drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Kembali ke Pangkal Jalan


Oleh : drh.chaidir, MM

NASIHAT bijak orangtua-tua kita, "bila tersesat kembalilah ke pangkal jalan." Pangkal jalan itu adalah jalan yang benar, jalan yang seharusnya ditem-puh. Bila enggan kembali, kita akan tersesat semakin jauh dan akan sulit menemukan jalan pulang, bahkan bukan tidak mungkin tidak lagi ditemukan jalan untuk kembali ke pangkal jalan. Bila ini yang terjadi, kita akan menghadapi masalah besar.

Pangkal jalan mengandung makna simbolik darimana berawal nilai-nilai kebenaran atau kebaikan yang kemudian menjadi norma. Jika ia bernama sebuah perbuatan, maka pangkal jalan itu adalah semua perbuatan baik. Bila ia bernama kelakuan, maka itu berarti kelakuan baik. Kebohongan pula, pangkal jalannya adalah kejujuran. Kepalsuan, pangkal jalannya adalah kemurnian.

Pangkal jalan adalah hati nurani. Hati nurani itu sendiri juga mengandung makna simbolik. Dia ada di dalam dada, tapi tiada entah dimana. Sejuta pakar ana-tomi kelas dunia sekalipun, tidak akan pernah bisa mene-niukan organ hati nurani di dalam rongga dada setiap manusia. Dia mungkin sebuah ruang privat. Dia seperti sebuah labirin yang tak tersentuh, seakan memiliki sejuta mata dan telinga. Kita bisa bertanya kepada hati nurani tentang segala perbuatan yang kita perbuat atau tidak kita perbuat, tentang apa yang memenuhi pikiran dan menyesakkan dada, atau tentang apa saja, dan tak usah takut dipermalukan karena orang lain tak akan pernah mendengar jawaban yang diberikan, seburuk apapun.

Pertanyaannya, kapan kita harus kembali ke pangkal jalan? Kapan saatnya kita bertanya kepada hati nurani? Bukankah mestinya bisa setiap saat, setiap detik, atau setiap sepersekian detik, kapan saja dan di mana saja? Namun itulah yang bernama makhluk manusia, kadang terlalu angkuh untuk sebuah kompromi, sehingga detik, jam, hari, purnama, dibiarkan berlalu tanpa hati nurani. Padahal hati nurani itu adalah kawan setia sehidup semati, kapan pun dan di mana pun. Dia tak pernah minta imbalan. Tak pernah bicara kontribusi atau partisipasi, atau uang tutup mulut. Akibatnya, disadari atau tidak, jalan yang kita lalui semakin jauh menyimpang dari pangkal jalan, tanpa terasa. Kita baru menyadan dan terkejut ketika keanehan-keanehan di sekeliling kita menampakkan rupa.

Kita ternyata terlalu mengedepankan hasrat material dalam banyak aspek kehidupan sehingga seringkali mengabaikan harkat kemanusiaan, mengenyampingkan moral, bahkan mencederai keindahan hubungan persaudaraan yang selama ini terpelihara dengan baik. Kita terbuai oleh semangat persaingan dan kebendaan dalam suatu budaya instan. Semua ingin cepat menjadi terkenal, semua ingin cepat menjadi kaya, semua ingin cepat naik jabatan dengan menghalalkan segala macam cara. Secara psikologis, pencapaian kemajuan yang terlalu mengedepankan gairah material akan cenderung mengarah pada sesuatu yang anomi - masyarakat yang aneh dengan perilaku menyimpang. Jika itu dalam aspek perekonomian, maka ia akan bergerak ke arah homo homini lupus, jika itu dalam aspek pembangunan politik maka ia akan mengarah pada politik dagang sapi atau belah bambu, seperti yang banyak ditemui dalam masyarakat kita. Bila hal itu menyentuh pembangunan hukum, maka hukum hanya akan berfungsi sebagai penghakiman, bukan penyadaran, bahkan lebih jauh akan menyeret kita kepada praktik-praktik mafia peradilan. Jika itu pembangunan kebudayaan, maka ia terjebak dalam simbolistik, miskin jiwa.

