drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Bunga Kembang Tak Jadi


Oleh : drh.chaidir, MM

BEBERAPA waktu yang lalu, Harian Pagi Riau Pos memuat berita bergambar. Di Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, ada gedung sekolah seperti kandang ayam. Di Desa Belaras, Indragiri Hilir, sekolah terpaksa diliburkan karena gurunya terserang penyakit malaria. Di Rantau Kopar, Rokan Hilir, dan di Rantau Baru, Kabupaten Pelalawan, semuanya di Riau, sekolah terpaksa di liburkan karena banjir. Beberapa guru di Pekanbaru, terjerat hutang di koperasi sekolah. Guru honor peiajaran agama dan bahasa Inggris di Sekolah Dasar hanya mendapat honor Rp 150.000,- perbulan (saya yakin jumlah honor ini pun di mark-up oleh guru tersebut karena jumlah sebenarnya yang ia terima lebih kecil dari itu).

Pada lembaran lain, dalam APBD Riau tahun 2004, 23% lebih anggaran dialokasikan bagi pendidikan. Kalau dirupiahkan, saudare, lebih dari 400 milyar rupiah. Kita pun dengan bangga mengatakan bahwa angka itu lebih besar dari angka rata-rata nasional, lebih dari yang dipersyaratkan oleh Undang-Undang Dasar yang hanya 20%. Pada lembaran lain juga kita memiliki Fakultas Kedokteran yang megah, boarding school SMU Plus yang hebat dan Pesantren Teknologi yang banyak dikucuri rezeki dari APBD Riau. Kita pun mendengar ada Pesantren Az-Zaitun di Bengkalis yang memperoleh alokasi dana ratusan milyar rupiah.

Bulan Agustus lalu, kita sukses menyelenggarakan sebuah event nasional, Olimpiade Sains. Olimpiade itu dibuka oleh Mendiknas dan ditutup oleh Presiden RI. Beberapa ilmuwan remaja kita berkibar dan memperoleh penghargaan dari Presiden. Pada bulan Mei tahun 2005, Riau pun menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Fisika Internasional. Event akbar itu dibuka oleh Presiden SBY.

Pada episode lain, ada kiriman buku untuk Kabupaten Kampar terdampar ke Kuantan Singingi. Tapi itu tidak apa-apa, konon salah kirim. Hanya, kini sudah menjadi rahasia umum, Dinas Pendidikan Nasional Riau menjadi "rimba belantara". Karena alokasi anggaran yang sangat besar untuk dinas ini, maka terjadilah perebutan proyek dengan menggunakan segala macam cara. Ada gula ada semut, bahkan berbagai macam semut. Masing-masing kubu semut ini mengusung "bala tentara", maka aturan pun berlaku seperti di rimba-belantara: tidak ada aturan!

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara kita memberantas kebodohan yang menjadi icon program pemerintah itu? Kebodohan menyebabkan kerniskinan atau kemiskinan menyebabkan kebodohan. Kebodohan tidak bisa diberantas dengan retorika. Ketika Kerajaan Romawi runtuh, guru-guru yang selamat menyingkir ke desa-desa mengajari anak-anak tulis-baca, mengajari anak-anak filsafat. Ketika bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki dan meluluh-lantakkan kota itu, Kaisar Hirohito bertekuk lutut pada sekutu, tapi dalam kepedihan yang amat sangat luar biasa, Sang Kaisar masih sempat bertanya adakah guru yang selamat dari kiamat kecil itu? Pasca Perang Dunia II, Jepang kemudian kembali menata sistim pendidikannya, guru-guru mereka istimewakan kesejahteraannya. Malaysia adalah contoh di depan hidung, betapa di awal tujuh puluhan mereka mengimpor 5.000 orang guru terbaik dari Indonesia dan mereka manjakan dengan fasilitas. Ilmu mereka bangun kokoh dan kemudian mereka mengirimkan ribuan anak-anak negeri untuk belajar di Inggris dan Amerika. Hasilnya sederhana: kini kita belajar di dan dari Malaysia.

Untuk melawan kebodohan kata kuncinya hanya satu: PENDIDIKAN, PENDIDIKAN dan PENDIDIKAN.

Pemahaman kita sesungguhnya sudah benar. Dulu kita menggunakan strategi pembangunan lima pilar, salah satu di antaranya adalah peningkatan kualitas SDM. Kini kita menggunakan strategi K2I, salah satu di antaranya adalah pemberantasan kebodohan, hakikatnya adalah pendidikan juga. Kita sesungguhnya sudah berada pada jalan vang benar sehinga tidak perlu menganjurkan agar kembali ke jalan yang benar.

