drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membaca Ombak | Bagian : 2

"Saddam Hussein Naik Haji"


Oleh : drh.chaidir, MM

SETELAH menghilang selama delapan bulan lebih, seakan menggunakan ilmu perabun, Pemim-pin Irak, Saddam Hussein akhirnya tertangkap oleh Pasukan Amerika. Maka jadilah berita penangkapan itu sebagai berita dunia yang paling hangat minggu ini. Ada yang percaya, ada yang tidak terhadap berita itu. Ada yang antusias, ada yang menanggapinya dingin. Ada yang menduga, itu hanya berita rekayasa dari Amerika dan seluruh kerabat kerjanya yang sudah tidak tahan lagi kehilangan muka dan frustrasi menghadapi bom bunuh diri yang setiap saat siap meledak sulit ditebak. Praduga itu agaknya wajar-wajar saja.

Dalam logika akal-akalan, atau sedikit gila-gilaan, dan dari sudut pandang menghalalkan segala macam cara, apa susahnya bagi Amerika yang menguasai teknologi canggih, jaringan informasi, serta media, untuk mengarang berita menjadi kisah nyata. Itu masalah kecil. Pertama, secara fisik memang tidak susah mencari orang yang mirip Saddam Hussein di Irak, baik yang pro Saddam maupun yang kontra. Kedua, kalau pun misalnya wajah "aspal" (asli tapi palsu) itu kurang mirip, maka dengan teknologi komputer wajah bisa direkayasa dan dibangun, sehingga seseorang bisa dibuat laksana kembar siam dengan Saddam.

Bagaimana dengan cerita penangkapan di kampung Saddam, di areal peternakan di luar kota Tikrit, di Irak Utara itu? Yang ini tentu juga bisa diskenario, bukan sesuatu yang sulit untuk dikerjakan, termasuk pembuatan bunker kecil (lubang persembunyian bawah tanah) dan rumah yang difotokan acak-acakan. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan hasil pemeriksaan darah dan uji DNA Saddam?

Secara laboratorium, uji DNA (Deoxyribonucleic acid), suatu molekul protein yang diidentifikasi dari inti sel hidup manusia, memberikan informasi spesifik dan lengkap mengenai genetik seseorang. Memang secara teoritis, uji itu akan menjadi sangat akurat. Rumitnya, otak manusia sudah dijejali dengan prasangka, akibat dari beberapa informasi yang terbukti tidak mengandung kebenaran bahkan cenderung direkayasa. Misalnya tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah massal yang dipergunakan sebagai alasan Amerika dan sekutunya untuk menyerang dan menduduki Irak. Tuduhan senjata pemusnah massal itu, seperti yang diduga banyak pihak sebelumnya, tidak terbukti. Sementara Irak sudah terlanjur hancur lebur dan Presidennya, Saddam Hussein, diburu ke seluruh pelosok Irak. Semula bahkan dituding lari atau dilarikan ke Rusia.

Amerika dan Inggris sempat menuai badai kecam-an dari dalam dan luar negeri atas informasi yang tidak benar mengenai senjata pemusnah massal tersebut, dengan tuduhan pembohongan publik. Di Inggris, beberapa waktu yang lalu misalnya, berujung dengan kema-tian penasehat pertahanannya, ahli senjata Dr David Kelly, yang sebelumnya sempat menjelaskan kebohong-an itu di depan corong BBC. Kematian David Kelly yang membeberkan hasil temuannya sebagai seorang pakar senjata kepada publik, sesungguhnya merupakan sebuah indikasi yang sangat kuat bahwa tuduhan mengenai senjata pemusnah massal itu adalah alasan yang dicari-cari. Namun, walaupun Presiden AS George W Bush dan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengalami krisis yang amat serius akibat kasus tersebut, mereka tetap saja masih di sana dengan kekuasaannya mengatur dunia.

