drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Membangun Konsensus


Oleh : drh.chaidir, MM

MEMBANGUN Konsensus adalah judul buku yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Sinar Harapan Jakarta, ditulis oleh M Deden Ridwan dan M Muhadjirin, dua orang aktivis HMI yang masih muda. Menariknya bukan karena itu, tetapi karena 'Membangun Konsensus' adalah rangkuman pemikiran dan praktik politik Ir. Akbar Tanjung.

Siapa yang tidak kenal Akbar Tanjung, Ketua DPR-RI dan Ketua Umum Partai Golkar. Dia disegani oleh kawan dan lawan politiknya. Agaknya itu pulalah yang menyebabkan acara peluncuran buku "Membangun^ Konsensus, Pemikiran dan Praktik Politik Akbar Tanjung", yang berlangsung di Ball Room Hotel Hilton, tanggal 20 Agustus 2003 berlangsung meriah. Banyak politikus hebat yang hadir, tak terbilang pengamat politik, dan tentu, kalangan intelektual negeri ini, yang sudah terbilang nama.

Sejujurnya, ketika tulisan ini ditulis, saya belum lagi selesai membaca buku tersebut, karena baru satu malam berada di tangan, namun kesan saya, yang beruntung diundang dan hadir dalam acara tersebut, buku ini cukup serius. Yang menarik juga adalah, tanggapan tokoh yang diminta memberikan pandangannya pada acara peluncuran buku tersebut. Ada tiga orang cendekiawan yang diberi kesempatan malam itu, DR J Kristiadi, DR Salim Said, dan Fachry AH, MA. Ketiga cendikiawan tersebut lebih banyak menyorot kiprah politik Akbar Tanjung dan perilaku politiknya yang dinilai sangat santun, berdasarkan pengalaman empirik masing-masing dalam berinteraksi dengan Akbar Tanjung. "Akbar Tanjung lebih Jawa daripada saya", ujar Kristiadi yang disambut ketawa oleh hadirin.

Akbar Tanjung, terlepas dari cacian dan hujatan bertubi-tubi yang ditujukan kepadanya, adalah sebuah fenomena. la sering dikategorikan sebagai figur politisi profesional yang memiliki semangat konsensus. Artinya, pemikiran maupun langkah-langkah praktis politiknya tampak sangat mengedepankan jalur kompromi atau kerjasama; bukan dengan cara menabuh genderang perang. Di tengah masyarakat majemuk yang rawan konflik memang cara-cara berpolitik seperti ini terasa cukup relevan. Heterogenitas sosial budaya dengan pelbagai varian politiknya yang berserakan membutuhkan figur yang mampu untuk "menjahitnya" menjadi sulaman menarik, unik, kokoh, dan nyaman. Akbar sampai batas-batas tertentu, agaknya bisa diibaratkan sebagai "tukang jahit" yang berusaha menyatukan segenap potensi budaya bangsa dalam payung modern nation state bernama Indonesia. Dalam konteks ini pula, Akbar tetap rnemainkan dirinya sebagai komunikator atau jembatan yang berusaha menghubungkan lalu-lintas politik yang saling berlawanan. Begitulah sinopsis yang disusun oleh Penulis, dan itu, agaknya memang sangat mengena sasaran."Bung Akbar adalah tokoh pluralis", ucap Kristiadi. "Dalam pergaulan sehari-hari ia tidak pernah membedakan batas-batas asal-usul, agama, etnis, ras, dan ciri-ciri primordial lainnya. Karena itu figur Bung Akbar pu-nya zone of acceptance yang cukup luas di kalangan masyarakat," lanjut Kristiadi.

Nurcholis Madjid, walaupun malam itu tidak bisa hadir, namun pandangan-pandangannya sering dijadikan referensi, terutama dalam memberikan background politik kenapa seorang Akbar Tanjung, yang dibesarkan oleh HMI, tetapi tidak memilih memasuki partai Islam, justru memilih masuk Golkar yang nasionalis. Ungkapan Nurcholis, Islam yes, partai Islam no, banyak dielaborasi oleh DR Salim Said dan juga Fachry Ali. Pandangan ini setidak-tidaknya mengurangi beban psikologis kader-kader HMI yang tidak memilih partai Islam sebagai kendaraan politiknya.

DR Salim Said nampaknya setuju terhadap kesan Nurcholis Madjid terhadap Akbar Tanjung: "Banyak orang mengatakan Akbar Tanjung itu lemah karena selalu mencari jalan tengah. Tapi bisa juga dibalik, mungkin itu justru kekuatannya, karena dia itu halus, berakhlak mulia, penyayang dan punya integritas moral.

Keberanian Akbar Tanjung membenahi Golkar di tengah caci maki dan hujatan, juga banyak mendapat pujian. Pada waktu itu Golkar memang sedang meng-alami krisis kepercayaan yang sangat serius dari masyarakat akibat terjadinya perubahan yang demikian besar dan adanya reformasi dalam bidang kehidupan berpolitik. Banyak orang-orang Golkar yang berhati kecil, tidak berani tampil di hadapan massa, bahkan ada yang langsung keluar meninggalkan Golkar. Sementara Akbar Tanjung berani, walaupun banyak ejekan yang ditujukan kepadanya. Namun dengan kesabaran, ketulusan dan keikhlasan, Akbar Tanjung pelan tetapi pasti membenahi Golkar, sampai kemudian, melalui suatu pemilihan umum yang demokratis, Golkar ternyata masih dipercaya oleh rakyat. Modal Akbar Tanjung adalah basis moral yang dia peroleh di HMI dan gaya kepemimpinannya yang penuh dengan semangat kompromistis dan semangat konsensus.

Malam itu, Akbar yang tampil kemudian memberikan sambutan, tampak sangat rileks. Akbar Tanjung bahkan sempat bercerita sekadar nostalgia, bahwa dia pernah satu sekolahan dengan Megawati Soekarnoputri di SMP Cikini. "Kami saling kenal sudah sejak lama", kenang Akbar. "Suatu kali", lanjutnya, "ketika pulang dari kursus Bahasa Inggeris di LIA, Mega entah kenapa belum dijemput, ketika saya tawarin naik mobil saya, dia ternyata mau," cerita Akbar yang tentu saja disambut ketawa oleh hadirin.

Akbar memang sebuah fenomena. Sampai sekarang pun kendati sangat sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk menerima adik-adiknya aktivis HMI, walau tengah malam sekalipun. "Saya nampaknya masih dianggap sebagai salah satu referensi", ujar Akbar. Pandangan Akbar tentang peran mahasiswa memang terasa teduh dan penuh kedalaman. "Mahasiswa harus sadar bahwa dirinya merupakan kekuatan moral, bukan kekuatan politik. Kekuatan gerakan mahasiswa sejatinya terletak pada konsistensinya sebagai gerakan moral. Sekali gerakan mahasiswa masuk ke dalam gerakan politik, maka bukan hanya mereka akan terlibat terus menerus dalam pusaran politik sehingga kehilangan objektivitas dan orisinalitasnya, melainkan juga akan kehilangan ruh perjuangannya karena telah menjadi partisan. Setiap sikap partisan akan melahirkan sikap tidak obyektif dalam memandang persoalan, dan akibatnya akan kehilangan dukungan moral masyarakat". Akbar Tanjung benar. Buku Membangun Konsensus, walaupun ditulis dengan sangat serius tapi menarik untuk dibaca.

(No. 107/Th III/24 - 30 Agustus 2003)


Tulisan ini sudah di baca 158 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/341-Membangun-Konsensus.html