drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Lembaran Baru


Oleh : drh.chaidir, MM

BULAN suci Ramadan berlalu, bulan Syawal tiba. Bagi umat Islam peristiwa ini dimaknai laksana membuka lembaran baru yang putih bersih. Lembaran sebelumnya yang coreng-moreng telah dibaca habis selama bulan Ramadan dengan senyum atau derai air mata, dan kemudian ditutup menjadi bagian masa silam. "Oblivione sempiterna delendam", kata filsuf Cicero. Biarlah masa lalu yang kelam itu tenggelam dalam tidur-nya yang abadi. Tentu tidak ada kaitan antara ungkapan Cicero dengan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, tetapi ungkapan Cicero itu, bagaimanapun, mengandung semangat universal. Meratapi masa lalu yang kelam tidak akan pernah mengembalikan sejarah dan menyelesaikan masalah. Bahkan terbuai dalam romantisme masa lalu juga hanya akan membuat kita hanyut dalam mimpi-mimpi dan jauh dari konstruktif.

Setidak-tidaknya ada dua pesan yang inheren dan tidak terpisahkan dalam setiap perayaan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri, yakni semangat persaudaraan dan keikhlasan untuk pulang ke rumah hati nurani. Kedua pesan itu bersemayam dalam sanubari setiap insan dan kemudian muncul ke permukaan demikian saja oleh dorongan sesuatu yang gaib. Semua terasa mesra dan berbunga-bunga.

Setiap tahun, dan telah berlangsung berabad-abad kita memiliki peluang untuk mengonstruksi ulang semangat persaudaraan antar sesama, namun setiap tahun pula berabad-abad lamanya, kecenderungan yang terjadi adalah semakin melemahnya semangat persaudaaraan itu. Rasa senasib sepenanggungan menjadi longgar, bahkan antar sesama saudara. Hal ini persis seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab agama. Ketika hari-hari terakhir hayatnya, Nabi Muhammad Saw mengatakan kepada para sahabatnya bahwa kalau umatnya tidak bertakwa, maka mereka akan selaiu bertengkar satu dengan lainnya bahkan antar sesama saudara sekalipun. Penyebabnya? Tidak lain adalah masalah "K2" (maaf meminjam istilah yang lagi trend di Riau), tapi bukan Kemiskinan dan Kebodohan, K2 yang dimaksud Nabi adalah Kekayaan dan Kekuasaan.

Nabi sudah tahu benar karakter umatnya yang sangat tangguh berperang meiawan pedang tetapi selaiu kesulitan berurusan dengan godaan hawa nafsu. Tiga "ta" adalah musuh besar umatnya: harta, tahta dan wanita. Dan sang iblis tahu persis bagaimana menundukkan sang manusia.

Berabad-abad setelah Nabi mengucapkan kalimat yang melintasi zaman itu, seorang filsuf Inggris Thomas Hobbes ikutan rnensinyalir bahwa manusia itu cenderung bersaing satu dengan lainnya, bahkan adakalanya manusia yang satu menjadi srigala bagi manusia lainnya. "Eellum omnium contra omnes, homo homini lupus". Penyebabnya adalah perbedaan kepentingan.

Apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw dan apa yang disinyalir oleh Thomas Hobbes, terbukti aktual dan faktual sampai hari ini. Karena godaan tiga "ta", karena kepentingan yang diusung berbeda, ma-nusia kehilangan logika dan saling aniaya. Sifat penyayang dan kesantunan terbang entah ke mana. Kejadian demi kejadian dalam beberapa hari terakhir ini membisikkan kepada kita ada seuatu yang telah berubah dalam masyarakat kita. Bentrokan antar kelompok masyarakat dengan PAM Swakarsa sebuah perusahaan di Tambusai Utara, yang menelan korban jiwa terasa menyesakkan dada dan mencoreng suasana persaudaraan Idul Fitri. Demikian pula kebrutalan yang terjadi di Bojong, Bogor, yang demikian vulgar disiarkan di layar kaca, memberikan isyarat, bahwa kita sesungguhnya telah berubah (menjadi masyarakat yang pengamuk), entah sejak kapan proses itu terjadi. Kita boleh mengatakan kedua kejadian itu situasional, tapi pembenaran itu agaknya tidak seluruhnya dapat kita cerna.

