drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Bukan Bayang-bayang Tuhan


Oleh : drh.chaidir, MM

PEMILIHAN Presiden tahun 2004, mungkin merupakan pemilihan presiden yang paling hiruk-pikuk di Indonesia. Betapa tidak, setahun sebelum pemilihan presiden dilaksanakan, semua kekuatan, termasuk komponen-komponen kekuatan sosial kemasyarakatan, dan bahkan pribadi-pribadi yang merasa kuat, sudah bersiap-siap untuk bertarung.
Kondisi ini merupakan buah dari demokrasi dan keterbukaan hasil gerakan reformasi. Kita memakluminya, seperti halnya kita memaklumi mengapa pada masa lampau presiden dan wakil presiden Indonesia pertama, Ir Sukarno dan Muhamad Hatta hanya ditunjuk. Atau pada masa Soeharto, proses pemilihan berlangsung dengan "tertib". Setiap zaman memiliki logikanya masing-masing, dengan tingkat pemahaman masing-masing pula.

Pemilihan presiden tahun 2004 adalah sebuah peristiwa yang jauh melampaui zaman sebelumnya. Pada pemilihan presiden kali ini, semua orang, wakil partai, atau kelompok memiliki peluang yang sama untuk dipilih, sepanjang ia dapat meraih dukungan awal mengatasnamakan rakyat, ternyata kemudian bertemu dengan penindasan baru.

Kearifan Melayu mengajarkan, seorang pemimpin negeri yang baik, paling tidak ia harus mampu melakukan dua hal: menjadi teladan dan sanggup melakukan tugas pemakmuran. Menjadi teladan mengandung sejumlah pengertian, bahwa seorang pemimpin harus memiliki sikap-sikap yang baik dan tidak sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaan. Hal ini diingatkan, karena kekuasaan cenderung membuat manusia ingin melakukan segalanya, Kearifan itu mengingatkan, pemimpin tidak diterjemahkan sebagai "bayang-bayang Tuhan" di atas muka bumi, tapi sebaliknya merupakan pelayan bagi kemaslahatan masyarakat.

Tugas pemakmuran pula membawa sejumlah makna, tapi yang terpenting adalah, bagaimana seorang pemimpin - yang memang tumbuh dari rakyat - dapat menuangkan segenap kemampuannya, baik melalui kebijakan maupun tindakan, untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Dua hal ini, keteladanan dan pemakmuran, merupakan indikator bagi berhasil tidaknya seorang pemimpin mengemban tugas yang diamanahkan kepadanya.

Sejalan dengan pesan dunia Melayu, dunia kearifan yang lebih tua, yaitu Cina, juga mengajarkan hal yang sama. Tokoh spiritual Kong Fu Tse, menganjurkan agar para pemimpin berpegang teguh pada Yen dan Li. Yen dan Li, secara singkat dapat diterjemahkan, bahwa seorang pemimpin harus melakukan tugas kepemimpinannya dengan mendahulukan hal-hal yang baik dan benar. Seorang pemimpin, kata Kong Fu Tse, harus mampu menunjukkan teladan lewat dirinya, bersikap santun, ramah-tamah, dan menjadikan kepentingan rakyat sebagai sebuah tanggungjawab yang melampaui segala hal. Hanya dengan demikian, rnenurutnya, sebuah negara akan menjadi kuat, dan seorang pemimpin akan mendapat dukungan penuh.

Kita berharap, bahwa hiruk-pikuk pemilihan presiden, dan gempita penyelenggaraan konvensi Partai Golkar, mampu melahirkan tokoh-tokoh yang berkualitas dan beritikat baik terhadap rakyat. Kita telah jenuh dengan sejumlah penghianatan yang sambung-bersambung dari masa lampau. Kini kita punya peluang untuk mengubahnya, maka kita harus melakukannya. Ucapkan Basmallah.

(No. 108/Th III/31 Agustus - 6 September 2003)


Tulisan ini sudah di baca 102 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/342-Bukan-Bayang-bayang-Tuhan.html