drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

La Tahzan


Oleh : drh.chaidir, MM

SAMPAIKAN kabar gembira kepada malam hari bahwa, sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah; kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebatan cahaya dan kedipan ma-ta." Ungkapan indah itu digoreskan oleh DR Aidh al Qarni dalam bukunya La Tahzan (Jangan bersedih), sebuah buku terlaris di Timur Tengah. Pesannya jelas, habis gelap terbitlah gelap. Di balik tangis pasti adaa senyum. Mendung tak selamanya kelabu. Matahari tidak selamanya tertutup awan hitam. Badai tidak akan setiap saat, dia pasti akan berlalu. Sastrawan Ashadi Siregar menulis tak kalah puitis, flamboyan sekali tempo akan gundul tapi kemudian akan kembali berbunga indah. Begitulah adat hidup, skenarionya telah tertulis dan kita tidak akan pernah bisa menduga, itu rahasia Sang Pencipta.

"Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Karena itu jangan pernah merasa gundah dan sedih." Begitu ditulis DR Aidh al Qarni lebih jelas dalam La Tahzan. Dalam urusan skenario takdir, kita sebagai manusia biasa tidak dapat berbuat apa-apa. Kelahiran, jodoh, rezeki, kematian, semua sudah ada jalannya sendiri, tidak bisa diubah barang sedikit pun. Janji yang sudah dipadu, bisa batal demikian saja. Bulan madu bisa jadi tinggal mimpi. Bahkan nasi yang sudah di mulut pun bisa jadi tidak ditelan.

DR Aidh al Qarni di Mekah, tentu tidak rnenulis secara khusus untuk rakyat yang sedang dilanda bencana di negeri Serambi Mekah, di Aceh. Tidak juga untuk rakyat di Malaysia, Thailand, Srilangka, atau India yang tertimpa malapetaka tak terkira. Dia bahkan tidak pernah meramal di negeri-negeri yang malang itu akan terjadi mega bencana. Tidak. Buku La Tahzan ditulis beberapa tahun lalu untuk sebuah pencerahan manusia, untuk siapa saja yang senantiasa merasa hidup dalam bayang-bayang kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, atau orang-orang yang sulit tidur dikarenakan beban duka dan kegundahan berat yang menerpa.

Tapi ketika melihat dan membaca La Tahzan, asosiasi saya sernuanya tertuju ke Negeri Serambi Mekah yang dilanda musibah. Mungkin karena alam pikiran saya dalam beberapa pekan terakhir ini diselimuti oleh kisah duka nestapa di negeri itu. Sehingga bagi saya La Tahzan seakan ditulis untuk Aceh. DR Aidh al Qarni seakan berada di Aceh berbaur bersama orang-orang yang kehilangan orang-orang tercinta, bersama anak-anak yang tiba-tiba berhadapart dengan masa depan yang kelam, tanpa suluh kecuali bintang di langit. Di tengah kegelapan, ketakutan dan kecemasan tak terperi itu Aidh al Qarni seakan membisikkan dengan teduh, aku ada di sini, kalian tidak sendiri.

"Jangan pernah merasa terhimpit sejengkal pun, karena setiap keadaan pasti berubah. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang ghaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan mencip-takan sesuatu yang baru setelah itu semua, tetapi sesungguhnya setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemu-dahan", hibur Aidh al Qarni.

Kita semua memang bersedih, kita semua menangis, seluruh dunia berurai air mata. Gelombang tsunami memang dahsyat, tapi gelombang air mata yang mengiringi bencana tersebut juga tidak kalah dahsyatnya. Namun adegan tidak mungkin lagi diulang, diganti dengan adegan yang tidak menguras air mata. Karena adegan itu adalah sebuah realitas dalam kehidupan, bukan rekayasa manusia. Yang lalu biarlah berlalu menjadi bagian dari masa silam yang kelam. Ratap tak perlu berkepanjangan, apalagi sambil mencari-cari apa ge-rangan salah dan dosa kita. Dosa mungkin ada, tapi tidak ada yang patut disalahkan. Bencana itu terjadi bukan karena kemurkaan Allah, bukan karena Allah marah dan kemudia menghukum kita. Tayangan penyanyi remaja Sherina berulangkali di televisi yang minta agar Tuhan tak marah lagi, boleh jadi agaknya berlebihan. Saya terus terang agak kerepotan menjawab pertanyaan Chaleed, anak saya. "Pa, Tuhan marah sama kita ya?" Tanyanya tanpa disangka. Saya pun menjawab ringan. Ya, kalau kita tidak sembahyang Tuhan marah. Kemudian buru-buru saya menyibukkan diri. Saya takut dengan pertanyaan Chaleed berikutnya, apa orang Aceh tidak sembahyang? Kalau pertanyaan itu muncul saya harus menjawab bagaimana, sementara saya menyadari di Negeri Serambi Mekah itu orang lebih banyak sembahyang daripada kita. Saya sependapat dengan budayawan dan penulis, Mahyudin Al Mudra, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah. Tuhan memiliki logika sendiri yang tak terduga oleh manusia. Agaknya yang perlu kita sadari adalah, tinta pena skenario takdir itu sudah lama kering, bahkan jauh sebelum kita semua lahir ke dunia fana ini.

