang politisi atau pemimpin harus memegang secara kuat dua amanah: yaitu membangun keteladanan dan melakukan secara sungguh-sungguh tugas pemakmuran atau menyampaikan hajat orang banyak.

Kita jangan sampai menghabiskan energi buat menentukan siapa yang busuk atau wangi, tapi mari kita memulai proses yang ada dengan itikad baik, dengan landasan moral yang cukup. Jika dengan itikad ini kita berjuang, jika dengan ikatan moral yang kuat kita berbuat, maka dunia politik kita akan menjadi sebuah dunia yang baik, menyejahterakan, dan bermartabat. Keindahan politik itu, kata sebuah kearifan sufi, terletak pada lahirnya suatu sikap yang adil ketika menjadi pemimpin dan santun ketika berkuasa.


(No. 127/Th III/11 - 17 Januari 2004)


Tulisan ini sudah di baca 122 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/343-Politisi-Hitam.html