Wajah itulah yang tampak menonjol dalam potret kehidupan kita di awal abad ini. Wajah yang beringas, agresif, serba masif, egoistis, ambigu, dan bahkan berbau dagang. Semua dihitung dengan uang. Semua dihitung untung rugi. Untunglah, sekali setahun kita diberi laluan jalur khusus. Pada jalur ini semua mesin boleh diservis, kecepatan dikurangi, atau jeda sejenak. Jalur itu adalah jalur puasa Ramadan. Pada etape ini kita diberi peluang untuk melakukan evaluasi, introspeksi, bahkan kontemplasi terhadap perilaku kita. Ada apa dengan etape-etape yang telah kita lalui, bagaimana komunikasi horizontal (antar sesama) telah dibangun, dan bagaimana komunikasi vertikal dengan Sang Khalik diwujudkan. Sekali setahun kita diberi peluang untuk masuk padepokan, guna melatih diri dengan jurus-jurus yang dihalalkan. Sekali setahun kita diberi kesempatan untuk mengisi baterai yang mulai melemah. Sekali setahun kita diberi kesempatan untuk belajar melihat gajah di pelupuk mata.

Puasa Ramadan bagi umat Islam memiliki makna yang sangat istimewa, karena bulan ini memang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain. Bagi umat Islam, kalaulah boleh memilih dan meminta, biarlah setiap bulan sepanjang tahun itu ada-lah bulan Ramadan. Puasa Ramadan memang multi dimensi. Salah satu dimensi itu adalah bahwa puasa Ramadan dimaksudkan untuk meningkatkan solidari-tas sesama Muslim di manapun berada, mereka akan setia dan penuh kerinduan melaksanakan puasa Ramadan. Puasa Ramadan memiliki makna simbolik yang sangat dalam: selama sebulan penuh, kaum Muslim laki-laki dan perempuan, dari semua ras, bangsa, dan etnik sama-sama menjalankan persatuan global dan persau-daraan antar sesama.

Nabi Muhammad menekankan bahwa puasa Ramadan bukan hanya saat untuk berhenti dan meman-jakan tubuh dengan berbagai kesenangan batiniah, juga merupakan bulan ketika tanggungjawab etik yang melekat pada diri Muslim harus mendapat perhatian khusus. "Jika seseorang tidak berhenti berbohong dan selalu mengunjing selama puasa, ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan menerima puasanya. Allah tidak hanya menginginkan seseorang berhenti makan dan minum" (diriwayatkan oleh Bukhari).

Juru tafsir Muslim kontemporer menerangkan bahwa puasa Ramadan adalah salah satu cara untuk menyucikan jiwa. Hal ini disebutkan karena puasa Ramadan mengubah seseorang dari perilaku yang tidak baik ke dalam pikiran yang segar. Puasa juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani; membuat seseorang dapat merasakan penderitaan orang lain; melatih seseorang menjadi disiplin dan sabar.

Menyucikan jiwa berarti memelihara hati nurani. Dan ini sangat relevan bagi masyarakat dan para penguasa yang senantiasa saja berdebat tentang hak dan kewajiban masing-masing. Puasa memberi kita laluan untuk kembali ke pangkal jalan. Namun ia memerlukan kejujuran, komitmen, dan tekad. Komitmen untuk kembali ke pangkal jalan tidak semudah meneruskan perjalanan ketersesatan. Pesan Naguib mahfouz, seorang pengarang Mesir peraih Nobel Sastra agaknya layak kita renungkan, "tekanlah hasrat yang berlebihan, berjuang keraslah melawan godaan dan bombardir langit dengan doa."

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Maaf lahir batin*


(No. 166/Th III/18 - 24 Oktober 2004)


Tulisan ini sudah di baca 132 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/336-Kembali-ke-Pangkal-Jalan.html