Kelompok simpatisan yang meyakini, penangkapan itu adalah sebuah rekayasa yang sistematis, atau tidak mau percaya dengan berita itu, tetap merasa, Saddam Hussein masih di luar sana. Seorang kawan menelepon saya dari Yogya, "tahun ini Saddam Hussein akan naik haji", katanya mantap dan membuat saya terkesima. "Tahun ini, Saddam Hussein naik haji", katanya mengu-langi, karena khawatir saya salah dengar. Barangkali memang tahun ini akan ada beberapa Saddam yang akan naik haji, entah asli entah tidak, tapi itu tidak lagi menjadi begitu penting.

Taruhlah berita penangkapan itu benar, benang-benang kusut masalah Irak juga belum akan terungkai. Penyerangan dan penaklukan Irak oleh Amerika dan sekutunya, justru ibarat menabur biji bayam, yang tumbuh adalah Saddam-Saddam baru, yang mungkin lebih Saddam daripada Saddam. Biji-biji itu justru memperoleh habitat yang subur dengan pendudukan sekutu di Irak. Indikasinya terlihat betapa korban terus saja berjatuhan di serata Irak. Bom waktu, bom bunuh diri, terus saja berdentam-dentam menggelegar membawa korban anak manusia. Hari ini Amerika, besok Inggris dan besoknya lagi Italia, di samping warga Irak sendiri, baik yang berdosa maupun yang tak ber-dosa. Bom terus menunggu laksana hantu dan siap mencekik serdadu sekutu.

Saddam Hussein yang tertangkap itu, kalaulah benar dia yang aslinya, mengakui tidak pernah memberikan komando apa-apa terhadap aksi-aksi pengeboman terhadap tentara sekutu itu. Melihat ruang geraknya, yang selalu harus bersembunyi dalam bunkernya yang sempit, dan alat komunikasi yang semuanya telah disadap, rasanya memang akan sulit bagi Saddam Hussein untuk mengendalikan perlawanan. Tapi memang sebagai pecundang, apapun tuduhan kepadanya menjadi sah, apapun alasan yang diberikan Saddam, semua akan menjadi salah, walaupun itu barangkali tidak adil. Samalah halnya dengan tuduhan Irak menyimpan senjata pemusnah massal itu. Agaknya sudah ditulis dalam buku nasibnya Saddam, bahwa ia akan berkuasa di negerinya pada suatu masa, dan akan menjadi pecundang di negerinya sendiri pada masa yang lain.

Mungkin benar apa yang dipercayai orang, bahwa perang Amerika-Irak, sesungguhnya bukan persoalan senjata pemusnah massal, atau masalah minyak mentah, atau masalah aksi-aksi teror. Tapi agaknya lebih mengarah pada kehendak hegemoni untuk mempertontonkan power politik sebagaimana dilansir oleh Klaus Knorr dalam Military Power and Potential, bahwa negara maju sering memanifestasikan power politik dalam bentuk kemampuan pemerintah untuk mempengaruhi atau memaksa pemerintah lain untuk menyetujui keinginan politiknya.

Dari manifestasi perkembangan yang terjadi di Negeri 1001 Malam itu, sampai dewasa ini, lebih dari delapan bulan berlalu setelah perang, pembentukan pemerintahan baru di Irak, agaknya bukan merupakan solusi untuk terciptanya kedamaian di kawasan itu dan di kawasan dunia lainnya. Karena, agaknya masalah-nya bukan pada Saddam, bukan pula pada Bush atau Blair, masalahnya adalah apakah mereka dan kita semua tidak bisa memandang orang lain dengan penghor-matan yang lebih besar. Kita juga selalu enggan untuk menyentuh akar permasalahannya, membiarkannya mengambang di udara seperti awan dan tak menyentuh siapa pun. Sampai kapan? Permasalahan demi perma-salahan semakin berkembang rumit. Irak sudah terseret ke wilayah yang tak dikenal, dimana yang tersisa adalah ketakutan dan keresahan. Sementara musuh tidak berada di sana, tapi di sini dalam hati kita masing-masing.

(No. 124/Th III/21 - 27 Desember 2003)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Membaca Ombak

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Membaca-Ombak/333-%22Saddam-Hussein-Naik-Haji%22.html