drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 3

Wajah Kepemimpinan Kita


Oleh : drh.chaidir, MM

PEMILU 2004 sarat dengan pesan. Rakyat Indonesia untuk pertama kali memilih presiden secara langsung. Faktor inilah agaknya yang menjadi pemicu keriuhan, karena sejak awal-awal, semua unsur kekuatan, baik partai maupun lembaga-lembaga sudah mulai mengelus-elus tokoh yang dijagokan, jago atau tidak jago. Jika sebelum ini, pemilihan presiden diserahkan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan rakyat berada dalam posisi pasif, maka sekarang, secara iangsung rakyat teriibat daiam menentukan siapa yang akan memimpin mereka. Ini merupakan sebuah upaya demokrasi yang penting bagi Indonesia, sehingga kelak kita dapat pula mengukur, sejauh mana proses yang cukup demokratis ini dapat memberikan hasil yang diharapkan. Munculnya seorang pemimpin, yang dikehendaki oleh rakyat, dan sekaligus berkualitas, serta memenuhi harapan. Rakyat sudah terlalu lama berharap mendapatkan seorang pemimpin yang ideal paling tidak dalam perspektif mereka.

Prosesi menentukan seorang pemimpin adalah sebuah proses yang selalu riuh. Dalam sejarah kepemimpinan dunia, atau duduknya seseorang menjadi pemimpin, selalu bermula dengan keriuhan. Ini kita maklumi, karena dalam proses tersebut selalu ada intrik yang menakutkan, pertentangan yang mencemaskan, persekongkolan yang tak jarang kejam, hingga perang yang bertumpah darah. Begitulah selalu, meski tetap ada proses yang penuh kearifan, penciptaan keputusan melalui musyawarah dan bai'at, atau dengan kebijaksa-naan yang bersimbah pesan. Ada beberapa contoh un-tuk itu. Untuk menjadi penguasa tunggal imperium Romawi, Oktavianus atau Augustus Caesar harus berperang dengan Antonius. Untuk berkuasa di Rusia, Lenin dengan "mesin" Eolsheviks-nya harus menjungkirkan Tsar dalam revolusi yang berdarah. Di Cina, Mao Tse Tung melakukan Revolusi Kebudayaan yang amis kebengisan untuk menang. Banyak lagi contoh yang tak dapat kita sebut satu persatu.

Kita percaya bahwa keriuhan yang melanda Indonesia dalam hal menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin, tidak akan bercermin dengan contoh-contoh di atas. Meskipun bangsa ini dalam sejarahnya bukanlah bangsa yang asing dengan terma-terma kebengisan dalam prosesi kepemimpinan nasional, khususnya kalau kita merujuk pada beberapa peristiwa pergantian kepemimpinan nasional. Tapi, saya kira, semua pihak telah belajar banyak dari kejadian sebelumnya. Pemilihan demokratis atau pemilihan langsung, dalam batas-batas tertentu pastilah berawal dari kesadaran yang mengakar pada realitas-realitas masa lampau,

Pertanyaan yang cukup penting untuk kondisi saat ini, bukan hanya siapa yang menang dan menjadi seorang pemimpin. Tapi yang lebih mendasar dari sekadar itu adalah, pemimpin seperti apa yang kita harapkan?

Dalam pandangan saya, siapapun yang menang, selain tentu saja harus mampu melakukan percepatan pem-bangunan, khususnya dalam bidang ekonomi dan sosial, juga haruslah seorang pemimpin yang mampu mengubah paradigma kekuasaan. Jika selama ini, kekuasaan selalu diterjemahkan dengan kewenangan, yang selalu hanya beda-beda tipis dengan "kesewenang-we-nangan", maka untuk seterusnya seorang pemimpin harus berani mengubah paradigma itu, dengan menjadikan kekuasaan sebagai sebuah amanah untuk memberikan pelayanan rnaksimun kepada rakyat, Ketika seorang pemimpin diangkat oleh rakyat atau rnengatasnamakan rakyat, maka dengan serta rnerta ia berhutang kepada rakyat. Dan ketika ia berhutang kepada rakyat, rnaka membayarnya, adalah dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mernihak rakyat serta mempersembahkan kekuasaannya untuk kesejahteraan rakyat, dan ini menjadi suatu hal yang tak bisa ditawaf, menjadi suatu hal yang harus dibayar tunai.

Keberadaan seorang pemimpin atau sebuah negara, seperti yang selalu diungkapkan Kongfucius pada zarnannya, adalah terlahir untuk mernenuhi kepentingan rakyat. Maka atas dasar itu, pemimpin haruslah melaksanakan pemerintahan sesuai dengan aturan moral yang melandasinya. Jika pemimpin melakukan tugasnya dengan baik, maka kepatuhan akan datang dengan sendirinya. Jika tidak, seperti yang diungkapkan dalam konsep kontrak sosial-nya Jhon Locke, maka rakyat akan terbebas dari kesalahan jika melakukan pembangkangan termasuk menurunkan sang pemimpin dari tahta.

Hal berikutnya yang juga sangat penting adalah keteladanan, Dalam konteks Indonesia, kita sangat sering mendengar, kita sudah lama kehilangan pemimpin yang dapat dijadikan teladan; padahal hampir semua wilayah kearifan yang ada di Indonesia mengajarkan hal itu, salah satunya adalah seperti yang termaktub dalam kearifan Melayu yang menegaskan bahwa seorang pemimpin harus melakukan fungsi imam atau keteladanan bagi rakyatnya. Keteladanan adalah suatu hal yang sangat menentukan, sebab sikap atau keteladanan seorang pemimpin akan diikuti oleh masyarakat yang dipimpin.

Pemimpin diharapkan mampu mengubah paradigma kekuasaan, bukan karena kita sudah lelah dengan kebengisan yang berpotensi menimbulkan keretakan, tapi lebih dari itu, karena kita semua sudah rindu untuk memiliki sebuah negara yang penuh dengan keterhormatan. Rakyat mendambakan sebuah negara yang digerakkan melalui sebuah alas kemanusiaan, sebuah negara yang meletakkan kepentingan bersama di atas segalanya. Kita merindukan pemimpin dan kekuasaan seperti yang disebut oleh Lao Tse sebagai "air telaga yang tenang", yang darinya kita dapat bercermin dalam mengambil tindakan-tindakan yang benar.

Pemimpin yang bersikap lembut, memerintah dengan keteladanan yang memadai bukanlah sebuah kemunduran kekuasaan, tapi sebaliknya dengan sikap yang demikian, kita telah membawa kekuasaan itu pada taraf yang lebih tinggi. Dalam perspektif ini, kepemim-pinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu menegakkan marwah, baik marwah pemimpinnya maupun marwah rakyatnya.

Untuk menuju ke pola kepemimpinan semacam itu, yang siap mengubah paradigma kekuasaan, memang bukan hal yang mudah. Kita, secara bersama harus berjuang untuk itu. Dan dengan kesadaran bersama, kita akan menemukan kepemimpinan yang lebih menunjukkan keberpihakan kepada rakyat, satu kata dan perbuatan.


(No. 109/Th III/7 - 13 September 2003)


Tulisan ini sudah di baca 115 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/340-Wajah-Kepemimpinan-Kita.html