Budayawan Mahyudin Al Mudra oleh karenanya wajar meratap panjang sebagaimana diluahkannya di website saya. la sangat menyesalkan penggiringan opini seakan bencana Aceh itu akibat kemurkaan Allah. "Pernahkan kita memikirkan betapa pedihnya hati keluarga para korban tsunami mendengar penafsiran dan penerjemahan seperti ini?" jeritnya. "Mereka yang sudah menderita sedemikian rupa, masih kita hakimi sebagai orang-orang yang menerima hukuman, sebagai orang-orang yang dimurkai Allah. Apa salah mereka, bayi-bayi, anak-anak kecil, orang-orang dewasa tua-muda, sehingga harus menerima kepedihan yang demikian berat? Apakah mereka lebih durhaka kepada Allah, lebih besar dosanya, lebih biadab kelakuannya dibanding para koruptor, penipu, pemfitnah, pencuri dan pengkhianat yang telah merugikan bangsa kita sedemikian parahnya? Jawabnya jelas tidak. Aceh adalah Serambi Mekah, di sana syariat agama diterapkan lebih ketat daripada di belahan manapun wilayah Indonesia. Tentu tetap ada para penyandang dosa di sana, tetapi jumlahnya pastilah jauh lebih sedikit daripada Jakarta atau Surabaya, misalnya. Kalau musibah ini karena Allah murka melihat kelakuan manusia yang sudah terlalu banyak berdosa, mestinya Jakartalah yang lebih 'berhak' diterjang tsunami," tulis Mahyudin selanjutnya.

Jadi, mengapa bencana ini terjadi? Prof Quraisy Shihab memberikan penafsiran yang bagus sekali dalam acara Lentera Hati di Metroteve, Senin 3 Januari 2005 dini hari. Allah ingin kita belajar lebih baik tentang alam dan fenomena alam. Sernua itu dapat dipelajari dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah merahmati kita dengan peringatan, agar kita menjadi lebih taqwa. Musi-bah ini mengingatkan kita, betapa harta benda, keluarga, kekuasaan, kehormatan, dan seirma kehidupan duniawi yang kita kejar dan kita cintal ini hanya titipan semata, yang bisa diambil kembali kapan pun dan dengan cara bagaimana pun. Dia berkehendak. Bukan untuk menunjukkan kekuasaanNya agar Dia ditakuti, disembah dan dijunjung tinggi, tetapi agar kita tidak terlena dengan hal-hal yang fana ini. Fisik yang ganteng, cantik, tidak ada artinya jika nyawa sudah tiada.

Bantuan material kini mengalir ke Aceh. Apabila bantuan itu dikelola dengan baik saya yakin Aceh "baru" akan bangkit. Tetapi kebangkitan fundamental yang diperlukan Aceh agaknya tidak hanya dari aspek material semata. Hal yang sangat mendasar adalah mengem-balikan semangat hidup orang Aceh, optimisme, dan kesadaran baru betapa panjang dan beraneka ragamnya kafilah kehidupan ini. Satu dan lainnya saling memerlukan. Selebihnya serahkan kepada takdir. Sebab semua takdir akan berjalan walau terhadap lubang jarum sekalipun.

Kita memerlukan orang-orang seperti DR Aidh al Qarni, Prof Quraisy Shihab, atau AA Gym atau Anda semua, untuk memompa semangat saudara-saudara kita di Aceh menatap masa depan.


(No. 179/Th III/24 - 30 Januari 2005)


Tulisan ini sudah di baca 121 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/339-La-Tahzan.html