drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

BG Lee


Oleh : drh.chaidir, MM

LEE SHIEN LOONG atau lebih populer dengan panggilan BG Lee (52 tahun), tanggal 12 Agustus 2004, resmi menjadi pemimpin Singapura. Maka, bertambah panjanglah daftar "Anak Orang Nomor Satu" menjadi "Orang Nomor Satu", setelah sebelumnya tercatat beberapa nama, sebut saja misalnya George Walker Bush, Presiden Amerika Serikat sekarang, adalah anak kandung mantan Presiden Amerika George Bush. Presiden Filipina sekarang Aroyo Macapagal adalah anak kandung mantan Presiden Filipina Macapagal. Dan, Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, adalah anak kandung dari presiden pertama RI, Ir Soekarno.

Di bagian Asia lainnya, ada pula Presiden Pakistan, Benazier Bhutto (sekarang sudah mantan); Benazier Bhutto adalah anak kandung mantan Presiden Pakistan Zulfikar Ali Bhutto. India, negeri bollywood yang menjadi tetangga Pakistan, juga demikian. Mantan Perdana Menteri Indira Gandhi adalah anak kandung dari mantan Perdana Menteri India Mahathma Gandhi, seorang tokoh yang sangat terkenal.

Ayahanda dari Lee Shien Loong, yakni Lee Kuan Yew, memang bukan Presiden Singapura, tapi semua orang tahu, Lee Kuan Yew adalah pendiri Singapura dan kemudian menjadi Perdana Menteri Singapura pertama dan orang yang membangun Singapura dari nol hingga menjadi sebuah Negara yang maju dan kaya seperti sekarang. Singapura memang menganut sistem pemerintahan parlementer, oleh karena itu walaupun ada presidennya, tapi yang berkuasa adalah Perdana Menteri. Perdana Menterilah yang menjadi kepala pemerintahan dan bertanggungjawab terhadap jatuh-bangun atau maju-mundurnya negeri tersebut. Presiden hanya sebagai simbol belaka.

Negara-negara yang disebutkan, Amerika Serikat, Filipina, Singapura, Pakistan, India, dan Indonesia adalah negara-negara republik, bukan kerajaan (monarkhi), sehingga naiknya sang anak ke pucuk pimpinan, menjadi orang nomor satu, seperti ayahandanya, bukanlah karena garis keturunan seperti dalam sistem kerajaan. Mereka naik karena mereka memang memiliki kapasitas, kapabilitas dan dukungan politik dari rakyatnya. Sebab keenam negara contoh tersebut adalah negara yang secara berkala melakukan pemilihan umum, artinya, negara-negara tersebut menjunjung tinggi azas demokrasi. Siapa yang dikehendaki rakyat, dialah yang menjadi pemimpin. Artinya, orang-orang yang naik ke pucuk pimpinan sebuah negara yang berdemokrasi, adalah orang-orang yang bekerja keras membangun kapasitas, kapabilitas dan akseptabilitas, bukan karena hubungan darah atau keturunan, atau juga kekuasaan sang aya-handa. Kalau pun mau disebut campur tangan sang ayahanda, barangkali adalah dengan memberikan pendidikan yang bermutu bagi sang anak. Dan, tentu saja juga makanan yang bergizi, sehingga otak sang anak, yang secara genetik memang sudah bagus (karena orangtuanya sudah teruji), tumbuh dan berkembang lebih optimal. Lee Shien Loong misalnya adalah jago matematika di Cambridge University di Inggris.

Bibit barangkali memang berpengaruh, ibunda dari BG Lee, Kwa Geok Choo, adalah seorang mahasiswi yang brilian. Dia memperoleh gelar sarjananya juga di Cambridge University dan merupakan wanita pertama dari Malaya yang memperoleh penghargaan sebagai mahasiswi terbaik. Sedang ayahandanya, Lee Kuan Yew, jangan tanya. Lee Kuan Yew tidak hanya lulusan terbaik di kelasnya ketika menggondol Sarjana Hukum, di Cambridge University juga, tetapi juga mendapatkan penghargaan sebagai bintang mahasiswa (a star for special distinction). Jadi wajar kalau sang anak kemudian tumbuh pin tar dan cerdas.

Tahun 1990, ketika Goh Chok Tong naik sebagai PM Singapura menggantikan Lee Kuan Yew, yang mengundurkan diri, banyak pihak yang menyangka bahwa itu hanya trick Lee Kuan Yew untuk menaikkan anaknya Lee Shien Loong ke posisi PM dalam waktu yang singkat. Sebab adalah sangat tidak etis dalam sebuah negera maju yang berdemokrasi, sang ayah langsung digantikan oleh sang anak, sejenius apapun sang anak. Oleh karena itu bisik-bisik di negara pulau tersebut, Goh Chok Tong paling hanya akan menduduki kursi PM Singapura, satu atau dua tahun, setelah itu BG Lee akan menggantikannya. Apalagi di akhir era delapan puluhan itu, ketika BG Lee, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Keuangan, juga Menteri Perdagangan dan Industri, baru berusia 38 tahun, adalah "the rising star" yang sangat cemerlang. Namun terjadilah musibah itu, BG Lee didiagnosa menderita kanker kelenjar getah bening pada stadium berbahaya. Tidak ada pilihan lain, BG Lee terpaksa menjalani pengobatan chemoterapi beberapa kali, sebagai satu-satunya cara yang direkomendasikan oleh tim dokter. Dan untunglah dia dinyatakan sembuh total beberapa waktu kemudian.

