drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

Tiga Lang Pak Lah


Oleh : drh.chaidir, MM

BERIRINGAN dengan lomba balap mobil Formula 1, negeri jiran kita Malaysia, melaksanakan pula perlombaan politik, yakni pemilihan umum. Tanpa gembar-gembor yang berlebihan dan terkesan kalah heboh dari pemilu Indonesia, pemilihan umum Malaysia berlangsung dengan sukses, aman, lancar dan jurdil. Tidak terdengar adanya polemik tentang proyek pembuatan kotak suara, proyek pengadaan tinta atau Yang terdengar nyaring adalah kekalahan telak PAS (Partai Islam Se-Malaysia) dan Partai Keadilan yang tergabung dalam Barisan Alternatif sebagai partai pembangkang atau oposisi. Koalisi permanen Barisan Nasional (BN) yang dipimpin oleh UMNO (United Malays National Organisation - Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu) menang telak dengan mengantongi 195 kursi atau 89% dari seluruh total kursi di par-lemen. Negeri Bagian 'petro ringgit' Terengganu yang dalam pemilu 1999 berhasil direbut oleh PAS dari tangan Barisan Nasional, kini kembali dimenangkan oleh Barisan Nasional, bahkan dengan sapu bersih. Seluruh 8 kursi untuk jatah Terengganu di parlemen disapu oleh Barisan Nasional. Ini artinya, BN menang di seluruh daerah pemilihan. Padahal dalam Pemilu 1999, seluruh 8 kursi itu direbut oleh PAS. Kemenangan telak BN juga tergambar dari komposisi kursi di Dewan Undangan Negeri (DUN - DPRDnya Terengganu). BN memperoleh 28 dari 32 kursi yang diperebutkan.

Yang belum berhasil direbut oleh BN adalah Negeri Bagian Kelantan. Cik Gu Nik Aziz Nik Mat, pemimpin PAS masih tetap bisa mempertahankan kepemimpin-annya yang telah bertahan selama 14 tahun, namun kemenangan yang diperoleh partainya dari BN kali ini amat sangat tipis. Untuk Anggota DUN misalnya, PAS memperoleh 19 kursi dan BN 18 kursi, hanya terpaut satu kursi saja. Pengamat politik memprediksi akan sulit bagi Cig Gu Nik Aziz untuk melaksanakan pemerin-tahan secara efektif di Kelantan. "Bahkan bila-bila masa kepemimpinan Cig Gu Nik Aziz bisa jatuh bilamana ada anggota parlemen atau anggota DUN yang pindah dari PAS ke BN", begitu komentar seorang kawan dari seberang. Kelantan ke depan agaknya merupakan hari-hari yang sulit bagi Cik Gu Nik Aziz.

Kekalahan teruk juga dialami oleh Partai Keadilan yang dipimpin oleh isteri mantan Wakil PM Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail. Dalam pemilu 1999, sebagai partai baru yang tampil gagah berani dengan mengusung isu sentimen pro-kontra Anwar Ibrahim, mereka mengejutkan BN dengan merebut empat kursi di parlemen. Namun dalam pemilu 2004 ini Partai Keadilan tinggal hanya memperoleh satu kursi, itu pun mereka peroleh dengan bersusah payah.

Agaknya Manifesto BN yang dipimpin oleh Pak Lah, "Tiga Lang", cukup ampuh. Tiga Lang adalah tema kampanye BN yang ingin mewujudkan Malaysia Cemerlang, Gemilang dan Terbilang. Dengan Tiga Lang BN akan membawa Malaysia memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi dan keunggulan kelas dunia. Tiga Lang men-jadi realistis karena BN sesungguhnya telah menun-jukkan prestasinya dengan membawa Malaysia maju beberapa langkah di depan. Mereka telah mampu me-nunjukkan karya nyata.