Sampai pada tataran ide, das sollen, semua sudah benar. Tetapi ketika kita berbicara mengenai pendidikan yang bermutu, apalagi kemudian bermutu, tapi murah dan mudah dijangkau, maka ceritanya lain. Ilustrasi yang diungkapkan di awal tulisan ini hanya sebagian kecil saja dari realitas, ceritanya masih bisa diperpanjang berjela-jela. Pendidikan kita agaknya memang sebuah balada muram yang pedih. Siapa yang salah? Pihak mana yang mau kita salahkan? Di mana kambing hitamnya? Ketika kita menuding dengan satu telunjuk, pada saat yang sama tiga jari menuding diri kita sendiri.

Pendidikan yang bermutu memang harus kita tinjau secara menyeluruh. Dan pertanyaan pertama adalah, apakah kita sudah merumuskan dengan tajam program dan tujuan pendidikan kita. Kata orang bijak, sebagian besar masalah telah selesai pada saat kita berhasil menetapkan tujuan dengan jelas. Ada beberapa aspek yang patut kita kaji secara mendalam, bila kita ingin mewujudkan pendidikan yang bermutu. Yang pertama tentulah guru. Guru memegang peranan sangat dominan dalam membentuk watak anak didik. Ada dimensi-dimensi proses pembelajaran yang diperankan oleh guru yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi. Ketika disebut 12.000 guru di Riau tidak memiliki kompetensi kita pun termenung. Adakah institusi pendidikan guru kita tidak lagi efektif untuk mendidik calon-calon pendidik? Profesi guru barangkali harus sungguh-sungguh diposisikan pada tempat yang paling terhormat dari sekian profesi di tengah masyarakat, terutama kesejahteraannya, sehingga Fakultas Ilmu Keguruan tidak lagi menjadi pilihan terakhir atau "the last minutes choice".

Aspek kedua yang berperan dalam mutu pendidikan adalah murid. Murid harus terkondisikan dalam se-mangat dan disiplin belajar yang baik dan dalam ling-kungan yang baik pula. Guru yang bagus dengan murk yang bagus akan berkembang dengan baik apabila difasilitasi oleh karyawan sekolah yang memiliki dedikasi. Kurikulum pula adalah faktor penting lainnya yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Kurikulum yang setiap kali berubah, tidak hanya membuat bingung guru dan murid, tetapi juga orangtua murid. Peng-gunaan teknologi adalah faktor yang juga berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Teknologi akan memper-mudah guru dalam menggunakan alat bantu dan memudahkan murid menyerap dan mencerna materi.

pelajaran. Sarana dan prasarana adalah aspek penting lainnya yang berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan. Seberapa tinggi pun dedikasi guru atau semangat belajar murid, tetapi kalau gedung sekolahnya umpama kandang ayam seperti yang di Rimbo Panjang itu, sukar diharapkan dapat menghasilkan pendidikan yang bermutu. Gedung yang baik, bersih, sehat dan nya-man, pastilah membuat anak didik lebih selesa belajar. Dana adalah salah satu aspek penting dalam pe-ningkatan mutu pendidikan. Tetapi dana bukan segala-nya. Dana saja tanpa diikuti oleh aspek yang lain, tidak-lah begitu berarti. Apalagi dana yang besar yang dialokasikan untuk sektor pendidikan lebih banyak untuk anggaran birokrasi yang dikorupsi. Untuk apa anggaran besar kalau tidak fokus untuk proses belajar mengajar di kelas. Ketujuh aspek itu, yakni guru, murid, karyawan, kurikulum, teknologi, sarana/prasarana dan dana, merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan harus direncanakan secara baik.

Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Seperti bunga kembang tak jadi.


Nasihat orang tua-tua itu memang ditujukan untuk anak didik. Tetapi bila pemerintah yang memiliki fungsi sebagai fasilitator tidak sungguh-sungguh mencermati permasalahan lingkungan belajar yang dihadapi anak-anak didik, mereka kelak seperti bunga kembang tak jadi. Sayang sekali.


(No. 175/Th III/27 Desember-2 Januari 2005)


Tulisan ini sudah di baca 130 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/338-Bunga-Kembang-Tak-Jadi.html