Sakitnya BG Lee waktu itu agaknya menjadi blessing indisguess bagi Goh Chok Tong. Cukup waktu baginya untuk menunjukkan kemampuan kepemimpinannya. Dan sesungguhnyalah Goh memiliki kemampuan yang tidak berbeda dengan Lee Kuan Yew. Goh hanya kalah pamor dan karisma.

"BG Lee Sembuh, Goh Kukuh", itu judul artikel yang saya tulis tahun 1993 di harian pagi Riau Pos. BG Lee memang ditakdirkan sembuh dari cengkraman kanker kelenjar getah bening, tapi Goh Chok Tong telah menunjukkan kelasnya bahwa dia memang pantas memimpin Singapura, tidak hanya sekadar mengisi masa transisi. Maka bisik-bisik di grass-root itu pun semakin sayup dan hilang sama sekali. Goh Chok Tong telah menunjukkan bahwa dia berhasil selama 14 tahun memimpin Singapura, meneruskan tradisi ytuig uiguies dengan tinta emas oleh pendahulunya, Lee Kuan Yew, membawa Singapura menjadi sebuah negara kaya dan, terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, Goh berhasil mewujudkan Singapura menjadi Negara Kota Taman Tropis Yang Indah dari Timur, sebagaimana salah satu misi pembangunan negeri tersebut.

Kini giliran BG Lee menduduki singgasana setelah 14 tahun menjadi Wakil Perdana Menteri. Tidak ada komentar yang meragukan kemampuannya. BG Lee dianggap capable menduduki posisi tersebut. Kekhawa-tiran hanya datang dari tokoh oposisi senior Jeyaretnam. "Tidak akan ada perubahan soal demokrasi, tidak akan ada perubahan apapun", katanya. Sementara beberapa pengamat politik lokat lainnya memberikan komentar bahwa BG Lee akan memerintah seperti Lee senior yang memimpin dengan tangan besi.

Menurut buku biografi Lee Kuan Yew The Crucial Years yang ditulis oleh Alex Josey (1995), Lee senior ini sesungguhnya pekerja keras dan seorang disciplinarian. Disiplin baginya adalah harga mati. Tapi dia berkilah, bukan demokrasi yang membuat orang sejahtera, tapi disiplin, katanya. Disiplin kaku inilah agaknya yang dikhawatirkan ditularkan kepada anaknya. Namun BG Lee memberikan garansi dalam pidato perdananya sebagai PM. "Anda bebas berbeda pendapat, mengeluarkan ide yang aneh, atau yang sederhana. Kita harus siap terjun dalam debat beda pendapat. Tujuannya, saling memahami persoalan yang ada, mencari solusi, dan memberikan ruang gerak yang lebih luas", kata BG Lee sebagaimana dimuat Riau Pos (13/08).

Perdana Menteri BG Lee agaknya tidak perlu khawatir dengan pernyataannya tersebut akan mengundang gelombang unjuk rasa sebagai bentuk kebebasan baru di Singapura, sebab masyarakat Singapura memberikan apresiasi yang berbeda terhadap kata kebebasan dengan masyarakat tetangganya. Ketika menghadiri resepsi pernikahan putri Konsul Singapura, Ajit Singh di Singapura baru-baru ini, saya diundang pula sarapan pagi oleh EDB Chairman (Ketua Badan Pembangunan Ekonomi Singapura), Mr Teo Ming Kian. Dalam percakapan kami, dia menyampaikan kagum terhadap proses demokrasi yang terjadi di Indonesia. "Tapi di Singapura, semua orang memerlukan kepastian (certainty)", katanya. Semua harus serba pasti, tidak boleh ada spekulasi dan hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan.

Bagi kita, BG Lee diharapkan ke depan akan lebih memahami dan memberikan penghargaan terhadap kerjasama yang telah terbina dengan baik. Apalagi dengan modal bahasa Melayu yang sangat fasih. Perhatian terhadap Melayu kelihatannya lebih baik dengan bertambahnya posisi Melayu yang duduk dalam kabinet (dari semula 3 menjadi 4 orang) dengan diangkatnya seorang kawan yang saya kenal, Zainal Abidin, Walikota North East Singapura sebagai Menteri Negara di Departemen Luar Negeri.

BG Lee, congratulation and good luck!!*

(No. 158/Th III/16 - 22 Agustus 2004)


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/335-BG-Lee.html