Pemilihan umum Malaysia yang selalu diseleng-garakan hamper bersamaan dengan pemilu di Indonesia, selalu menarik untuk dicermati. Dari catatan yang ada, semenjak pemilihan umum Malaysia dimulai sejak tahun 1959, BN selalu menang dengan mayoritas kecuali pemilihan umum tahun 1969. Dalam pemilihan umum tahun 1969 itu BN memang tidak berhasil memperoleh mayoritas di parlemen. Kepemimpinan Tunku Abdul Rahman sebagai Presiden UMNO dan sekaligus sebagai PM Malaysia ketika itu berada pada titik yang paling rendah karena dianggap terlalu pro Inggris dan kurang mem-perhatikan kepentingan puak Melayu yang merasa menjadi pemilik sah semenanjung. Tunku dinilai tidak sensitif terhadap penderitaan puak melayu. Namun setelah UMNO dipegang oleh Tun Abdul Razak yang berhasil meletakkan Dasar Ekonomi Baru bagi Malaysia, maka orang Melayu merasa marwahnya dikembalikan dan mandatpun diperoleh kembali oleh UMNO bersama BN-nya dalam pemilihan umum tahun 1974. Semenjak saat itu - kendati sejak pemilu tahun 1990 BN kalah di Kelantan - dominasi BN tidak lagi tergeser, apalagi kemudian Tun Husein Onn penerus Tun Abdul Razak, dan kemudian dilanjutkan oleh Dr Mahathir berhasil memenuhi tuntutan kemajuan dan persatuan dan berhasil membawa Malaysia ke kehidupan modern seperti sekarang.

Ada beberapa hal menarik dari hasil pemilihan umum Malaysia tahun 2004 dan kemenangan telak BN yang dipimpin UMNO (dengan Abdullah Badawi sebagai Presidennya), dibandingkan dengan pemilihan umum tahun 1999, ketika UMNO masih dipimpin oleh Dr Mahathir Mohamad. Di rantau ini, semua orang tahu bagaimana Dr Mahathir membangun Malaysia menjadi sebuah negeri yang maju dan bermarwah. Negeri Barat sama sekali tidak bisa mengacuhkan Dr Mahathir. Ketika krisis ekonomi melanda dunia (tak terkecuali Malaysia), Dr Mahathir memberikan solusi, dia menolak bantuan IMF dan mematok nilai tukar ringgit,. sehingga menutup peluang Soros untuk memperdagangkan mata uang ringgit. Dunia Barat menjadi berang, karena itu dianggap sudah keluar dari kaidah-kaidah pergaulan internasional. Tapi Dr Mahathir bersikukuh dengan kebijakannya bahkan menantang Barat untuk berdebat. Kini semua mengakui, Dr Mahathir adalah solusi untuk mengatasi krisis. Dia berhasil membawa Malaysia menjadi sebuah negeri yang maju.

Namun, agaknya sikap Dr Mahathir yang keras, is dan tidak peniah mau ueilulak angsur dengan kelompok yang mencoba-coba berspekulasi, telah dimanfaatkan oleh kalangan fundamentalis yang dipelopori oleh oposisi untuk mendiskreditkannya. Dr Mahathir dianggap terlalu laju dan dianggap sekuler. Maka kecenderungan yang terjadi menjelang akhir kepemim-pinannya yang brillian, dukungan mulai menyusut dan pemilihan umum tahun 1999 adalah catatan sejarah yang tidak bisa dihapus. BN yang dipimpin oleh Dr Mahathir, bukannya bisa merebut Kelantan dari kepemimpinan PAS, Terengganu pun yang sebelumnya tidak per-nah lepas dari BN, direbut oleh PAS. Ini memang agak aneh. Adakah Terengganu menutup mata terhadap keberhasilan kepemimpinan Dr Mahathir? Dari tereng-ganu pesan itu semakin jelas, Dr Mahathir memang tetap berkibar, tetapi PAS mulai melebarkan sayap. Banyak yang menduga sebelumnya, dalam pemilihan umum Malaysia tahun 2004 ini, di samping dua Negeri Bagian itu (Kelantan dan Terengganu), PAS akan merebut pula Kedah, negeri darimana Dr Mahathir berasal.

Tapi peta politik Malaysia berubah total dengan naiknya Pak Lah menggantikan Dr Mahathir. Pak Lah adalah seorang pemimpin yang low profile, tidak suka menonjolkan diri, dia akomodatif, aspiratif, banyak senyum dan warak - taat beragama. Kalau bertutur bahasanya halus dan tidak konfrontatif. Gayanya memang berbeda dengan Dr Mahathir. Namun rakyat Malaysia umumnya percaya Pak Lah akan mampu membangun kebersamaan dan sinergi, dan bisa melakukan langkah-langkah besar sebagaimana telah ditunjukkan oleh Dr Mahathir untuk memajukan Malaysia.

Pemilihan umum tanggal 21 Maret 2004 telah mem-buktikan, rakyat Malaysia menyukai Pak Lah dengan Barisan Nasionalnya, juga rakyat di Terengganu dan di Kclantar.. Tahniah Pak Lah, Tahniah Malaysia. Syabas!!!

(No. 138 Th III/28 Maret - 03 April 2004}


Tulisan ini sudah di baca 140 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/334-Tiga-Lang-Pak-Lah.html