Apa yang dipertontonkan oleh oknum anggota DPR-RI, menarik pula untuk dikaji oleh para pakar ilmu jiwa dan pakar ilmu sosial. Dulu sukar dibayangkan Anggota DPR kita akan berkelahi di ruang sidang, sebab mereka adalah manusia-manusia dengan bangunan maturity (kedewasaan) yang sempurna dan sangat menjunjung tinggi sopan-santun, arif dalam bersikap dan terukur bila bertutur. Tapi itu dulu, kini bahkan di bulan puasa lalu, mereka baku hantam guna mengakhiri sebuah perdebatan. Pada mulanya kita menganggap mereka berpura-pura atau mungkin mereka silap. Mumpung di bulan puasa, ketika pintu maaf dibuka selebar-lebarnya, mereka saling bermaaf-maafan. Tapi justru dalam suasana Idul Fitri, dalam Rapat Paripurna pertama setelah Idul Fitri, para anggota dewan yang terhormat ini kembali bertengkar hebat. Idul Fitri tak ada kesan. Semangat persaudaraan dan keikhlasan tenggelam oleh amarah dan dendam.

Kita pun mendengarkan pembenaran, bahwa musim berganti, zaman telah berubah. Ada yang mengatakan kejadian itu menandakan kita telah maju selangkah lagi dalam kehidupan berdemokrasi. Dulu, begitu pendapat tersebut mengatakan, perselisihan, pertengkaran, atau bahkan perkelahian antar partai politik atau antar pendukung partai politik terjadi di jalan-jalan, di luar gedung. Kini pertengkaran itu berpindah ke dalam gedung parlemen.

Tiga kali pemilihan umum yang telah kita lakukan dalam tahun 2004, satu kali pemilihan umum legislatif dan dua tahapan pemilihan presiden, semula diramal oleh para pengamat bakal rusuh bahkan berdarah-darah. Tapi ternyata tidak. Ketiga pemilu tersebut berjalan dengan mulus, lancar, aman dan tertib. Bangsa kita pun dipuji beramai-ramai oleh para pengamat dalam dan luar negeri. Rakyat sudah cerdas. Rakyat sudah melek politik. Rakyat sudah berlapang dada untuk hidup berdampingan, walaupun partai politik dan calon presidennya berbeda.

Bila logikanya demikian, maka kecerdasan itu kelihatannya telah bertukar tempat dari dalam gedung ke luar gedung, sehingga wajarlah bila perkelahian itu kini berpindah dari luar gedung ke dalam gedung. Kita memang sedang belajar berdemokrasi (termasuk berkelahi di gedung parlemen?). Entah mana yang benar. Jangan-jangan, benar pendapat yang mengatakan perkelahian di gedung parlemen itu merupakan indikasi demokrasi kita semakin baik. Bila demikian, hati-hatilah kalangan perempuan yang berkeinginan menjadi anggota parlemen. Atau ke depan, mungkin perlu ada persyaratan baru bagi seorang caleg, di samping ijazahnya tidak boleh asli tapi palsu, harus menguasai pula olah raga bela diri.

Perkelahian, bagaimana pun adalah akibat emosi yang tidak terkendali. Agaknya, tidaklah ada kaitannya sama sekali dengan demokrasi yang sedang kita tegakkan. Perdebatan atau perbedaan pandangan mestinya laksana perbedaan antara dua saudara, pagi berkelahi siang kembali berbaikan. Tetua kita memberi petuah dalam menyelesaikan masalah: masalah besar dikecil-kecilkan, masalah kecil dihilangkan.

Dalam semangat Idul Fitri mari kita posisikan pluralitas itu dalam bangunan persaudaraan dan keikhlasan, karena hanya dengan cara itu kehidupan akan terasa lebih beradab. Mari kita buka lembaran baru. Minal aidin walfaidzin.

(No 171/Th III/29 November - 5 Desember 2004)


Tulisan ini sudah di baca 177 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/337-Lembaran-Baru.html